harapanrakyat.com,- Pengusaha kretek di Kudus tampaknya memiliki peran andil dalam gerakan pers bumiputera pada zaman kolonial Belanda. Mereka memiliki sumbangsih penting dalam kemajuan persuratkabaran orang pribumi sejak pertengahan abad ke-19.
Adapun sumbangsih yang disalurkan pengusaha kretek di Kudus terhadap gerakan pers bumiputera waktu itu berupa uang.
Mereka yang sudah selesai dengan urusan hidupnya (keadaan ekonomi sudah terjamin), menyumbangkan sebagian hartanya untuk modal pendirian pers yang berasal dari suara pribumi.
Sebab, awalnya dunia persuratkabaran di Hindia Belanda hanya dikuasai oleh orang-orang kulit putih saja. Mereka yang orang pribumi hanya bisa menjadi buruh di kantor pers Barat. Paling banter menjadi kontributor berita yang diatur batasan oleh hukum pers kolonial.
Lantas yang menjadi pertanyaan besar sebagian orang adalah, mengapa pengusaha kretek di Kudus itu ikhlas memberikan dana untuk kemajuan pers bumiputera. Apa untungnya untuk mereka?
Merangkum dari berbagai sumber, pengusaha kretek setuju membiayai surat kabar bumiputera di Kudus. Karena corak isinya lebih banyak digunakan untuk kesadaran tentang kebangsaan.
Mereka (pengusaha kretek) merasa untung dari hal tersebut. Sebab, kesadaran tentang kebangsaan bisa membuat bangsa ini menjadi lebih maju.
Pengusaha kretek di Kudus kebanyakan berasal dari orang pribumi. Mereka ingin bangkit dan tidak mau melihat bangsa ini terus terjajah dan takluk pada Belanda.
Baca Juga: Sejarah Gedung British American Tobacco, Bangunan Khas Eropa di Cirebon
Kesadaran Pengusaha Kretek di Kudus akan Kemajuan Bangsa
Menurut Edy Supranto, dalam Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah, Vol. 14, No. (1), 2023. pp. 19-44 berjudul “Peran dan Penyebaran Benih Nasionalisme: Filantropi Pengusaha Rokok Kretek Kudus untuk Pers Bumiputera Masa Kolonial”, kesadaran pengusaha kretek akan kemajuan bangsa semakin serius dengan pengumpulan dana keorganisasian.
Mereka mendirikan perkumpulan pengusaha kretek Kudus yang sepemikiran. Para pengusaha kretek tersebut ingin menggunakan pers untuk merealisasikan cita-citanya, yakni membuat bangsa pribumi jadi lebih maju dari sebelumnya.
Pada intinya para pengusaha kretek ingin memberdayakan orang-orang pribumi agar bisa hidup layak. Mereka ingin membentuk basis kemandirian kalangan bumiputera selain pendidikan. Dan itu yang bisa dilakukan oleh pers (penerangan).
Demi mewujudkan seluruh cita-cita tersebut, para pengusaha kretek di Kudus membangun sinergi dengan tokoh politik.
Selain itu, mereka juga mengajak pekerja pos (yang sering mengirim tembakau), menjadi bagian dari gerakan mendukung pembentukan pers bumiputera di Kudus.
Ketika suara itu sudah bulat dan terpenuhi, maka dana pun mengalir dari para pengusaha kretek kaya di Kota Wali tersebut.
Baca Juga: Biografi Bob Sadino, Sukses Jadi Pengusaha dari Jualan Telur
Membiayai Penerbitan Majalah Menara Koedoes
Ketika agenda membiayai pers sudah siap dengan baik, maka pengusaha kretek kaya di Kudus kemudian membiayai penerbitan majalah Menara Koedoes.
Media berbasis pers bumiputera ini merupakan hasil kerjasama antara organisasi Muhammadiyah dengan pengusaha kretek di Kudus.
Setelah biayai terpenuhi, majalah Menara Koedoes diagendakan terbit setiap bulan sekali. Pertama kali Menara Koedoes terbit pada bulan Januari 1926 dengan tema-tema sosial, politik, dan keagamaan khas Muhammadiyah.
Pembaca setianya pun lumayan banyak, penerbitan berjalan sesuai dengan rencana. Karena keberhasilan ini, Menara Kodoes mampu mendirikan organ penerbitan sendiri.
Majalan tersebut membawahi penerbitan Soeara Muhammadiyah, Poestaka Moehammadiyah, Al-Mahdi, Soeryo, dan Bintang Islam.
Semua ini terjadi tentu atas bantuan pengusaha kretek di Kudus. Tanpa biaya awal dari mereka tidak mungkin majalah Menara Koedoes bisa mengembangkan sayapnya secara luas.
Maka dari itu, tak salah jika ada pendapat yang mengatakan bahwa pengusaha kretek memiliki andil dalam mengembangkan Muhammadiyah di daerah Kudus.
Baca Juga: Riwayat Tuan Holla, Meneer Belanda Sahabat Petani Teh di Garut
Pengusaha Kretek Membeli Mesin Cetak Sendiri, Belanda Cemas
Pengusaha kretek berhasil membeli mesin cetak sendiri. Orang tersebut bernama Nitisemito, pengusaha kretek paling tajir di Kudus.
Konon mesin cetak yang ia beli awalnya milik perusahaan pers Belanda De Courant di Weltevreden Batavia seharga f. 10. 300. Harga yang cukup fantastis mahal pada waktu itu.
Bahkan saking berharganya mesin cetak itu, konon baru Nitisemito lah orang bumiputera yang bisa memiliki mesin cetak di Hindia Belanda.
Dengan terbelinya mesin cetak, Nitisemito semakin leluasa mengembangkan pers bumiputera hingga membuat Belanda merasa cemas.
Mengapa cemas? Tentu pemerintah kolonial akan merasakan hal itu. Karena mereka berpikir jika rakyat bumiputra memiliki mesin cetak, sesuatu hal (kerusakan) pada sistem politik akan terjadi dalam waktu dekat.
Belanda khawatir struktur pemerintahannya akan jadi bidikan utama jurnalis bumiputera kala itu. Selain kecemasan dalam bentuk preventif politik, Belanda juga merasa dirugikan dengan kepemilikan mesin cetak oleh Nitisemito.
Pasalnya, pers bumiputera yang diterbitkan oleh mesin cetak tersebut bisa menyaingi penjualan pers kolonial yang dikelola oleh kulit putih. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)