Di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, terdapat sebuah situs bersejarah yang bernama Candi Jiwa. Candi tersebut terletak di dua wilayah, yaitu Desa Segaran dan Desa Telagajaya. Lalu, terbagi dalam dua kecamatan, yaitu Kecamatan Batujaya dan Kecamatan Pakisjaya.
Baca Juga: Pantai Tanjung Baru di Karawang, Pesona Bahari yang Elok
Candi Jiwa Karawang dan Sejarahnya
Candi Jiwa, yang juga terkenal sebagai Situs Batujaya 1, menyimpan kisah penting tentang kemajuan peradaban bangsa Indonesia.
Cagar budaya ini diyakini sebagai candi tertua di Indonesia. Perkiraan waktu pembangunannya antara abad ke-6 dan ke-7 Masehi.
Hal ini menunjukkan bahwa kompleks Candi Batujaya memiliki sejarah panjang dan berkaitan dengan Kerajaan Tarumanegara.
Keberadaan Candi Jiwa menjadi bukti bahwa peradaban Indonesia telah berkembang sejak zaman dahulu. Candi ini menjadi saksi bisu perkembangan budaya dan agama tanah air. Selain itu, juga menjadi warisan budaya yang perlu kita lestarikan.
Kompleks Candi Batujaya, yang terdapat Candi Jiwa, merupakan sebuah situs bersejarah luar biasa. Dalam kompleks ini, terdapat 46 titik candi tersebar di area yang luas. Masih ada kemungkinan ada candi-candi baru sekitar kompleks.
Beberapa candi masih terpendam dalam tanah dan menunggu untuk digali.
Meskipun terdapat banyak candi dalam kompleks ini, hanya beberapa yang terkenal dan telah pemerintah pugar. Candi-candi tersebut adalah:
- Candi Batujaya I atau Candi Jiwa
- Candi Batujaya V atau Candi Blandongan
- Lalu, Candi Serut atau Batujaya VII
- Candi Batujaya VIII atau Candi Sumur
Sejarah Penamaan Candi Jiwa yang Penuh Misteri
Candi yang juga terkenal sebagai Candi Batujaya I ini memiliki sejarah penamaan cukup mistis.
Menurut penduduk setempat, dulunya terdapat gundukan tanah yang menutupi candi ini. Ketika kambing-kambing melewati gundukan tersebut, mereka mati tanpa sebab yang jelas. Hal ini membuat masyarakat sekitar percaya bahwa tempat tersebut memiliki “jiwa” yang kuat, sehingga bernama Candi Jiwa.
Baca Juga: Pantai Pelangi Karawang, Dikelilingi Warung-Warung Ikan Bakar
Versi lain menyebutkan bahwa nama “Jiwa” berasal dari kata “Syiwa”, salah satu dewa dalam agama Hindu.
Pengaruh aksen Sunda diduga mengubah penyebutan “Syiwa” menjadi “Jiwa” seiring waktu. Namun, teori ini meragukan karena beberapa penemuan menunjukkan bahwa candi tersebut lebih identik dengan peninggalan agama Buddha.
Hingga saat ini, asal-usul nama Candi Jiwa Karawang masih menjadi misteri. Terlepas dari sejarahnya, tetap menjadi situs bersejarah yang penting dan menarik untuk dipelajari.
Mahakarya Buddha di Atas Bunga Teratai
Candi yang berbentuk persegi dengan arsitektur unik menyerupai bunga teratai ini diperkirakan merupakan peninggalan agama Buddha.
Bangunan candi ini memiliki tinggi 4,7 meter dan diameter 19 meter. Pada bagian tengahnya terdapat bekas bangunan berbentuk lingkaran sebagai tempat patung Buddha.
Candi ini tidak memiliki tangga, menunjukkan bahwa dulunya candi ini mungkin memiliki stupa Buddha pada bagian atas.
Berdasarkan penelitian, candi ini dahulu dikelilingi oleh air, layaknya bunga teratai yang mengapung pada permukaan danau. Hal ini diperkuat dengan nama Desa Segaran, yang dalam bahasa Sansekerta berarti “laut, telaga atau danau”.
Baca Juga: Curug Cigentis Karawang Tawarkan Mata Air Jernih Pegunungan
Candi Jiwa Karawang menjadi bukti mahakarya arsitektur dan spiritualitas Buddha pada masanya. Pemugaran yang terjadi sejak tahun 1997 telah mengembalikan kemegahan candi ini, menjadikannya situs sejarah menarik untuk wisatawan kunjungi. (R10/HR-Online)