harapanrakyat.com,- Raden Eddy Martadinata merupakan seorang pahlawan nasional asal Bandung. Kiprahnya dalam bidang keamanan laut tak diragukan lagi. Pasalnya ia pernah mengemban tugas perang dari wilayah satu ke wilayah lain dengan baik.
Semua tugas itu ia selesaikan dengan tepat. Sejumlah pendapat menyebut hal ini bisa terjadi karena RE Martadinata sudah menjadi tentara terlatih sejak zaman Belanda.
Pria kelahiran Lengkong Besar, Bandung pada 29 Maret 1921 ini pernah merebut beberapa kapal milik Jepang di Jakarta tahun 1945.
Misi kemiliteran pada zaman Belanda membuat pahlawan nasional ini terbiasa menghadapi seluruh tantangan yang beresiko.
Artinya, jika hanya untuk menculik kapal-kapal milik Jepang tidak ada yang perlu ditakuti. Karena saat itu pendudukan Jepang di Indonesia sudah mulai lemah akibat kalahnya mereka dalam Perang Dunia II.
Selain menculik kapal-kapal militer Nippon, RE Martadinata bersama kawan-kawan militer lautnya berhasil mengakuisisi sejumlah kantor tentara Nippon di daerah Tanjung Priok, dan Jl. Budi Utomo, Jakarta.
Mereka menggunakan fasilitas ini untuk membantu perang kemerdekaan. Selain melawan Jepang yang masih berani menghadapi pejuang republik, pasukan RE Martadinata di kantor hasil rampasan itu juga bertugas untuk mencegah Sekutu menguasai pusat pemerintahan RI.
Baca Juga: Frans S Mendur, Fotografer Proklamasi Kemerdekaan yang Terlupakan
Pahlawan Nasional asal Bandung, RE Martadinata Bergabung Menjadi BKR
Menurut Budi Rahayu T dalam buku berjudul “LLRE. Martadinata” (2011), eksistensi RE Martadinata dalam dunia militer telah terlihat saat bergabung menjadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR).
Bersama dengan sejumlah mantan pelajar di Sekolah Pelayaran Tinggi zaman Jepang bernama Jawa Unko Kaisya, RE Martadinata menjadi bagian dari anggota militer milik republik.
Tak lama setelah itu ia kemudian menginisiasi pembentukan BKR Laoet Poesat. Lembaga militer yang menjadi cikal bakal Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pada bulan Agustus 1945.
RE Martadinata menganggap keberadaan angkatan laut penting dalam pertahanan negara. Apalagi Indonesia adalah negara kepulauan yang sebagian besarnya dikelilingi oleh lautan.
Maka dari itu, tak lama setelah Soekarno-Hatta memprolkamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, para perwira militer RI mulai berdialog untuk membentuk angkatan laut.
Setelah badan militer ini terbentuk, RE Martadinata kemudian diangkat menjadi Ajudan Kepala Staf Umum Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Laut pada bulan Desember 1945.
Baca Juga: Mengenal Mohammad Toha, Komandan Barisan Rakyat Indonesia yang Gugur di Gudang Mesiu Sekutu
Perwira ALRI yang Rendah Hati
Melansir laman Pusat Sejarah TNI menyebut pahlawan nasional asal Bandung, RE Martadinata, terkenal sebagai perwira militer Angkatan Laut RI yang rendah hati.
Walaupun terkenal punya jam terbang tinggi, pria berperawakan proporsional ini tidak pernah sombong dan aral pada anak buahnya.
Ia terkenal sebagai pejabat tinggi ALRI yang baik hati dan ramah senyum. Setiap pembicaraannya yang terekam dalam dialog maupun diskusi internal di kantor ALRI, ia selalu mengingatkan agar semangat bertugas dengan mengutamakan kepentingan negara dan bangsa di atas segalanya.
Anggota ALRI berpangkat Laksamana ini juga sering memberikan nasihat dengan mengimbau anak buahnya untuk menjauhkan sifat ambisi pribadi.
Menurutnya, apabila tidak bisa menghindari hal ini, maka sifat jumawa yang tumbuh dalam badannya akan membawa kehancuran di kemudian hari.
RE Martadinata juga merupakan cerminan pemimpin yang selalu siap dalam menjalankan tugas. Ia sangat anti mewakilkan tugas kepada bawahannya.
Baca Juga: Profil KH Noer Alie, Ulama yang Dijuluki Singa Karawang-Bekasi
Dalam peperangan misalnya, ia akan memilih ada di garis paling depan dari anak buahnya. Sebab pada hakikatnya pemimpin adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam peperangan.
Berakhir dalam Peristiwa Kecelakaan Helikopter
Melansir dari berbagai sumber Sejarah, pahlawan nasional asal Bandung itu wafat dalam peristiwa kecelakaan helikopter.
Laksamana TNI Angkatan Laut RE Martadinata meninggal dunia pada 6 Oktober 1966, ketika sedang bertugas menaiki helikopter Alouette II (ALRI) dengan pilot Charles Willi Kairupan.
Entah karena keadaan helikopter yang bermasalah atau karena human error yang menimpa sang pilot, pesawat capung tersebut menabrak bukit Riung Gunung.
Karena minimnya pertolongan dalam kecelakaan tersebut membuat nyawa RE Martadinata tak tertolong.
Setelah dilakukan pencarian kecelakaan, jasad Laksamana TNI tersebut selanjutnya disemayamkan di rumah duka. Kemudian setelah itu diberangkatkan ke komplek Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta untuk dikebumikan.
Tak lama setelah wafat, putra asal bandung RE Martadinata mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Penghargaan itu sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 220 Tahun 1966. Pemerintah Indonesia memberikan penghargaan ini pada tanggal 9 April 1966. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)