harapanrakyat.com,- Kepiting tapal kuda, atau horseshoe crab, mendadak menjadi bintang di media sosial, terutama Twitter (X). Terutama, karena darahnya yang unik berwarna biru muda.
Ternyata, hewan ini bukan hanya menjadi fenomena media sosial. Tetapi juga, memiliki nilai jual tinggi, mencapai Rp200 juta per liter.
Namun, di balik keunikan dan viralitasnya, terdapat kebutuhan akan konservasi agar populasi kepiting ini dapat terjaga.
Baca juga: Morfologi Kepiting Bakau, Perbedaan dan Fakta Menariknya
Mengenal Kepiting Tapal Kuda
Kepiting tapal kuda bukanlah hewan baru. Menurut National Wildlife Federation, hewan ini telah ada selama lebih dari 300 juta tahun. Bahkan, lebih tua dari dinosaurus.
Memang, banyak anggapan kepiting ini mirip dengan kepiting prasejarah. Namun ternyata, kepiting ini memiliki kekerabatan yang lebih dekat dengan kalajengking dan laba-laba. Tandanya, tubuh memiliki eksoskeleton keras dan berkaki 10, yang berfungsi untuk berjalan di dasar laut.
Kemudian, pada bagian kepala, yang disebut prosoma, memiliki bentuk bulat dan mirip dengan tapal kuda. Bagian ini merupakan yang terbesar dan berisi sebagian besar organ saraf dan biologis.
Selain itu, kepiting ini memiliki sembilan mata yang tersebar di seluruh tubuh, termasuk dua mata terbesar yang berfungsi sebagai mata majemuk untuk mencari pasangan.
Manfaat Medis Darah Biru
Darah kepiting tapal kuda memiliki warna biru yang unik, berasal dari pigmen pernapasan berbasis tembaga atau hemosianin. Hemosianin inilah yang memberikan darah biru pada kepiting, dan cairan ini memiliki peran penting dalam dunia medis.
Darah biru tersebut sangat berguna dalam pengujian keamanan obat-obatan dan vaksin baru.
Ekstrak dari sel darah kepiting memberikan respons terhadap bahan berbahaya, membantu dalam menilai keamanan sebuah produk untuk kesehatan manusia.
Sejak tahun 1970-an, darah kepiting ini telah menjadi bahan penting dalam uji keamanan produk medis. Harga fantastis darah ini, mencapai Rp200 juta per liter, mencerminkan keunikan dan manfaatnya.
Baca juga: Fakta Unik Kepiting yang Masih Jarang Diketahui, Sangat Menarik
Ancaman Terhadap Populasi
Meskipun darah kepiting tapal kuda diambil dengan prosedur yang umumnya aman, populasi hewan ini menghadapi ancaman serius. Hilangnya habitat dan penangkapan berlebihan menjadi faktor utama yang mengancam kepiting tersebut.
Sehingga, upaya konservasi menjadi sangat penting untuk mencegah penurunan populasi dan pelestarian ekosistem di sekitarnya.
Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), kepiting tapal kuda memiliki peran ekologis sangat penting. Khususnya, sebagai penghasil telur yang memberi makan burung pantai, ikan, dan satwa liar lainnya.
Di sisi lain, cangkang kokohnya juga menjadi lingkungan mikro bagi berbagai spesies lain. Termasuk spons, kepiting bakau, remis, dan siput.
Kajian Ahli
Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, drh Slamet Raharjo, menjelaskan tentang darah biru kepiting unik ini. Menurutnya, darah kepiting ini memiliki kandungan Limulus Amebocyte Lysate (LAL).
Slamet menjelaskan pada hari Minggu (3/3/2024) bahwa pengujian keamanan vaksin baru, termasuk vaksin Covid-19, menggunakan Limulus Amebocyte Lysate (LAL). Darah ini melibatkan amebosit atau LAL yang berfungsi melindungi dari kuman penyebab penyakit.
Sayangnya, pengambilan darah ini tidak tanpa konsekuensi. Penelitian menemukan bahwa sekitar 10-30 persen kepiting tapal kuda mati akibat keperluan biomedis.
Oleh karena itu, sejak tahun 1999, populasi kepiting tapal kuda di Indonesia telah masuk dalam kategori secara kritis terancam punah.
Upaya Konservasi dan Alternatif
Meskipun kepiting tapal kuda di Indonesia dilindungi, tantangan terus muncul. Beberapa penelitian mencoba menciptakan alternatif pengujian yang tidak melibatkan kepiting tapal kuda, mengikuti seruan para pelestari lingkungan.
Namun, industri farmasi mengakui kesulitan menemukan pengganti yang efektif.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) juga menyatakan bahwa mereka belum dapat membuktikan keefektifan pengganti darah kepiting tapal kuda dalam mendeteksi racun.
Oleh karena itu, keseimbangan antara kebutuhan medis dan pelestarian tersebut menjadi perdebatan penting dalam komunitas ilmiah dan lingkungan.
Kepiting tapal kuda, dengan keunikan dan manfaat medisnya, menghadapi tantangan serius terkait dengan kelestarian populasi. Upaya pelestarian dan penelitian lebih lanjut terus diperlukan. Secara khusus, untuk menjaga keseimbangan antara manfaat medis dan keberlanjutan ekosistem. (Feri Kartono/R8/HR Online/Editor Jujang)