Jumat, April 4, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah Kretek di Indonesia dan Kisah Haji Djamhari Racik Obat Sesak Napas

Sejarah Kretek di Indonesia dan Kisah Haji Djamhari Racik Obat Sesak Napas

Sejarah awal kretek di Indonesia berawal dari kisah Haji Djamhari yang meracik obat sesak napas. Sejarah Indonesia tentang kretek ini mungkin membuat penasaran pasca populernya serial Gadis Kretek yang tayang di Netflik.

Serial Netflix Gadis Kretek adaptasi dari novel “Gadis Kretek” karya Ratih Kumala ini bercerita tentang perjalanan cinta dan jati diri dari seorang pengrajin kretek berbakat.

Serial yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo ini sendiri mengulas tentang bagaimana tradisi dan sejarah industri rokok kretek di Indonesia yang berkembang pasca kemerdekaan Indonesia.

Menonton serial ini tak afdol jika kita tak mengulas tentang sejarah awal kretek dan perkembangannya di Indonesia.

Sebuah rokok yang diyakini lahir dari tangan terampil Haji Djamhari ini, pada awalnya merupakan sebuah obat yang digunakan untuk mengatasi sesak napas.

Sejarah Awal Kretek di Indonesia

Mengutip buku “Mengulas yang Terbatas, Menafsir yang Silam” (2017), awal mula kemunculan kretek sendiri bermula ketika Haji Djamhari terkena penyakit sesak napas dan tak kunjung sembuh.

Ia telah mencoba berbagai macam obat untuk menyembuhkannya, hingga kemudian ia memiliki ide untuk menggosokkan minyak cengkeh pada bagian dada dan punggungnya.

Usaha Haji Djamhari ini cukup membuat keadaannya membaik. Ia kemudian berpikiran untuk menjadikan rempah-rempah sebagai bahan alternatif obat.

Baca Juga: Sejarah Villa Isola di Kota Bandung, Dibangun Zaman Belanda Kini Jadi Gedung Rektorat UPI

Cara yang Haji Djamhari lakukan ketika itu adalah dengan mencampurkan cengkeh yang sudah halus ke dalam rokok yang ia hisap. Alhasil secara perlahan sakit yang ia derita semakin sembuh.

Penduduk Kudus kala itu mengenal hasil racikan dari Haji Djamhari ini sebagai rokok cengkeh. Namun, ketika rokok itu dihisap maka akan muncul bunyi “kretek-kretek” seperti halnya daun yang dibakar. Sejak saat itulah nama rokok racikannya ini bernama“kretek”.

Menurut catatannya sendiri, awal mulanya pembuatan kretek dalam bentuk yang sederhana dengan cara membungkus racikan tembakau dan cengkeh dengan klobot daun jagung yang sudah kering.

Kretek jenis ini merupakan kretek asli yang pertama kali dirintis oleh Nitisemito pada awal tahun 1909 di daerah Kudus.

Nitisemito sendiri memiliki perusahaan rokok Tjap Bal Tiga yang berkembang cukup besar. Perusahaan ini pertama kali hadir sekitar tahun 1908 di Kudus. Pada tahun 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan mempekerjakan sekitar 15.000 orang.

Perusahaan Nitisemito yang berkembang pesat ini membuatnya terkenal sebagai “Raja Rokok” dan membuat perusahaan rokok lainnya berkembang di Kudus.

Melihat skala produksinya yang besar, tak heran jika industri rokok kretek berkembang pesat di Kudus hingga membuat kota ini mendapatkan julukan “Kota Kretek”.

Perkembangan Industri Kretek

Industri kretek di tanah air memang tak selalu berjalan mulus. Kondisi perpolitikan dan ekonomi membuat industri ini mengalami berbagai dinamika.

Marwati Djoened, dkk, dalam “Sejarah Nasional Indonesia Jilid 5: Zaman Kebangkitan Nasional & Masa Hindia” (2019), perkembangan industri kretek pribumi yang mengalami kemajuan membuat para pengusaha Cina tidak mau ketinggalan dan ikut bagian dalam meraup keuntungan.

Akibatnya munculnya persaingan yang melahirkan konflik. Salah satu konflik tersebut meletus pada tahun 1918 ketika terjadi kerusuhan bernuansa etnis.

Banyak pabrik rokok yang berakhir hancur dan dan rusak karena massa yang marah membakarnya. Pasca kejadian tersebut banyak pengusaha pribumi mendapat hukuman karena menjadi dalang kerusuhan.

Hukuman ini tentu saja memukul perekonomian waktu itu dan berakhir dengan kemunduran industri kretek pribumi.

Di tengah kemunduran industri kretek pribumi, kedudukan industri kretek Cina pun semakin mendominasi.

Baca Juga: Sejarah Awal Perjudian di Indonesia, dari Zaman Belanda hingga Indonesia Merdeka

Setelah tahun 1924, industri kretek terbilang cukup berkembang mencapai daerah-daerah lain seperti, Blitar, Kediri, Tulungagung, dan Malang.

Perkembangan Kretek Pasca Tahun 1928

Pada masa-masa sebelum tahun 1928, industri kretek masih menggunakan klobot jagung sebagai pembungkus, sedangkan pasca tahun tersebut kretek mulai menggunakan kertas.

Perkembangan industri kretek sebenarnya tak hanya dialami oleh pengusaha pribumi dan Cina. Melainkan juga oleh para pengusaha Amerika dan Eropa.

Sekitar awal abad ke-20 para pengusaha Amerika dan Eropa di Hindia Belanda sudah mampu menjual produknya ke luar negeri termasuk Belanda.

Malahan banyak perusahaan krerek patungan berdiri di Hindia Belanda saat itu. Contohnya seperti perusahaan patungan Inggris dan Amerika Serikat di Cirebon yang berdiri pada tahun 1925.

Tak hanya itu tiga tahun kemudian, perusahaan kretek juga berdiri di Surabaya. Dua perusahaan ini menghasilkan tidak kurang dari 7 juta batang kretek.

Perkembangan industri kretek oleh perusahaan Eropa dan Amerika ini sendiri tidak bisa dipisahkan dari pemakaian mesin-mesin produksi baru. Oleh karena itu, mulai muncul istilah seperti SKT atau Sigaret Kretek Tangan yang produksinya menggunakan tangan.

Selain itu, muncul juga istilah SKM atau Sigaret Kretek Mesin yang produknya menggunakan mesin dan SPM atau Sigaret Putih Mesin untuk menyebut sigaret putih.

Sejarah Industri Kretek Pasca Kemerdekaan Indonesia

Pasca kemerdekaan Indonesia, industri kretek terbilang mengalami masa-masa pasang surut. Apalagi setelah konflik masa revolusi fisik yang membuat tahun-tahun awal pasca kemerdekaan menjadi sangat sulit untuk membangun perekonomian.

Selepas pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda barulah sektor perekonomian bisa terangkat kembali. Perusahaan-perusahaan asing mulai dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia, termasuk perusahaan-perusahaan penghasil rokok kretek.

Bedjo Riyanto dalam “Siasat Mengemas Nikmat: Ambiguitas Gaya Hidup dalam Iklan Rokok Di Masa Hindia Belanda sampai Pasca Orde Baru 1925-2000” (2019), Salah satu perusahaan yang sukses pada masa-masa tersebut adalah PT. Djarum Kudus.

Baca Juga: Sejarah Pasar Tanah Abang, Primadona Masyarakat yang Kini Meredup

Perusahaan rokok kretek ini sendiri didirikan oleh Oei Wie Gwan pada tahun 1951 yang pada awalnya merupakan perusahaan rokok kecil NV Murup yang ia beli dari Morc. Sirrod.

Nama Djarum sendiri disesuaikan dengan gambar logo rokok NV Murup yang awalnya bernama Djarum Gramophone. Jenis rokok yang diproduksi waktu itu adalah jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT) dengan merek Djarum, Kotak Ajaib, dan Kembang Tanjung.

Kisah PT Djarum dan Dua Bersaudara Hartono

Kesuksesan Djarum sendiri bermula ketika perusahaan ini mendapat kesempatan untuk menjadi pemasok rokok untuk Dinas Perbekalan Angkatan Darat pada tahun 1955-an.

Selepas itu perusahaan ini pun mulai melakukan ekspansi dengan memperluas target marketnya ke kalangan umum.

Produksi pun semakin meningkat ketika perusahaan menerapkan teknologi mesin pelinting dan pengolahan tembakau modern pada tahun 1967. Selepas meninggalnya Oei Wie Gwan pada tahun 1963, Budi Hartono dan Bambang Hartono memegang perusahaan tersebut.

Di tangan dua bersaudara Hartono inilah PT. Djarum mengalami berbagai inovasi dan pembaruan terutama dalam bidang manajemen.

Pada tahun 1968, Djarum kemudian memperkenalkan mereka baru yaitu Admiral dan VIP Biru, serta pada tahun 1976 perusahaan ini kemudian merilis mereka terkenalnya yang ikonik, yaitu Djarum 76.

Hingga kini bisnis PT. Djarum merupakan salah satu perusahaan rokok yang menguasai pasar. Banyak penggemar produk PT. Djarum yang tak hanya datang dari dalam negeri, melainkan juga luar negeri. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Arus Balik di Jalur Nasional

Arus Balik di Jalur Nasional Jabar-Jateng, Pemudik Dapat Makan Gratis dari Polres Kota Banjar

harapanrakyat.com,- Arus balik di jalur nasional Jabar-Jateng, tepatnya di kawasan tugu Selamat Datang di Kota Banjar, Jawa Barat, sejumlah pemudik mendapatkan makan gratis dari...
Bantuan pembangunan rutilahu

Usai Tinjau Jalan Longsor, Bupati Ciamis Spontan Beri Bantuan Pembangunan 2 Rutilahu

harapanrakyat.com,- Bupati Ciamis Herdiat Sunarya secara spontan memberikan bantuan pembangunan 2 rumah tidak layak huni (rutilahu) di Dusun Sukamaju, Desa Sukajaya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten...
Jalan ambles Ciamis

Tinjau Jalan Terdampak Longsor dan Ambles, Bupati Ciamis: Segera Diperbaiki

harapanrakyat.com,- Bupati Ciamis Herdiat Sunarya meninjau jalan yang terdampak tanah longsor dan ambles di sejumlah titik di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (4/4/2025). Jalan...
Diskon Tarif Tol

Diskon Tarif Tol Arus Balik Lebaran 2025, Ini Jadwal dan Rinciannya!

harapanrakyat.com,- Jasa Marga memberlakukan sejumlah kebijakan untuk mencegah kemacetan saat arus balik Lebaran 2025. Salah satunya menerapkan diskon tarif tol yang berlaku mulai hari...
Jurnalis Bantu Polisi

Aksi Solidaritas Sejumlah Jurnalis TV di Garut, Bantu Polisi Amankan Arus Balik Mudik Lebaran

harapanrakyat.com,- Sejumlah jurnalis televisi di Garut membantu aparat kepolisian yang tengah mengamankan arus lalu lintas di simpang empat Sigobing. Meski di tengah hujan deras,...
Naik Sepeda

Pemudik Asal Kuningan Pilih Naik Sepeda ke Bandung saat Arus Balik Lebaran

harapanrakyat.com,- Di tengah lonjakan kendaraan yang menghiasi arus mudik lebaran, Nurdin Yusuf (31), seorang pria asal Kuningan Jawa Barat, memilih jalur yang berbeda. Ia...