harapanrakyat.com,- Sejarah Keraton Kanoman Cirebon merupakan salah satu sejarah yang menarik untuk diulas. Selain sarat akan nilai-nilai filosofis, keraton ini juga banyak mendapatkan pengaruh asing, terutama dari sisi arsitektur bangunan.
Meskipun berdiri sejak abad ke-16 silam, bangunan keraton tersebut masih tetap berdiri kokoh hingga hari ini, dan menjadi salah satu peninggalan bersejarah di Kota Cirebon, Jawa Barat.
Keraton Kanoman juga merupakan simbol kekuasaan dari seorang raja yang berkuasa kala itu. Pengaturan tata letak bangunan yang sedemikian rupa memberikan gambaran filosofis pada bangunannya.
Wilayah Cirebon sendiri menjadi salah satu tempat persebaran agama Islam dan pengaruh-pengaruh asing lainnya.
Merangkum dari berbagai sumber, tulisan ini akan mengulas tentang sejarah Keraton Kanoman yang sarat akan nilai-nilai filosofis dan pengaruh asing.
Awal Sejarah Keraton Kanoman Cirebon
Keraton Kanoman Cirebon didirikan pertama kali oleh Pangeran Kertawijaya atau Pangeran Mohamad Badridin.
Mengutip sebuah buku yang berjudul “Menguak Sosok Mitologis di Keraton Kanoman Cirebon dan Keraton Yogyakarta” (2021), bahwa Keraton Kanoman berdiri pada tahun 1588. Namun, ketika itu masih berstatus sebagai bagian dari Kesultanan Cirebon.
Baca Juga: Sejarah Gedung Bank Indonesia Cirebon, Dirancang Biro Arsitek Terkenal Zaman Belanda
Pangeran Mohamad Badridin yang bergelar Sultan Anom I ini membangun Keraton Kanoman di bekas rumah Pangeran Cakrabuana.
Menurut sejarahnya, Keraton Kanoman merupakan salah satu komplek tertua yang ada di Cirebon. Hal ini terbukti dengan adanya rumah Pangeran Walangsungsang yang berdiri pada tahun 1428.
Jika melihat dari sisi administratifnya, Keraton Kanoman ini terletak di Kelurahan Lemahwungkuk, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.
Selain itu, awal sejarah Keraton Kanoman Cirebon bahwa pada tahun 1430 di kompleks ini juga dibangun Dalem Agung pada bagian Timur Keraton Pakungwati.
Bangunan Keraton Kanoman menghadap Utara dan membujur ke Selatan. Pada bagian Utara keraton terdapat alun-alun dan pasar. Pada bagian Barat Laut terdapat bangunan Masjid Keraton Kanoman.
Tak hanya itu, pada bagian Selatan dan Timur berbatasan langsung dengan Sekolah Taman Siswa dan tempat tinggal penduduk.
Sultan Anom I Keturunan Sunan Gunung Jati
Dalam sejarah Keraton Kanoman Cirebon, melihat dari silsilahnya Sultan Anom I ini merupakan keturunan ketujuh dari Sunan Gunung Jati.
Baca Juga: Dominasi Sayap Kiri dalam Militer, Penyebab Lahirnya DI/TII di Jawa Barat?
Namun, jika melihat dari segi pemerintahannya di Keraton Kanoman, Sultan Anom I ini merupakan sultan pertama.
Pasca meninggalkan Sultan Anom I kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Pangeran Mandurareja yang bergelar Sultan Anom II.
Tetapi, jabatan Sultan Anom II ini hanya berlangsung selama tiga tahun dan kemudian digantikan oleh anaknya yang berusia 12 tahun.
Nilai-nilai Filosofis Keraton Kanoman
Berdasarkan sejarah Keraton Kanoman Cirebon, keraton ini sebenarnya terdiri dari benteng keraton yang mengelilingi komplek keraton tersebut dengan alun-alun.
Di bagian alun-alunnya terdapat pohon beringin dan bagian Barat terdapat masjid. Konsep ini sebenarnya sebuah konsep yang lazim digunakan pada keraton di Pulau Jawa.
Bukan hanya keraton di Jawa Barat, namun juga kawasan seperti Jawa Tengah hingga Yogyakarta. Perbedaannya biasanya terletak dari penggunaan istilah untuk menyebutkannya.
Konsepan ini lebih dikenal dengan sebutan Kuthagara. Yang mana dalam sebuah pembangunannya harus ada empat elemen yang terdiri dari keraton, masjid, pasar, dan alun-alun.
Baca Juga: Kucing Gli di Hagia Sophia Turki jadi Favorit Wisatawan, Ini Sejarahnya!
Di Khutagara ini sultan menempati pusat keraton bersama Patih Jero yang bertanggung jawab terhadap keamanan dan perbendaharaan keraton. Selain itu, terdapat Patih Jawi yang bertugas dalam urusan jalannya pemerintahan.
Alun-alun berfungsi sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan, seperti apel besar. Sedangkan, pohon beringin yang ada di alun-alun biasanya melabangkan keteduhan dan sikap pengayoman dari sultan.
Tak hanya itu, untuk mendukung kegiatan masyarakat, pada area sekitar keraton selalu tersedia pasar. Pasar Kanoman sendiri menempati kawasan Keraton Kanoman sekitar tahun 1985.
Terdapat anggapan jika membangun pasar dekat dengan keraton, maka Pasar Kanoman mendapatkan keberkahannya.
Masjid Agung Kanoman
Untuk menampung kegiatan orang-orang Islam dan kegiatan syiarnya maka berdirilah bangunan Masjid Agung Kanoman.
Dalam sejarah Keraton Kanoman Cirebon bahwa bangunan masjid ini menghadap ke Timur, beratap tumpang, dan berdenah bujur sangkar. Masjid Agung Kanoman sebagai sarana ibadah hingga sekarang.
Pada bagian puncaknya terdapat mamolo yang melambangkan simbol dari Hindu ke Islam. Bukan cuma sebagai sarana ibadah, di masjid ini juga diselenggarakan Pelal besar, tawasulan, dan marhaban.
Baca Juga: Sejarah Gedung British American Tobacco, Bangunan Khas Eropa di Cirebon
Rohmat Kurnia dalam buku berjudul “Tempat dan Peristiwa Sejarah: di Jawa Barat” (2009), menjelaskan, kompleks keraton ini juga menyimpan beberapa benda yang pernah Sunan Gunung Jati miliki.
Benda-benda itu seperti Paksi Naga Liman, yaitu semacam kereta kuda yang konon terinspirasi dari gambaran buraq yang ditunggangi Nabi Muhammad SAW saat Isra Mi’raj.
Pengaruh Islam pada Bangunan Keraton Kanoman
Ahmad Yadi dalam buku berjudul “Pengaruh Islam terhadap Makna Simbolik Budaya Keraton-Keraton Cirebon” (2011), dalam sejarah Keraton Kanoman Cirebon, salah satu pengaruh Islam yang nampak jelas pada bangunan Keraton Kanoman adalah bagian gerbang-gerbang di kawasan Keraton Kanoman.
Gerbang-gerbang tersebut memiliki nama-nama dengan ciri khas Islam. Contohnya seperti nama gerbang yang menghadap Utara, yaitu Gerbang Syahadatain. Bangunan Gerbang Syahadatain ini bergaya arsitektur Cina yang sangat kental.
Kemudian, gerbang yang menghadap ke Barat bernama Gerbang Kiblat. Sedangkan, gerbang yang menghadap ke arah Selatan bernama Gerbang Sholawat.
Gerbang Kiblat pada Keraton Kanoman sendiri sebenarnya tak hanya mendapatkan pengaruh dari Hindu. Hal ini terbukti dari bentuk gerbang yang bermodel candi bentar.
Pada bangunan gerbang itu juga terdapat hiasan porselin Cina. Bentuk candi bentar itu berupa bangunan gapura dengan dua bangunan serupa. Pada bagian kedua sisi candi tidak memiliki penghubung dan terpisah secara sempurna.
Bangunan jenis ini terkenal dengan sebutan Gerbang Terbelah. Karena bentuknya memang seperti candi yang terbelah dua.
Bangunan tersebut memang merupakan pengaruh dari masa Majapahit. Pengaruh zaman Majapahit juga banyak terlihat di Jawa Tengah hingga Yogyakarta.
Gerbang lain yang juga kental dengan pengaruh asing adalah Gerbang Sholawat. Bangunan gerbang ini sama dengan Gerbang Kiblat. Hanya yang membedakannya adalah ukurannya yang lebih kecil dari Gerbang Kiblat. (Azi/R3/HR-Online/Editor: Eva)