harapanrakyat.com,- Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) dikenal juga dengan Distan (Dinas Pertanian) Kota Banjar, Jawa Barat, merespon soal rendahnya realisasi pendapatan asli daerah (PAD) yang baru mencapai 7,90 persen dari target yang dibebankan.
Diketahui jelang akhir tahun 2023, nilai realisasi PAD sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) masih jauh dari target. Bahkan baru sekitar 7,90 persen.
Kepala DKP3 Kota Banjar Yoyon Cuhyon, mengatakan, tidak tercapainya target PAD tersebut karena pada perubahan APBD tahun 2023 tidak ada anggaran produksi untuk Balai Benih Padi dan Balai Benih Ikan (BBI).
Tidak adanya anggaran tersebut karena anggaran yang ada terkena refocusing. Akibatnya proses produksi di sektor balai benih padi dan balai benih ikan menjadi tidak berjalan dan tidak bisa menghasilkan PAD.
Adapun pendapatan asli daerah (PAD) Distan Kota Banjar selama ini hanya bersumber dari tiga sektor. Pertama, dari produksi benih padi. Kedua, balai benih ikan dan ketiga, retribusi rumah pemotongan hewan (RPH).
Baca Juga: Realisasi PAD Kota Banjar Baru Capai 65 Persen, Distan Paling Jeblok
“Anggarannya kan direfocusing. Kemarin yang di perubahan diambil, dikembalikan ke kas daerah sehingga belanjanya di nol-kan,” kata Yoyon kepada harapanrakyat.com, Selasa (14/11/2023).
“Jadi kita nggak ada buat produksi benih padi dan benih ikan sehingga tidak ada PAD dari sektor tersebut,” katanya menambahkan.
Lanjutnya menjelaskan, memang pada saat APBD murni anggaran untuk produksi dua sektor tersebut sudah dialokasikan. Namun belum sempat realisasi, kemudian terkena refocusing.
Realisasi PAD Distan Kota Banjar Hanya Andalkan RPH
Sehingga untuk PAD tahun ini pihaknya hanya mengandalkan dari sektor retribusi rumah pemotongan hewan atau RPH. Adapun untuk retribusi sektor ini sudah terealisasi sekitar 80 persen.
“Untuk retribusi rumah pemotongan hewan ini kita masih jalan. Target kita tahun ini Rp 46,2 juta. Sampai sekarang sudah terealisasi sekitar 80 persen,” katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, dengan kondisi tersebut untuk tahun depan pihaknya akan mengkonsep balai benih padi dan balai benih ikan sehingga tidak menjadi sektor penghasil PAD.
Menurutnya menjadi beban juga ketika harus ada target pendapatan daerah yang masuk dari kedua sektor tersebut. Namun, di sisi yang lain harus ada juga anggaran yang dialokasikan ke sektor tersebut.
“Makanya untuk tahun depan kita mengkonsep optimalisasi balai benih padi itu menjadi tidak ada PAD. Cuma kita memberikan benihnya langsung gratis ke masyarakat,” katanya.
Baca Juga: Situs Sumur Dalapan di Kota Banjar Kerap Dikunjungi Buat Ritual
“Soalnya membebani juga ada PAD tapi harus ada anggarannya juga jadi ya mending nanti istilahnya hanya mengolah sawah untuk ongkos produksinya saja terus hasilnya dikasihkan ke masyarakat,” katanya menambahkan.
Seperti Distan, Realisasi PAD Disporapar Kota Banjar Belum Capai Target
Terpisah, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Banjar, Dedi Suardi mengatakan, untuk realisasi PAD saat ini baru tercapai 27 persen. Hal itu karena target PAD yang dibebankan tahun ini terlalu tinggi yaitu Rp 300 juta.
Sementara sektor pendapatan yang menjadi sumber PAD saat ini hanya mengandalkan dari sewa lapangan sepak bola Stadion Gelora Banjar Patroman dan sewa Gedung multifungsi GBP.
Pihak Disporapar, lanjutnya, sebetulnya mengajukan target pendapatan pada tahun 2023 itu sebesar Rp 100 juta dengan pertimbangan pada tahun 2022 targetnya hanya Rp 50 juta.
“Targetnya terlalu tinggi sementara kita hanya mengandalkan yang mau sewa. Nanti untuk tahun depan kita akan menurunkan target besaran PAD-nya,” katanya. (Muhlisin/R7/HR-Online/Editor-Ndu)