Senin, April 7, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah Tradisi Seren Taun, Tradisi Khas Sunda Saat Musim Panen Sarat Nilai...

Sejarah Tradisi Seren Taun, Tradisi Khas Sunda Saat Musim Panen Sarat Nilai Keluhuran

Sejarah tradisi Seren Taun merupakan sebuah tradisi khas Sunda yang dilakukan saat musim panen padi setiap tahunnya. Tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur para petani dan masyarakat karena sudah diberikan hasil panen selama mereka menanam padi.

Namun, di balik tradisi yang unik ini sebenarnya terdapat alasan khusus mengapa tradisi tersebut terus dilestarikan.

Alasan khusus itu biasanya berkaitan erat dengan usaha para petani untuk menjaga hasil panen dan meneruskan nilai-nilai luhur dalam masyarakat.

Menurut catatannya, Seren Taun yang menjadi tradisi khas Sunda ini sudah berlangsung ratusan tahun lamanya, bahkan sejak zaman Kerajaan Pajajaran.

Merangkum dari berbagai sumber, berikut ini ulasan lengkap tentang tradisi Seren Taun ketika musim panen yang sarat akan nilai-nilai keluhuran.

Sejarah Tradisi Seren Taun yang Jadi Tradisi Masyarakat Sunda

Muhammad Arif dalam buku berjudul “Model Kerukunan Antar Umat Beragama pada Masyarakat Multikultural Desa Cigugur”, (2021), Seren Taun berasal dari kata serah, seserahan, atau menyerahkan. Sedangkan “taun” yang berarti tahun.

Jadi Seren Taun merupakan tradisi menyerahkan tahun lalu yang sudah lewat dan menerima tahun baru yang akan datang sebagai penggantinya.

Baca Juga: Leo Andries Lezer, Tentara Belanda Pecinta Budaya Sunda

Pada umumnya masyarakat Sunda memang berprofesi sebagai petani atau peladang. Bagi mereka tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atau segala hasil pertanian dan ladang yang telah mereka terima sepanjang tahun.

Tak hanya itu, pada tradisi ini juga petani berharap agar hasil panen pada tahun selanjutnya bisa semakin meningkat.

Meskipun identik dengan hasil panen padi, namun Seren Taun sendiri dalam prakteknya bisa berupa hasil panen palawija, buah-buahan, umbi-umbian dan hasil bumi lainnya.

Berlangsung Sejak Kerajaan Pajajaran

Menurut tradisinya, kegiatan Seren Taun ini sudah berlangsung secara turun-temurun sejak zaman Kerajaan Pajajaran.

Pada awalnya memang tradisi upacara ini hanya untuk memuliakan Nyi Pohaci Sanghyang Asri, yaitu Dewi Padi menurut kepercayaan Sunda Kuno.

Sejak dulu, masyarakat Sunda Kuno sudah berprofesi sebagai petani dan peladang. Mereka meyakini bahwa Nyi Pohaci Sanghyang Asri merupakan pemberi kesuburan terhadap hasil pertanian mereka.

Nyi Pohaci Sanghyang Asri memiliki pasangan yaitu Kuwera dari Dewa Kemakmuran yang memberikan kemakmuran bagi masyarakat. Dewi Pohaci Sanghyang Asri dan Kuwera memang tidak bisa terpisahkan.

Baca Juga: Sejarah Adzan Pitu, Tradisi Khas di Masjid Kasepuhan Cirebon

Dewi Pohaci Sanghyang Asri identik dengan Pare Ambu atau Padi Ibu. Sedangkan Kuwera identik dengan Pare Abah (Padi Ayah). Keduanya menjadi simbol dari kesuburan dan kemakmuran.

Kala itu masyarakat Sunda kuno rutin melaksanakan Tradisi Seren Taun. Namun, tradisi ini pun sempat berhenti ketika Kerajaan Pajajaran runtuh.

Tradisi Khas Sunda Ketika Musim Panen

Tradisi khas Sunda yang sudah berlangsung secara turun-temurun ini akan dilakukan dengan menyimpan hasil bumi selama satu tahun di lumbung atau Leuit.

Hasil bumi biasanya cukup berlimpah, sehingga membutuhkan setidaknya dua jenis lumbung. Lumbung pertama adalah Leuit indung yang berfungsi untuk menyimpan padi pilihan.

Padi pilihan tersebut terdiri dari pare (padi) ibu. Padi pilihan ini ditutup dengan kain putih. Sedangkan, pare (padi) Bapak yang akan ditutupi dengan kain hitam.

Padi pilihan ini kelak akan mereka gunakan sebagai bibit atau benih ketika musim tanam tiba. Oleh karena itu, padi pilihan ini merupakan padi-padi terbaik.

Lumbung kedua yang adalah lumbung kecil atau Leuit Pangiring (Leuit Leutik) untuk menyimpan padi yang tidak tertampung dalam lumbung utama.

Baca Juga: Keren, Petani di Desa Dadiharja Ciamis Sukses Budidayakan Anggur Impor Simanis Madu

Tradisi Seren Taun Jadi Agenda Rutin di Beberapa Desa

Fatiharifah dalam buku berjudul “100 Tradisi Unik di Indonesia” (2017), beberapa desa yang masih mengadakan tradisi Seren Taun adalah Desa Cigugur (Kuningan), Kasepuhan Banten Kidul (Cisolok). Kemudian, Desa Adat Sindang Barang (Bogor), Desa Kanekes (Lebak), dan Kampung Naga (Tasikmalaya).

Di Cigugur, pelaksanaan tradisi Seren Taun setiap tanggal 22 Rayagung, yaitu bulan terakhir pada sistem penanggalan Sunda. Di daerah ini tradisi Seren Taun diselenggarakan di Pendopo Paseban Tri Panca Tunggal, tempat kediaman dari Pangeran Djatikusumah.

Tradisi Seren Taun masih menjadi agenda rutin, terutama bagi para pemeukan Sunda Wiwitan. Hal ini dapat terlihat dari kehidupan masyarakat Kanekes, Kasepuhan Banten Kidul, dan Cigugur.

Beberapa daerah di Jawa Barat lainnya seperti di Sindang Barang, tradisi Seren Taun biasanya berlangsung dengan iringan doa-doa Islam.

Inti dari tradisi Seren Taun adalah prosesi penyerahan hasil panen atau padi dari masyarakat kepada ketua adat. Hasil bumi yang sudah petani terima kemudian mereka masukan ke dalam Leuit Indung dan Leuit Leutik.

Setelah itu, ketua adat akan memberikan bibit padi kepada para pemimpin desa untuk kemudian menanamnya pada musim panen berikutnya.

Tradisi Seren Taun akan diawali dengan prosesi Ngajak (menyambut atau menjemput padi). Prosesi selanjutnya yaitu dengan menggelar tiga pagelaran kolosal, yaitu tari buyung, angklung baduy, dan angklung buncis.

Baca Juga: Lestarikan Warisan Budaya, Bupati Ciamis Ikuti Tradisi Merlawu di Situs Gandoang

Kesenian-kesenian dalam prosesi ini akan dimainkan oleh beberapa pemeluk agama dan kepercayaan yang ada di Cigugur.

Tahapan akhir dari Ngajayak ini adalah penyerahan hasil panen dari para tokoh kepada masyarakat untuk ditumbuk bersama-sama. Acara ini sendiri biasanya melibatkan ribuan orang masyarakat dari berbagai kalangan.

Sarat akan Nilai-Nilai Keluhuran

Prosesi dalam Seren Taun memang menjadi ajang perayaan dan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa.

Namun, di balik ungkapan rasa syukur ini terdapat nilai-nilai luhur lainnya yang patut kita teladani. Ketika pelaksanaan tradisi Seren Taun, terdapat pula momen yang bernama Rendangan.

Mengutip buku “Interpretasi Atas Orientasi Nilai dalam Kasepuhan Adat Cisungsang” (2016), arti lain dari Rendangan yaitu bertemunya perwakilan masyarakat dengan ketua adat.

Pertemuan ini dalam rangka membahas terkait evaluasi dan perencanaan dalam bidang pertanian. Momen ini tentu tidak hanya sekedar bentuk ungkapan rasa syukur. Tapi juga menjadi sarana dialog antara masyarakat dengan pemimpinnya.

Tak hanya itu, nilai-nilai keluhuran yang ada dalam masyarakat Sunda selama ratusan tahun lamanya. Warisan-warisan ini memerlukan media dan tradisi. Melalui Seren Taun inilah nilai-nilai itu diwariskan.

Tentu saja ini merupakan keunikan lain dari tradisi Seren Taun yang patut menjadi contoh. Apalagi kini banyak tradisi khas daerah-daerah di Indonesia yang mulai menghilang.

Alasannya adalah hilangnya generasi penerusnya. Salah satu sebab dari hilangnya generasi penerus ini akibat dari minimnya pewarisan dari generasi sebelumnya.

Dari sejarah Tradisi Seren Taun ini mengajak kita untuk meneruskan nilai-nilai keluhuran, terutama bagi mereka generasi selanjutnya. (Azi/R3/HR-Online/Editor: Eva)

Arus balik di Jalur Selatan Garut

Arus Balik di Jalur Selatan Garut Minggu Malam Mulai Lancar, Volume Kendaraan Mengarah ke Bandung Berkurang

harapanrakyat.com,- Volume kendaraan arus balik lebaran 2025 yang melintas di jalur selatan Garut, Jawa Barat, pada Minggu (6/4/2025) malam, sudah mulai menurun. Meski masih...
Remaja terseret ombak Pantai Karang Papak Garut

4 Remaja Terseret Ombak Pantai Karang Papak Garut, 1 Orang Tewas 

harapanrakyat.com,- Niat wisata malah jadi malapetaka, empat orang remaja asal Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat terseret ombak pantai Karang Papak Kecamatan Cikelet pada...
Lucky Hakim liburan ke Jepang

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Sindir Lucky Hakim yang Liburan ke Jepang: Bilang Dulu Ya!

harapanrakyat.com,-  Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyentil Bupati Indramayu Lucky Hakim yang liburan ke Jepang saat momen libur lebaran. Tak tanggung-tanggung Dedi Mulyadi mengunggah...
Pemudik arus balik

Potret Lonjakan Pemudik Saat Puncak Arus Balik di Terminal Tipe A Kota Banjar

harapanrakyat.com,- Memasuki H+6 lebaran Idul Fitri 1446 H ratusan pemudik memadati Terminal Tipe A Kota Banjar, Jawa Barat, saat puncak arus balik pemudik pada...
Pasca Banjir, Bupati Sumedang Tinjau Aliran Sungai Cimande Pastikan Jembatan Pangsor Aman

Pasca Banjir, Bupati Sumedang Tinjau Aliran Sungai Cimande Pastikan Jembatan Pangsor Aman

harapanrakyat.com,- Di tengah hujan deras yang mengguyur wilayah Sumedang, Bupati Dony Ahmad Munir turun langsung ke lapangan memantau aliran Sungai Cimande, khususnya di bawah...
Arus Balik Lebaran, Jalur Alternatif Cadas Pangeran Sumedang Jadi Pilihan Pemotor

Arus Balik Lebaran, Jalur Alternatif Cadas Pangeran Sumedang Jadi Pilihan Pemotor

harapanrakyat.com,- Jalur Cadas Pangeran Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, jadi alternatif jalur bagi pemudik motor, yang kembali ke kota asal setelah pulang kampung dari sejumlah...