harapanrakyat.com,- Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Banjar, Jawa Barat belum lama ini mengungkap data pertumbuhan ekonomi di Kota Banjar sepanjang tahun 2022 tumbuh di angka 4,19 persen. Kontribusi sektor jasa seperti hotel dan transportasi disebut paling loyo dalam menopang pertumbuhan ekonomi tersebut.
Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Kota Banjar, Buana Surya Kusuma, mengatakan, kondisi ekonomi sekarang ini memang sedang melambat karena menurunnya omzet penjualan.
Menurutnya, melambatnya pertumbuhan ekonomi tersebut tidak hanya terjadi pada sektor jasa seperti hotel dan restoran. Namun juga terjadi pada sektor yang lain seperti perdagangan dan industri.
Kondisi tersebut cukup berdampak pula pada sektor jasa. Belum lagi ditambah dengan sekarang ini yang sudah mulai memasuki tahun politik.
“Kondisi ekonomi sekarang secara global memang sedang menurun dari segi omzet dan itu bukan hanya sektor jasa perhotelan dan restauran saja tetapi juga sektor yang lain,” kata Surya kepada harapanrakyat.com, Rabu (29/11/2023).
“Mengalami penurunan dari segi omzet. Kalau disebut sedang tidak baik baik saja ekonomi saat ini,” ujarnya menambahkan.
Lanjutnya mengatakan, meski kondisi ekonomi sedang melemah, tetapi kondisi tersebut tidak sampai menyebabkan sejumlah usaha sektor jasa yang sudah berjalan mandek.
Ia memprediksi kondisi ekonomi yang melemah akan berlangsung hingga awal tahun 2024 mendatang.
“Mungkin sampai awal-awal tahun 2024. Mudahan-mudahan segera bangkit lagi. Tapi Alhamdulillah nggak sampai ada yang tutup hanya dari omzet saja mengalami penurunan,” katanya.
Baca Juga: Tas dan Boneka Rajut Buatan Warga Kota Banjar Ini Tembus Pasar Ekspor
Target Pertumbuhan Ekonomi Sektor Jasa di Kota Banjar Susah Tercapai 100 Persen
Terpisah, Kepala Bidang Pendapatan BPKPD Kota Banjar, Jodi Kusmajadi, mengungkapkan untuk saat ini sektor jasa terutama restoran dilihat dari target pendapatan daerah memang agak susah tercapai 100 persen.
Menurutnya, faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut karena terimbas adanya refocusing anggaran dari pemerintah.
Hal itu mengingat restoran dan rumah makan selama ini juga menjadi bagian konsumen. Sedangkan pengunjung dari luar belum begitu meningkat
“Jadi itu kalau yang Hotel bisa tercapai tapi kalau pajak restoran mungkin nggak bisa tercapai. Terimbas dari refocusing juga karena selama ini juga kan OPD kadang kegiatan di sana” katanya.
Lanjutnya mengatakan, meski begitu untuk jumlah rumah makan dan cafetaria berdasarkan data pada tahun 2023 jumlahnya bertambah dua unit menjadi 56 unit.
Sedangkan untuk jumlah hotel yang ada di Banjar masih sama dengan tahun sebelumnya yaitu 14 unit hotel.
“Untuk hotel masih tetap ada 14 belum ada penambahan. Kalau warung makan dan cafetaria ada penambahan meningkat pada tahun ini,” katanya. (Muhlisin/R7/HR-Online/Editor-Ndu)