Cara kerja tes DNA seringkali membuat masyarakat awam penasaran. Meski tes DNA sudah menjadi bagian dari ilmu biologi dan kesehatan manusia sejak lama. Namun tetap saja belum banyak yang memahami bagaimana cara kerjanya.
Pada dasarnya, Tes DNA merupakan proses yang berguna untuk menganalisis informasi genetik dalam sel manusia maupun organisme. DNA atau Deoxyribonucleic Acid sendiri adalah molekul utama yang mengkodekan informasi genetik tersebut.
Baca Juga: Kromosom Haploid dan Diploid, Ini Definisi serta Perbedaannya!
Tes DNA membantu mengungkap struktur DNA seseorang. Termasuk gen-gen yang mengandung informasi penting terkait warisan genetik, risiko penyakit turunan, hingga karakteristik masing-masing individu.
Cara Kerja Tes DNA dan Pengaplikasiannya
Banyak masyarakat yang menilai jika tes DNA hanya berguna untuk melihat garis keturunan saja. Padahal, pengaplikasiannya sangatlah luas.
Tes DNA dapat menilai risiko seseorang terhadap penyakit genetik. Sebut saja penyakit jantung, kanker, atau Alzheimer.
Hal ini membantu individu membuat keputusan berdasarkan risiko terkait pola hidup maupun perawatan medis. Selain itu, tes DNA sangat penting dalam bidang forensik. Mereka dapat membantu mengidentifikasi pelaku kejahatan maupun mengklarifikasi hubungan antara bukti fisik dengan tersangka.
Dasar dari tes DNA adalah molekul asam deoksiribonukleat, yang membawa informasi genetik dalam sel-sel tubuh. Struktur dasar DNA merupakan heliks ganda, yang terdiri dari dua rantai berbentuk spiral atau pita.
Setiap pita terdiri dari pasangan basa nitrogen. Misalnya adenin (A) berpasangan dengan timin (T), dan guanin (G) selalu berpasangan dengan sitosin (C). Adapun cara kerja tes DNA adalah sebagai berikut.
1. Pengambilan Sampel
Langkah pertama dari tes DNA adalah pengambilan sampel. Proses pengambilan sampel bisa melalui darah, saliva, rambut, atau bahan genetik lainnya. Setelah mendapatkan sampel, tim penguji kemudian mengekstraksi DNA dari sel-selnya.
2. Tahapan Amplifikasi DNA
Sampel DNA yang tim penguji ekstraksi seringkali dalam jumlah sangat kecil. Karena itu, perlu melakukan amplifikasi atau membuat banyak salinan dari segmen DNA. Reaksi berantai polimerase adalah teknik yang umum untuk menggandakan DNA.
3. Proses Analisis DNA
Setelah mencukupi, cara kerja tes DNA berikutnya yaitu menganalisis pola unik dari urutan basa. Hasil analisis tersebut akan mengungkapkan informasi genetik yang sangat penting. Seperti polimorfisme genetik atau variasi tertentu dalam DNA.
4. Hasil Akhir
Hasil tes DNA kemudian para ahli genetika interpretasikan agar bisa pengguna pahami secara optimal. Informasi ini bermanfaat untuk berbagai kepentingan.
Baca Juga: Perbedaan DNA dan RNA Terkait Informasi Dasar Manusia
Misalnya menentukan kekerabatan, mendeteksi penyakit genetik, atau mengungkap kecocokan DNA dalam investigasi kriminal.
Metode Tes DNA
Dalam dunia kesehatan modern, cara kerja tes DNA semakin berkembang. Hal ini memungkinkan perolehan hasil DNA yang lebih akurat.
Mulai dari tes gen, kromosom, hingga uji protein. Selain ketiga cara dasar di atas, ada beberapa metode populer dalam tes DNA yang meliputi:
1. Tes Prenatal
Cara pertama yaitu dengan tes prenatal yang umumnya dilakukan selama kehamilan. Tujuannya untuk mendeteksi potensi masalah genetik atau kromosom terhadap janin di perut sang ibu. Metode dapat melalui USG maupun tes Non-Invasif (NIPT).
2. Pengujian Diagnostik
Metode diagnostik DNA menjadi langkah berikutnya apabila tes prenatal menunjukkan potensi masalah. Dalam pengujian ini, sampelnya menggunakan janin itu sendiri, yang dapat memberikan informasi lebih akurat. Misalnya mengambil sampel cairan amnion atau menggunakan jaringan plasenta.
3. Pengujian Pembawa
Cara kerja tes DNA berikutnya adalah melalui pengujian pembawa. Tes ini umumnya pasangan lakukan untuk memahami risiko mereka memiliki anak dengan penyakit genetik tertentu. Beberapa tes pembawa melibatkan pengujian DNA pasangan, untuk melihat apakah mereka adalah pembawa gen penyakit serupa.
4. Tes Pra-Implantasi
Selanjutnya ada tes pra-implantasi dalam program fertilisasi in vitro (IVF) untuk memilih embrio sehat sebelum implantasi. Langkah ini membantu mencegah penurunan kehamilan akibat kelainan genetik.
5. Skrining Bayi Baru Lahir
Terakhir yaitu skrining bayi baru lahir yang berlangsung setelah kelahiran. Salah satu uji skrining yang paling umum adalah tes cacat bawaan. Dengan tujuan menguji sampel darah bayi untuk masalah seperti fenilketonuria (PKU) dan hipotiroidisme.
Baca Juga: Tahapan Sintesis Protein Berperan Penting sebagai Pondasi Tubuh
Demikianlah ulasan tentang cara kerja tes DNA melalui serangkaian proses. Mulai dari pengambilan sampel hingga analisis hasil. Ini menjadi alat efektif untuk memahami informasi genetik maupun membantu dalam banyak bidang. Penting untuk menggunakan hasil tes DNA secara bijak serta senantiasa menjaga privasi di dalamnya. (R10/HR-Online)