harapanrakyat.com,- Profil Daeng Kanduruan Ardiwinata, seorang sastrawan Sunda berdarah Bugis yang wajib kamu simak. Daeng Kanduruan Ardiwinata mendirikan salah satu organisasi yang masih berdiri hingga hari ini, yaitu Paguyuban Pasundan.
Paguyuban Pasundan adalah organisasi budaya Sunda, berdiri sejak 20 Juli 1913. Organisasi ini berupaya melestarikan budaya Sunda yang di dalamnya melibatkan orang-orang Sunda.
Paguyuban Pasundan yang didirikan oleh Daeng Kanduruan Ardiwinata sendiri dianggap dipengaruhi oleh Budi Utomo yang berdiri pada tahun 1908.
Tulisan ini akan mengulas seputar sosok Daeng Kanduruan Ardiwinata, sastrawan Sunda berdarah Bugis yang mendirikan Paguyuban Pasundan.
Profil Daeng Kanduruan Ardiwinata Pendiri Paguyuban Pasundan
Daeng Kanduruan Ardiwinata merupakan salah seorang sastrawan dan juga kaum nasionalis serta agamis yang berasal dari Sunda.
Tini Kartini dalam buku berjudul “Daeng Kanduruan Ardiwinata” (1979), menuliskan bahwa Daeng Kanduruan Ardiwinata lahir tepat pada tahun 1866 di Desa Kejaksaan Girang, Bandung, Jawa Barat.
Ayahnya adalah seorang berdarah Bugis dan ibunya berdarah Sunda. Kakeknya sendiri merupakan Raja Lombo dari Makassar bernama Yukte Desialu. Ia dibuang ke Jawa Barat karena melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda.
Baca Juga: Kisah Chairil Anwar, Penyair Legendaris yang Meninggal di Usia Muda
Yukte Desialu dibuang bersama anaknya yang bernama Daeng Sulaeman, dan kakaknya bernama Karaeng Balasuka.
Memang fenomena pengasingan dan pembuangan ini merupakan hal yang biasa pada masa pemerintahan Belanda. Kebijakan tersebut Belanda lakukan terhadap para pemimpin pemberontak untuk memutus pemberontakan yang terjadi.
Karena pada masa penjajahan Belanda, pemberontakan masih berbasiskan pada kharisma seorang pemimpin. Oleh karena itu, untuk mematahkan pemberontakan biasanya Belanda akanmengasingkan para pemimpinnya.
Pendidikan
Daeng Kanduruan Ardiwinata sendiri menghabiskan masa-masa kecilnya di Bandung bersama ayahnya dan ibunya yang bernama Nyi Mas Rumi.
Ia menghabiskan masa pendidikannya dengan mendapatkan pendidikan keagamaan dari pesantren ke pesantren.
Selain itu, Daeng Kanduruan Ardiwinata juga pernah mendapatkan pendidikan di sekolah umum, yaitu di Sakola Cibadak atau setingkat dengan Sekolah Dasar.
Selama di sekolah ini ia mempelajari berbagai mata pelajaran seperti membaca dan menulis, baik aksara latin, Sunda, dan Arab. Selain itu, ia juga mendapatkan pembelajaran ilmu bumi Hindia Belanda, Bahasa Melayu, dan ilmu mengukur tanah.
Pasca menyelesaikan pendidikannya di Sakola Cibadak, Daeng kanduruan melanjutkan masa pendidikannya di Sakola Raja yang merupakan sekolah khusus keguruan, atau Kweekschool.
Baca Juga: Sejarah Gundik di Jawa Barat, Wanita Simpanan Belanda dari Golongan Buruh Perkebunan
Sejak memperoleh pendidikan di sekolah tersebut, perhatiannya terhadap dunia pendidikan semakin besar.
Dari sinilah inspirasinya untuk menjadi seorang guru muncul dan memutuskan untuk menjadi guru di Sakola Cibadak dan Sakola Menak, atau Opleidingsschool voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA).
Sastrawan Sunda Berdarah Bugis
Selain menjadi guru, melihat dari profil Daeng Kanduruan Ardiwinata, ternyata ia juga merupakan seorang sastrawan Sunda yang cukup terkenal.
Daeng Kanduruan Ardiwinata menjadi salah satu pelopor dari sastra Sunda modern. Ia banyak mengubah gaya penulisan Sunda yang pada awalnya banyak didominasi wawacan dan dangding.
Beberapa karyanya seperti Tata Krama Oerang Soenda, Serat Sabda Rahajoe, Racun bagi Muda-Mudi, Tjarita si Alphi, Penjakit Mata, Tjarijos Raden Oestama, dan masih banyak karya lainnya.
Karya-karyanya merupakan sebuah hal yang baru pada waktu itu. Karena pada masa-masa tersebut sastra Jawa sangat mempengaruhi dunia sastra Sunda.
Salah satu karyanya yang berjudul “Racun bagi Muda-Mudi” merupakan karya sastra yang membuat namanya menjadi besar dalam perkembangan sastra Sunda.
Baca Juga: Mengulas Kontroversi Asal-usul Sebutan Baduy untuk ‘Urang Kanekes’
Meskipun karya tersebut terdapat tulisan ada sambungannya, namun para kritikus sastra menilai bahwa karya tersebut telah selesai mengungkapkan kehidupan sosial waktu itu.
Ajip Rosidi dalam buku “Manusia Sunda: sebuah esai tentang tokoh-tokoh sastra dan Sejarah” (1984), tulisannya yang berjudul “Baruang ka Nu Ngarora” juga menjadi salah satu karya yang penting. Pasalnya, karya ini menjadi sebuah roman Sunda yang pertama dalam sejarah.
Perhatian Daeng Kanduruan Ardiwinata terhadap dunia sastra Sunda memang sangat besar, meski ia sendiri sebenarnya memiliki darah Bugis.
Namun, lingkungan kehidupannya lah yang membuat ia menjadi peduli terhadap dunia kesusastraan Sunda.
Pada tahun 1916, ia juga mendirikan perkumpulan kesusastraan yang bernama Sastra Winangun (Pembangunan Sastra).
Perkumpulan ini bertujuan untuk memelihara dan mengajarkan kesusastraan Sunda. Walaupun usaha ini tidak berhasil, tetapi perhatiannya terhadap dunia kesusastraan Sunda patut diapresiasi.
Mendirikan Paguyuban Pasundan
Selain berperan aktif dalam dunia kesusastraan Sunda, Daeng Kanduruan Ardiwinata juga pernah mendirikan sebuah organisasi yang bernama Paguyuban Pasundan.
Baca Juga: Remy Sylado Meninggal Dunia, Sastrawan dan Aktor Ca-Bau-Kan
Organisasi ini berdiri pada tanggal 20 Juli 1913, dan menjadi salah satu organisasi tertua yang masih ada hingga hari ini.
Paguyuban Pasundan merupakan organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan, sosial budaya, politik, ekonomi, kepemudaan, hingga pemberdayaan perempuan di Jawa Barat.
Dari sisi yang lain, paguyuban ini juga berperan sebagai motor penggerak pelestarian kebudayaan Sunda. Baik dari orang Sunda sendiri maupun orang luar yang memiliki kepedulian terhadap budaya Sunda.
Organisasi ini juga hampir mirip dengan Budi Utomo yang merupakan inisiatif siswa-siswi dari STOVIA (School Tot Opleiding voor Inlandsche Artsen).
Paguyuban Sunda sendiri didirikan oleh para siswa STOVIA yang berasal dari Sunda. Mereka menilai bahwa Budi Utomo waktu itu hanya diperuntukkan buat orang-orang yang berasal dari suku Jawa.
Melihat hal ini, mereka kemudian berunding dengan Daeng Kanduruan Ardiwinata selaku salah satu sesepuh orang Sunda.
Pada tanggal 22 September 1914, organisasi tersebut mengajukan izin kegiatan secara sah kepada Pemerintah Hindia Belanda.
Melalui Surat Keputusan Nomor 46 Tanggal 9 Desember 1914, izin itu pun diberikan kepada Paguyuban Pasundan.
Mengutip buku “Sejarah Daerah Jawa Barat” (1994), meskipun pimpinan Paguyuban Pasundan berasal dari kalangan priyayi yang mendapatkan pendidikan di sekolah-sekolah yang sudah terpengaruh unsur Barat. Tetapi gerak perjuangannya tidak terbatas di lingkungan lapisan atas. Mereka juga memusatkan perjuangan untuk memajukan rakyat banyak.
Hingga hari ini Paguyuban Pasundan masih menjadi salah satu organisasi yang aktif sesuai dengan tujuan awal pembentukannya. Tentu saja peran-peran itu semakin bertambah seiring berjalannya perkembangan zaman.
Diketahui dari profilnya, Daeng Kanduruan Ardiwinata meninggal pada tanggal 12 Januari 1947 di Manonjaya, Tasikmalaya, dalam usianya yang ke 81 tahun. (Azi/R3/HR-Online/Editor: Eva)