Jumat, April 4, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah Hari Kesaktian Pancasila, Peringatan Peristiwa G30S yang Penuh Kontroversi

Sejarah Hari Kesaktian Pancasila, Peringatan Peristiwa G30S yang Penuh Kontroversi

Sejarah Hari Kesaktian Pancasila dilatarbelakangi peristiwa G30S yang terjadi pada 30 September 1965. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari sejarah PKI di Indonesia. Hari Kesaktian Pancasila sendiri diperingati setiap tanggal 1 Oktober.

Hari peringatan ini sendiri ditetapkan langsung oleh Soeharto yang waktu itu menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia yang kedua.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila dilakukan dengan menaikkan bendera setengah tiang. Hal ini memiliki filosofis sebagai hari duka nasional mengenang para jenderal yang menjadi korban dalam peristiwa kudeta tersebut.      

Namun, dibalik penetapan Hari Kesaktian Pancasila ini penuh dengan kontroversi, seperti kesan politis pada penetapan peristiwa tersebut.

Sehingga peringatannya cenderung bersifat seremonial dan tidak ada kaitannya dengan kesaktian dari Pancasila.

Baca Juga: Wikana Pejuang Kemerdekaan asal Sumedang Hilang Pasca G30S 1965, Pernah Jadi Ketua PKI di Jabar

Sejarah Hari Kesaktian Pancasila yang Berbeda dengan Hari Lahir Pancasila

Hari kesaktian Pancasila seringkali dikaitkan dengan Hari Kelahiran Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni. Padahal kedua peringatan tersebut sangatlah berbeda, baik dari sisi sejarah maupun maknanya.

Dhianita Kusuma Pertiwi dalam buku Mengenal Orde Baru (2021), tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila oleh Pejabat Presiden Jenderal Soeharto dengan ditandatanganinya Surat Keputusan Presiden No. 152 tahun 1967.

Keppres tersebut mengatur bahwa setiap tanggal 1 Oktober jajaran Angkatan Bersenjata dengan mengajak masyarakat untuk memperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila..

Keppres tersebut memang hanya mengharuskan bagi angkatan bersenjata untuk memperingatinya sebagai hari yang sakral. Namun, dalam perkembangannya selama masa Orde Baru, masyarakat pun turut diwajibkan terlibat dalam momen tersebut.

Momen peringatan kesaktian Pancasila sendiri diperingati selama dua hari, yaitu pada tanggal 30 September dan 1 Oktober yang kemudian menjadi catatan sejarah.

Pada tanggal 30 September masyarakat diwajibkan untuk memasang bendera setengah tiang sebagai bentuk penghormatan para pahlawan yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI.

Kemudian pada hari yang kedua, yaitu tanggal 1 Oktober bendera akan dinaikkan sampai ke puncak tiang sebagai simbol bahwa Orde Baru sudah berhasil menghancurkan gerakan Komunisme dan mempertahankan Kesaktian Pancasila.

Baca Juga: Kisah Tentara Dituduh Terlibat G30S, Jadi Ketua RT Para Tapol di Penjara

Tradisi lainnya dalam momentum peringatan ini adalah ketika Upacara Hari Peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap pembina yang menyampaikan amanat harus menyelipkan kisah sejarah Gerakan 30 September dan perjuangan pemberantasannya.

Menurut beberapa pihak pada momentum inilah doktrin-doktrin Orde Baru masuk dengan cara menyampaikan narasi-narasi sejarah yang sesuai dengan pandangan Orde Baru.

Sejarah Hari Kesaktian Pancasila juga dianggap sebagai momentum untuk memperkokoh kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bernegara sesuai dengan versi Orde Baru.

Peringatan Peristiwa G30S

Peristiwa G30S atau Gerakan 30 September merupakan upaya kudeta yang dilakukan oleh segerombolan pasukan yang diduga berasal dari Resimen Cakrabirawa dan dipimpin Letkol Untung.

Letkol Untung sendiri diduga menjadi salah satu pihak yang ikut merencanakan aksi penculikan terhadap para jenderal.

Resimen Cakrabirawa dan Letkol Untung yang terlibat dalam peristiwa itu diduga kuat berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.

Resimen Cakrabirawa sendiri sebenarnya merupakan pasukan khusus pengawal presiden yang bertugas untuk menjaga keselamatan presiden.

Petrik Matanasi dalam buku Untung Cakrabirawa dan G30S (2011), Personel Cakrabirawa diambil dari pasukan-pasukan yang terlatih dengan baik dari keempat angkatan:, KKO (AL), PGT (AURI), Brimob (Kepolisian), dan Batalyon Raider (AD).Peringatan yang Penuh Kontroversi.

Komposisi pasukan-pasukan terbaik dari setiap angkatan kecuali angkatan darat inilah yang membuat Resimen Cakrabirawa menjadi sangat spesial dan terkenal sebagai pasukan elit yang berwibawa.

Aksi penculikan yang dilakukan itu sendiri didasarkan dari isu Dewan Jenderal yang diduga terdiri dari beberapa petinggi Angkatan Darat yang akan merebut kekuasaan dari Presiden Soekarno. Mengingat pada waktu itu kesehatan Presiden Soekarno sedang turun-turunnya.

Mengutip buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid 6 (1990), pasukan ini mulai bergerak pada dini hari 1 Oktober 1965, didahului dengan gerakan penculikan dan pembunuhan terhadap enam perwira tinggi dan seorang perwira pertama Angkatan Darat.

Semua korban itu dibawa ke Lubang Buaya yang terletak di sebelah Selatan Pangkalan Udara Utama Halim Perdanakusuma. Diduga mereka disiksa dan akhirnya dibunuh lalu dimasukkan ke dalam sumur tua dan kemudian ditimbun dengan tanah.

Daftar Korban G30S/PKI

Beberapa orang yang menjadi korban dalam peristiwa G30S/PKI yang tak terpisahkan dari sejarah Hari Kesaktian Pancasila antara lain:

1. Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani yang menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad)

2. Mayor Jenderal R Suprapto, menjabat sebagai Deuty II Pangad

3. Mayor Jenderal MT Haryono, menjabat sebagai Deputy III Pangat

4. Mayor Jenderal Siswondo Parman, menjabat sebagai Asisten I Pangad

5. Brigadir Jenderal D I Panjaitan, menjabat sebagai Asisten IV Pangad

6. Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, menjabat sebagai Inspektur Kehakiman/Oditu Jenderal Angkatan Darat

7.  Lettu Pierre Andreas Tendean sebagai Ajudan AH. Nasution.

Aksi penculikan ini sebenarnya tidak sepenuhnya berhasil, karena AH. Nasution yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Menko Hankam/Kasab) berhasil selamat.

Namun, dalam aksi penculikan tersebut Pierre Andreas Tendean harus gugur, dan diketahui pula anak AH. Nasution yang bernama Irma Nasution menjadi salah satu korban yang terkena tembakan.

Peristiwa inilah yang melatarbelakangi munculnya peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang terus diperingati hingga hari ini.

Peringatan yang Penuh Kontroversi

Sejarah peringatan Hari Kesaktian Pancasila sebenarnya cukup menimbulkan banyak kontroversi. Beberapa pihak menilai bahwa tidak ada relevansinya antara Peristiwa Gerakan 30 September atau G30S dengan Kesaktian Pancasila.

Hari Kesaktian Pancasila dianggap sebagai bentuk momentum pemerintah waktu itu dalam mengaitkan antara perusakan atas Pancasila yang dilakukan oleh PKI dan Orde menjadi pihak yang berhasil memberantas dengan kekuatannya.

Orde Baru juga dianggap berhasil menghidupkan kembali nyala kesaktian Pancasila dengan memberangus musuh utama Indonesia, yaitu Komunisme.

Dalih-dalih ini diperuntukkan demi kepentingan dan kelanggengan kekuasaan dari Orde Baru saat itu. Sehingga Hari Kesaktian Pancasila sangat terkesan politis.

Baca Juga: Pengkhianatan G30S/PKI, Mao Zedong Pemimpin RRT Terlibat?

Asvi Warman Adam dalam buku Menguak Misteri Sejarah (2010), mengatakan, orang mempertanyakan apa hubungan tewasnya beberapa orang Jenderal dengan Kesaktian Pancasila? Gerakan 30 September merupakan upaya perebutan kekuasaan, tidak ada kaitannya dengan kehebatan Pancasila.

Aksi itu gagal karena kecerobohan pelakunya dalam merancang strategi militer dan menerapkannya di lapangan.

Sementara itu, kalau ingin menekankan pentingnya Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa, seyogianya hal itu diperingati pada tanggal 1 Juni.

Fakta inilah yang seringkali menimbulkan perdebatan apakah tanggal 1 Oktober ini masih harus diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Apalagi mengingat penetapan hari kesaktian ini memang penuh dengan alasan politis.

Padahal di era hari ini kita sudah seharusnya melepaskan berbagai atribut-atribut dan simbol-simbol Orde Baru yang cenderung digunakan untuk mendoktrin.

Terlepas dari berbagai kontroversinya hari kesaktian ini, tragedi berdarah yang terjadi pada tanggal 30 September 1965 ini merupakan salah satu kejadian yang memberikan dampak yang luar biasa.

Pasalnya pasca gerakan tersebut gagal, berbagai aksi pembunuhan terjadi terhadap mereka yang menjadi anggota PKI dan terduga PKI di berbagai daerah. (Azi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Banjir Lumpur Terjang Pemukiman Warga di Sumedang

Banjir Lumpur Terjang Pemukiman Warga di Sumedang, 22 Rumah Terdampak

harapanrakyat.com,- Hujan deras yang mengguyur wilayah Sumedang, Jawa Barat, pada Kamis (3/4/2025) petang kemarin, memicu terjadinya banjir lumpur. Bencana alam tersebut melanda pemukiman warga...
Tim SAR Temukan Wisatawan Asal Garut Terseret Arus di Pantai Pangandaran

Tim SAR Temukan Wisatawan Asal Garut Terseret Arus di Pantai Pangandaran, Ini Kondisinya

harapanrakyat.com,- Tim SAR akhirnya menemukan wisatawan asal Kabupaten Garut yang hilang terseret arus Pantai Pangandaran, Jawa Barat, Jumat (4/4/2025). Setelah dilakukan pencarian dalam kurun...
Nadin Amizah Tuai Hujatan Pasca Akui Menyesal Ikut Ajang Pencarian Bakat

Nadin Amizah Tuai Hujatan Pasca Akui Menyesal Ikut Ajang Pencarian Bakat

Nadin Amizah tuai hujatan pedas dari warganet. Ini merupakan buntut panjang pasca pengakuan Nadin yang menegaskan jika ia menyesal pernah ikut ajang pencarian bakat...
Penampakan Kepadatan Arus Balik Lebaran di Jalur Selatan Garut Hari Ini

Penampakan Kepadatan Arus Balik Lebaran di Jalur Selatan Garut Hari Ini

harapanrakyat.com,- Kepadatan arus balik lebaran di jalur selatan Garut, Jawa Barat, kembali terlihat pada Jumat (4/4/2025) pagi ini. Arus balik kendaraan dari arah Tasikmalaya,...
Aktor Senior Ray Sahetapy Meninggal Dunia Diusia 68 Tahun

Aktor Senior Ray Sahetapy Meninggal Dunia Diusia 68 Tahun

Dunia hiburan tanah air kembali berduka, aktor senior Ray Sahetapy meninggal dunia pada usia 68 tahun. Artis Indonesia legendaris ini, menghembuskan nafas terakhirnya pada...
Pria Disabilitas Asal Grobogan

Pria Disabilitas Asal Grobogan Jadi Korban Curas di Sumedang, Polisi Buru Pelaku

harapanrakyat.com,- Seorang pria disabilitas asal Grobogan, Jawa Tengah, menjadi korban pencurian dengan kekerasan (curas) di Jalan Raya Sumedang-Subang. Tepatnya di Dusun Sela Awi, Desa...