harapanrakyat.com,- Sejarah Kampung Amsterdam di Garut, Jawa Barat, menarik perhatian publik. Pasalnya, Kampung Amsterdam yang saat ini jadi tempat wisata memiliki kisah masa lalu yang panjang. Konon pada tahun 1930, kampung tersebut menjadi daerah populer untuk dijadikan tempat tinggal orang-orang Belanda di Garut.
Dari kebanyakan pengunjung ke Kampung Amsterdam rata-rata tidak tahu sejarah tempat tersebut. Padahal berdasarkan sejumlah laporan kolonial, tempat itu dulunya meninggalkan banyak kisah pilu yang disembunyikan hingga saat ini.
Secara singkat, Kampung Amsterdam memang daerah kuno yang pernah ditempati oleh orang Belanda. Tepatnya di Kecamatan Cilawu, sekitar lereng Gunung Cikuray, Garut. Mereka saling berebut ingin tinggal di sana karena kualitas udaranya yang baik.
Oleh sebab itu banyak orang Belanda yang mendirikan bangunan tembok sebagai tempat tinggal dalam bentuk permanen.
Selain menjadi tempat tinggal, bangunan kuno peninggalan kolonial di Kampung Amsterdam juga dulunya berfungsi untuk gedung kontrolir perkebunan.
Dari sinilah asal-usul daerah tersebut dinamakan dengan Kampung Amsterdam (karena dihuni oleh banyak orang Belanda).
Baca Juga: Mengenal Mohammad Toha, Komandan Barisan Rakyat Indonesia yang Gugur di Gudang Mesiu Sekutu
Namun, kisah singkat ini belum lengkap menceritakan sejarah Kampung Amsterdam seutuhnya. Berikut ulasan beberapa catatan penting tentang tempat tersebut.
Sejarah Kampung Amsterdam di Garut, Daerah Perkebunan Teh Pemerintah Kolonial
Kampung Amsterdam dulunya merupakan daerah perkebunan teh milik pemerintah kolonial. Kampung tersebut menjadi tempat administratur perkebunan, sehingga banyak pengawas (kontrolir) Belanda yang kerasan tinggal di sana.
Mereka merasa nyaman dengan kehidupan sehat orang-orang di Kampung Amsterdam. Orang-orang Belanda juga bisa bergaul dengan penduduk sekitar sesuai dengan kapasitas yang seharusnya (antara si buruh dan majikan).
Semua yang petugas Belanda minta maka buruh di perkebunan teh akan memberikannya. Besar kemungkinan daerah model Kampung Amsterdam di Garut ini dulunya menjadi pusat pergundikan. Atau perkawinan siri antara lelaki Belanda dengan wanita pribumi yang berprofesi sebagai buruh perkebunan.
Sampai saat ini peninggalan kuno bekas perkebunan teh di Kampung Amsterdam masih bisa kita temui.
Dengan dibukanya wisata alam di daerah tersebut, banyak harapan bisa terjaganya cerita sejarah tentang Kampung Amsterdam pada zaman Belanda.
Baca Juga: Hati-hati! Uang Palsu Versi Baru Pecahan Rp 100 Ribu Ditemukan di Garut
Terdapat Sumber Air Warisan Kolonial Belanda
Selain ada beberapa bekas pondasi bangunan rumah administrasi perkebunan teh, di Kampung Amsterdam, Garut juga terdapat sumber air warisan Belanda yang masih bermanfaat hingga saat ini.
Banyak masyarakat Garut memanfaatkan sumber air buatan kolonial Belanda itu untuk kebutuhan sehari-hari.
Mereka mengalirkan air ke beberapa kampung dan perkebunan. Gunanya jelas, selain untuk mengaliri kehidupan masyarakat setempat, juga bermanfaat untuk persediaan hidup tumbuhan sekitar yang saat itu kebanyakannya tanaman teh.
Bangunan sumber air warisan kolonial Belanda dulunya jadi area populer masyarakat setempat. Biasanya mereka bermain air di saluran tersebut setelah selesai bekerja di perkebunan. Atau menjadi tempat bersih-bersih badan setelah seharian bekerja.
Selain bermanfaat secara teknis, sumber air yang dibangun sejak zaman Belanda itu menjadi fakta tak terbantahkan. Ternyata Kampung Amsterdam di Garut itu dulunya merupakan perkampungan bos-bos kebun teh milik pemerintah kolonial.
Baca Juga: Profil Daeng Kanduruan Ardiwinata, Sastrawan Sunda Berdarah Bugis Pendiri Paguyuban Pasundan
Jadi Saksi Kecemasan Belanda Saat Jepang Duduki Garut Tahun 1942
Menurut M. Harjono K dalam buku berjudul “Melangkah di Tiga Zaman” (2022), sebagian besar orang Belanda yang ada di Garut (termasuk di Kampung Amsterdam), memiliki tingkat kecemasan yang berlebih saat Jepang berhasil menembus Garut tahun 1942.
Kecemasan ini terjadi karena banyak orang Belanda di daerah lain yang disiksa dan dibunuh karena dianggap musuh dalam Perang Dunia II.
Jepang tidak suka dengan orang-orang Belanda. Tak heran jika ada di antara mereka yang membandel (tidak menurut apa yang tentara Nippon katakana), maka akan menjadi korban kekerasan sampai tewas.
Jepang tidak main-main, jangankan orang Belanda, sebagian besar masyarakat pribumi juga sempat cemas dengan pendatang baru ini. Pasalnya, banyak korban yang mendapat siksaan dari tentara Nippon hanya karena urusan sepele.
Konon Kampung Amsterdam di Garut jadi saksi bisu kecemasan orang Belanda saat tentara Jepang mendatanginya. Awalnya mereka hendak melarikan diri ke Australia menggunakan kapal tumpang di Pantai Pameungpeuk, Garut. Namun, tentara Nippon berhasil menghentikan hingga akhirnya orang-orang Belanda itu masuk kamp tahanan Jepang. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)