Sabtu, April 5, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah Istana Bogor, Pernah Jadi Tempat Istirahat Pejabat Belanda

Sejarah Istana Bogor, Pernah Jadi Tempat Istirahat Pejabat Belanda

harapanrakyat.com,- Sejarah Istana Bogor merupakan salah satu bagian sejarah Indonesia yang menarik untuk diulas. Mengingat sebelum menjadi Istana Negara seperti saat ini, tempat tersebut merupakan lokasi peristirahatan bagi orang-orang Belanda.

Orang-orang Belanda yang berasal dari Batavia menganggap bahwa kota Batavia terlalu padat untuk ditinggali.

Selain itu udara panas di Batavia membuat banyak orang-orang Belanda mengeluh dan ingin mencari tempat peristirahatan yang sejuk, jauh dari pusat keramaian.

Alasan ini juga berkaitan dengan kondisi tempat tinggal orang-orang Belanda yang memang berada di daerah dengan iklim Subtropis.

Maka dipilihlah sebuah kampung yang bernama Kampoeng Baroe yang kini menjadi lokasi Istana Negara Indonesia.

Merangkum dari berbagai sumber, berikut ini sejarah Istana Bogor yang pernah jadi tempat peristirahatan pejabat Belanda hingga menjadi Istana Negara.

Sejarah Istana Bogor 1745, Tempat Peristirahatan Pejabatan Belanda

Baca Juga: Banjir Bandang di Bandung 1945, Ratusan Nyawa Melayang Akibat Sabotase Sekutu

Priyo Jatmiko dalam “Sejarah Bogor dan Sekitarnya: Edisi 2”, (2019), bahwa pembangunan Istana Bogor baru mulai pada tahun 1745 oleh seorang Gubernur Jenderal van Imhoff.

Ia memerintahkan untuk membangun pesanggrahan yang bernama Buitenzorg atau Sans Souci yang memiliki arti “tanpa kekhawatiran”.

Bangunan rancangan sendiri oleh Gubernur Jenderal van Imhoff, dan baru selesai sekitar tahun 1750.

Gubernur Jenderal van Imhoff menjadikan Blenheim Palace sebagai contoh dari bangunan yang ia buat ini.

Namun, ketika bangunan baru selesai, tak lama kemudian terjadi pemberontakan dalam Perang Banteng pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang.

Perang ini sendiri terjadi dalam rentang tahun 1750-1754 dengan kekalahan di pihak Kiai Tapa.

Dalam pemberontakan tersebut, Kampoeng Baroe yang menjadi salah satu medan pertempuran rusak. Konon dalam sejarah Istana Bogor menjelaskan bahwa bangunan pesanggrahan tersebut menjadi salah satu tempat yang mengalami kerusakan juga.

Bangunan rancangan Gubernur Jenderal van Imhoff didesain sebagai tempat peristirahatan dengan tiga tingkat.

Baca Juga: Sejarah Patung Gajah di Museum Nasional Jakarta, Hadiah Raja Siam yang Kontroversial

Seiring dengan berjalannya waktu, setelah melewati pergantian berbagai jenderal, bangunan ini kemudian mengalami pemugaran.

Masa Pendudukan Inggris Jadi Istana Paladin

Sejarah Istana Bogor pada masa pendudukan Inggris, yaitu Gubernus Jenderal Sir Stamfod Raffle, bangunan ini sudah berubah menjad bangunan Istana Paladin yang memiliki luas halaman  28,4 hektar, dan luas bangunan 14.892 m².

Ketika Gubernur Jenderal Belanda lainnya menjabat, terjadi perubahan secara berangsur-angsur. Mulai dari penambahan bangunan hingga pemugaran kembali.

Memasuki tahun 1834 terjadi gempa bumi yang sangat dasyat akibat meletusnya Gunung Salak. Dalam kejadian ini, Istana Bogor rusak parah sehingga harus dibangun kembali pada tahun 1850.

Dalam catatan sejarah Istana Bogor menerangkan bahwa bangunan tersebut kemudian dibuat tidak bertingkat. Alasannya adalah untuk menghindari kerusakan seperti sebelumnya. Selain itu juga agar bangunan dapat menyesuaikan dengan daerah yang rawan gempa.

Pengerjaan bangunan tersebut pada masa pemerintahan Gubernur Albertus Jacob Duijmayer van Twist (1851-1856).

Bangunan sisa gempa yang tersisa kemudian dirobhkan dan dibangun kembali dengan mengambil konsep arsitektur Eropa abad ke-19.

Baca Juga: Sejarah Konferensi Meja Bundar, Akhiri Konflik Indonesia dan Belanda

Penghuni terakhir dari istana ini adalah seorang Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachourwer.

Gubernur Jenderal ini juga yang menjadi saksi dari kejatuhan Pemerintah Hindia Belanda di Nusantara, dan harus menyerahkannya kepada Jenderal Imamura dari Jepang.

Jatuh ke Tangan Jepang

Marwati Djoened dkk dalam “Sejarah Nasional Indonesia Jilid 6: Zaman Jepang & Zaman Republik” (2019), setelah pendaratan di Ibu Kota Batavia pada tanggal 5 Maret 1942, diumumkan sebagai ‘kota terbuka”. Yang berarti bahwa kota itu tidak akan Belanda pertahankan.

Kemudian, setelah jatuhnya kota Batavia ke tangan mereka, tentara ekspedisi Jepang langsung bergerak ke Selatan dan berhasil menduduki Buitenzorg (Bogor).

Ketika Istana Bogor ini jatuh ke tangan Jepang, gedung yang awalnya merupakan tempat tinggal bagi pejabat Belanda mulai beralih fungsi menjadi markas tentara Jepang.

Bahkan, orang-orang Belanda yang masih tersisa di tahan di ruang tahanan yang ada di bagian bawah tanah.

Jepang mengecat bangunan gedung itu dengan warna hitam untuk membuatnya tersamar dari serangan udara pasukan sekutu.

Baca Juga: Tragedi Revolusi Berdarah, Kronik Gelap Etnis Tionghoa di Jawa Tahun 1945-1947

Selain itu, kolam-kolam yang pada awalnya dibangun Raffles dikeringkan agar tidak memantulkan cahaya. Kemudian kolam itu mereka tanami dengan semak-semak agar tidak terlihat sebagai markas tentara Jepang.

Rumput yang berada sekitar istana dibiarkan meninggi seolah-olah tak terawat. Sedangkan rusa yang awalnya berjumlah ratusan mulai berkurang akibat tentara Jepang menyembelihnya untuk konsumsi mereka.

Meskipun seringkali disembelih oleh tentara Jepang, populasi rusa tidak sepenuhnya punah. Karena beberapa ekor rusa bisa bersembunyi di balik tingginya rumput di kawasan tersebut.

Dalam sejarah Istana Bogor menyebutkan bahwa orang-orang Jepang juga mengangkut berbagai karya seni dan pusaka yang ada di istana tersebut ke Jepang. Sedangkan, benda-benda yang terbuat dari logam mereka lebur menjadi satu untuk bahan membuat senjata kebutuhan perang.

Jadi Istana Negara

Ketika Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, semua wilayah yang semula merupakan jajahan Jepang harus mereka kembalikan kepada pemilik awalnya.

Dalam konteks inilah Belanda ingin kembali ke Indonesia yang waktu itu merupakan wilayah jajahannya.

Istana ini baru digunakan sebagai Istana Kepresidenan sekitar tahun 1950. Lamanya proses peralihan karena Pemerintah Indonesia waktu itu masih berfokus mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Sejarah Stasiun Radio Malabar, Terbesar dan Tercanggih di Zaman Belanda

Berdasarkan sejarah Istana Bogor, bangunan tersebut terbaru buka untuk umum sekitar tahun 1968, masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Terdapat berbagai fasilitas lain yang ada di lingkungan Istana Bogor ini, seperti Kebun Raya Bogor yang terpisah dari lingkungan Istana sejak tahun 1817.

Kebun Raya Bogor merupakan salah satu tempat yang menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan tanaman tropis.

Terdapat beberapa ruangan dalam Istana Bogor, seperti bangunan induk Istana yang berfungsi untuk menyelenggarakan acara kenegaraan, pertemuan, hingga upacara.

Selain itu, pada bagian kiri bangunan terdapat enam kamar tidur untuk menjamu tamu kenegaraan asing.

Kamar untuk Presiden

Pada bagian kanan bangunan terdapat empat kamar tidur untuk presiden atau kepala negara lain yang berkunjung ke Indonesia.

Pasca kemerdekaan Indonesia, terdapat arahanan khusus untuk membangaun sebuah ruangan yang terkenal dengan nama Dyah Bayurini.

Ruangan ini berfungsi untuk peristirahatan presiden dan keluarganya. Pada bangunan ini termasuk dengan lima paviliun terpisah.

Beberapa ruangan lain yang ada di Istana Bogor seperti kantor pribadi Kepala Negara, perpustakaan lengkap dengan buku-buku.

Kemudian, ruang makan, ruang sidang menteri-menteri, dan ruang pemutaran film, Ruang Garuda sebagai tempat upacara resmi, Ruang Teratai sebagai sayap tempat penerimaan tamu-tamu negara, dan Kaca Seribu.

Nunung Marzuki dalam “Mengenal Lebih Dekat: Bangunan Bersejarah Indonesia” (2008), saat ini khalayak umum bisa mengunjungi Istana Bogor. Namun sebelumnya harus meminta izin ke Sekretaris Negara, c.q. Kepala Rumah Tangga Kepresidenan.

Pada hari-hari libur, area sekitar halaman Istana Bogor biasanya ramai oleh warga yang berjalan-jalan menikmati suasana sambil memberi makan rusa-rusa dari Nepal. Binatang tersebut dipelihara dan dibiarkan berkeliaran bebas di halaman Istana Bogor. (Azi/R3/HR-Online/Editor: Eva)

Tersambar Petir Saat Mandi

Seorang Warga di Tasikmalaya Tersambar Petir Saat Mandi

harapanrakyat.com,- Seorang warga di Kampung Cikajar, Kelurahan Leuwibudah, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, tersambar petir saat sedang mandi di rumahnya, Sabtu (5/4/2025). Beruntung korban...
Perahu Wisata Terbalik

Laka Laut Perahu Wisata Terbalik di Pantai Pangandaran, Polisi Ungkap Kondisi 9 Penumpang

harapanrakyat.com,- Sebuah perahu wisata terbalik di Pantai Barat Pangandaran, Jawa Barat. Perahu yang mengangkut sembilan wisatawan asal Karawang itu terbalik saat melintas di perairan...
Pelaku Curas

Empat Pelaku Curas terhadap Pria Disabilitas di Sumedang Berhasil Ditangkap

harapanrakyat.com,- Empat pelaku curas (pencurian dengan kekerasan) terhadap seorang pria disabilitas berinisial AK (26) di Sumedang, Jawa Barat, berhasil ditangkap jajaran Satreskrim Polres Sumedang. Uniknya,...
Hari Jadi Desa Jajawar

Mengintip Keseruan Warga Ngubyag Balong Saat Hari Jadi Desa Jajawar Kota Banjar

harapanrakyat.com,- Mengintip keseruan masyarakat saat ngubyag balong atau menangkap ikan bersama-sama di empang dalam merayakan Hari Jadi Desa Jajawar ke-19, di Kecamatan Banjar, Kota...
Ratusan Penumpang Berdesakan Naik Bus di Terminal Ciakar Sumedang

Arus Balik Lebaran, Ratusan Penumpang Berdesakan Naik Bus di Terminal Ciakar Sumedang

harapanrakyat.com,- Lima hari pasca Lebaran, penumpang arus balik di Terminal Tipe A Ciakar Sumedang, Jawa Barat, mengalami lonjakan, Sabtu (5/4/2025). Bahkan, ratusan penumpang tampak...
Obyek Wisata Batu Peti

Obyek Wisata Batu Peti Kota Banjar Mulai Diminati Pengunjung Saat Libur Lebaran

harapanrakyat.com,- Momen libur Lebaran 2025, obyek wisata Batu Peti yang berlokasi di Dusun Muktiasih, Desa Sukamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat, mulai banyak...