harapanrakyat.com,- Kerusuhan di Tasikmalaya 1996 merupakan kisah masa lalu yang tak pernah dilupakan. Pasalnya, peristiwa ini menyimpan memori pilu orang-orang keturunan Tionghoa yang memiliki toko dan gudang di kawasan Jalan HZ. Mustofa, Kota Tasikmalaya.
Kerusuhan yang terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat ini adalah konflik yang disebabkan oleh masalah sepele. Namun, aksi kerusuhan tersebut cenderung berdampak besar pada golongan keturunan Tionghoa di Tasikmalaya. Mengapa bisa terjadi?
Menurut sejumlah fakta Sejarah, kerusuhan di kota tersebut merupakan kerusuhan yang dipicu oleh ketimpangan ekonomi antara pribumi dan warga keturunan Tionghoa.
Orang-orang pribumi di Tasik merasa didominasi secara ekonomi oleh orang-orang Tionghoa. Mereka sudah lama mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan aspirasi ini.
Baru ketika ada kerusuhan yang melibatkan golongan santri, membuat oknum perusuh mengintervensi demo.
Akibatnya banyak toko dan gudang dagang milik orang Tionghoa di Tasikmalaya ludes dijarah dan mengalami sejumlah kerusakan parah.
Adapun pernyataan yang menunjukan penyebab kerusuhan itu dipicu oleh ketimpangan ekonomi antara pribumi dengan warga keturunan Tionghoa, terlihat dalam tulisan Veren Tantoh, dkk berjudul, “Kerusuhan Tasikmalaya 1996: Studi Kasus Komunitas Tionghoa” (Bandar Maulana Jurnal Sejarah dan Budaya, Vol. 25, No. (1) Oktober 2020, pp. 32-41 berikut ini:
Baca Juga: Sejarah Kampung Amsterdam di Garut, Saksi Bisu Kekalahan Belanda oleh Jepang Tahun 1942
“Keunggulan materi yang dimiliki masyarakat Tionghoa yang ada di Tasikmalaya tumbuh menjadi perasaan superior dalam diri penduduk pribumi”.
Kerusuhan di Tasikmalaya 1996 Dipicu Ketimpangan Ekonomi
Masih mengutip Veren Tantoh, dkk (2020), ketimpangan ekonomi pribumi dengan orang Tionghoa di Tasikmalaya mendukung terjadinya kerusuhan tahun 1996.
Masyarakat Tasikmalaya merasa terasing di daerah sendiri. Mereka hanya merasakan menjadi buruh dari orang keturunan Tionghoa.
Apalagi ketika sejumlah aparat berpihak pada orang Tionghoa. Hal ini semakin memicu kemarahan pribumi terhadap orang Tionghoa di Tasikmalaya.
Namun, mereka belum punya waktu yang tepat untuk mengaspirasikan perasaannya itu. Baru ketika ada kasus penyiksaan santri oleh aparat, sebagian oknum anti Tionghoa di Tasikmalaya memercikan api kerusuhan.
Sebetulnya kerusuhan terjadi ketika ada kasus penganiayaan pengaman Pesantren Condong oleh aparat. Penganiayaan ini diduga terjadi akibat buntut hukuman seorang santri yang tertuduh telah mencuri uang di pesantren.
Baca Juga: Kasus Pembantaian Tionghoa di Pangandaran yang Tak Terpecahkan
Akibat isu penganiayaan ini, ratusan santri dari Pesantren Condong baris dan mengadakan demonstrasi di sepanjang Jalan HZ. Mustofa, Kota Tasikmalaya.
Awalnya mereka menuntut keadilan untuk pengaman pesantren yang telah dianiaya oleh aparat. Namun demo mendadak berubah menjadi kerusuhan tatkala ada penyusup yang meneriakan “Jarah Toko Milik Cina”.
Kilas Balik Masuknya Etnis Tionghoa di Tasikmalaya
Jika penyebab kerusuhan di Tasikmalaya 1996 adalah ketimpangan ekonomi antara pribumi dan warga keturunan Tionghoa. Maka yang perlu diklarifikasi adalah kilas balik sejarah masuknya etnis Tionghoa di Tasikmalaya. Bagaimana hubungan sosial Tionghoa dan pribumi di zaman dulu?
Menurut sejumlah laporan penduduk zaman kolonial, etnis Tionghoa sudah ada di Tasikmalaya sejak tahun 1870.
Kedatangan mereka seiring dengan penetapan Undang-Undang Agraria Belanda yang membebaskan pemerintah untuk menyewakan lahan kepada pihak swasta dan asing.
Akibat kebijakan ini, orang Tionghoa yang sejak dulu hobi bermigrasi datang dan menyewa sejumlah lahan di Tasikmalaya.
Pada tahun 1870 keadaan Tasikmalaya masih tersedia lahan yang luas untuk disewakan. Biasanya orang Tionghoa menyewa lahan tersebut untuk dijadikan perkebunan.
Tak lama setelah Undang-Undang Agraria disahkan Belanda, industrialisasi besar-besaran pun terjadi di Tasikmalaya.
Hal ini mendorong migrasi berbagai golongan sosial ke Tasikmalaya. Antara lain suku Sunda, Jawa, orang Eropa, Tionghoa, Arab, dan Asia Timur lainnya.
Etnis Tionghoa Jadi Pengusaha Tajir di Tasikmalaya Sejak 1900
Menurut Veren Tantoh, etnis Tionghoa yang ada di Tasikmalaya bahkan sudah menjadi pengusaha tajir sejak tahun 1900-an.
Mereka berdagang segala macam keperluan pokok. Pelanggannya pun bervariasi, mulai dari pribumi, Eropa, dan orang Tionghoa sendiri.
Mereka bersaing dengan pedagang Arab. Namun, sepanjang sejarah etnis Tionghoa selalu mengungguli mereka. Oleh sebab itu, orang-orang Tionghoa mendapat keistimewaan dari pemerintah Belanda menjadi pegawai bank.
Orang Tionghoa yang hidup di Tasikmalaya zaman itu kebanyakan berprofesi menjadi pengepul hasil alam.
Mereka mengumpulkan petani pribumi untuk dibeli hasil perkebunannya setiap masa panen tiba. Setelah itu orang Tionghoa akan menjualnya di pasar dan tentu dengan harga yang sedikit tinggi.
Selain menjadi pengepul hasil kebun, terdapat salah satu pengusaha Tionghoa di Tasikmalaya yang namanya kerap muncul di surat kabar.
Ia adalah pengusaha batik yang tajir bernama Khouw Siauw dan Tan Tjeng Tong. Selain memiliki usaha batik, mereka berdua juga punya perkebunan karet, sereh, derris, teh, dan kopra. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)