Jika Anda pernah bertamasya ke Museum Nasional Jakarta, maka Anda akan menemukan patung gajah di pelataran depan museum.
Patung yang terbuat dari perunggu tersebut konon merupakan hadiah Raja Siam dari Thailand. Ia menghadiahkan patung gajah sebagai simbol kesetiaan dan pengetahuan dalam kepercayaan umat Hindu.
Raja Siam menyerahkan patung gajah kepada pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1871. Selain menjadi simbol kesetiaan dan pengetahuan, patung gajah juga bermakna persahabatan antara Hindia Belanda dengan kerajaan Chulalongkorn di Thailand.
Kendati demikian belakangan baru diketahui ternyata patung tersebut bermakna kontradiksi. Kok bisa, kenapa? Rupanya kehadiran patung gajah di Museum Nasional Jakarta juga pernah memicu kontroversi.
Baca Juga: Sejarah Museum Fatahillah, Eks Balai Kota Batavia
Sejumlah pengamat sejarah mengatakan pemberian patung gajah oleh Raja Siam tak sebanding dengan pengiriman cinderamata pemerintah Hindia Belanda ke Thailand.
Konon Raja Siam berhasil mengantongi sejumlah benda bersejarah di Indonesia melalui pemerintah kolonial. Mereka menghadiahi Raja Chulalongkorn dengan artefak penting dari beberapa situs candi di pulau Jawa.
Patung Gajah di Museum Nasional Jakarta, Hadiah Balas Budi Kerajaan Chulalongkorn Kepada Pemerintah Hindia Belanda
Mengutip akun instagram @old_indonesia, patung gajah yang terdapat di Museum Nasional Jakarta, berasal dari hadiah balas budi Raja Siam untuk pemerintah Hindia Belanda tahun 1871.
Kok bisa Raja Siam memberi hadiah balasan untuk pemerintah Hindia Belanda, emang pemerintah Hindia Belanda pernah memberi apa pada mereka?
Pemberian patung gajah yang sekarang ada di Museum Nasional Jakarta tak lepas dari peristiwa tiga kali kedatangan Raja Chulalongkorn di Thailand ke Hindia Belanda.
Kedatangan rombongan Chulalongkorn ini bertujuan untuk membangun simbol persahabatan antara Thailand dengan Hindia Belanda menjelang awal abad ke-20.
Di sela kunjungannya ke Hindia Belanda, Raja Siam tertarik dengan benda-benda bersejarah yang ada di sejumlah candi.
Raja Siam tersebut rupanya menyukai relief dan arca yang ada di komplek candi Borobudur, Prambanan dan Singosari, Malang, Jawa Timur.
Singkat cerita Raja Siam sangat tertarik dengan benda-benda di atas dan ingin membawa benda kuno tersebut pulang ke negerinya.
Karena Raja Siam adalah tamu penting kerajaan Belanda, maka pemerintah kolonial mengabulkan permintaan tersebut.
Baca Juga: Sejarah Jamban di Batavia, Orang Belanda Mandi di Kali Ciliwung
Raja Siam berhasil mengangkut 30 relief, 5 arca Budha, dan 2 Arca Singa dari Borobudur ke Thailand.
Tak hanya itu, berita baru-baru ini mengabarkan, Kala Makara, Arca Dwarapala (Borobudur), Arca Ganesha (Singosari, Malang), Arca Agastya dan Brahma, serta Relief Apsara (Prambanan) yang ikut terbawa ke kerajaan Chulalongkorn.
Akibat peristiwa ini bangsa kita telah kehilangan sejumlah benda bersejarahnya. Rasanya tidak seimbang jika benda-benda bersejarah tadi hanya ditukar dengan patung gajah yang terbuat dari perunggu.
Tapi mau bagaimana lagi, pemerintah Hindia Belanda saat itu menerima hadiah pemberian Raja Siam dengan senang hati.
Entah apa pertimbangan mereka saat itu untuk menukar patung gajah dengan sejumlah artefak bersejarah.
Sejumlah Arca dan Relief dari Borobudur Berada di Bangkok, Thailand
Akibat peristiwa ini, juga terdapat sejumlah arca dan relief dari candi Borobudur sekarang berada di Bangkok, Thailand.
Baca Juga: Sejarah Sistem Pertahanan Batavia, Ada Jembatan Kayu dengan Meriam
Sejumlah material culture bangsa Indonesia yang ada di Thailand kini berada di Kuil Wat Pra Kiew, dan Museum Nasional Bangkok.
Orang-orang Thailand telah mengakuisisi benda budaya tersebut sebagai bagian dari peninggalan leluhurnya. Padahal benda-benda ini berasal dari peninggalan nenek moyang orang Indonesia.
Keadaan yang kontradiksi ini membuat bangsa kita jadi apatis dengan budayanya. Apalagi saat ini tengah digempur habis-habisan oleh budaya populer yang kemajuannya begitu pesat.
Setelah pemulangan benda-benda bersejarah dari Belanda ke Indonesia, apakah akan diikuti oleh pemerintah Thailand memulangkan benda-benda bersejarah bangsa Indonesia di hari mendatang? Ataukah saat ini pemerintah Indonesia sedang mengadakan program repatriasi budaya untuk peristiwa tersebut? (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)