harapanrakyat.com,- Pada masa perang kemerdekaan di Yogyakarta, terdapat peran krusial dari pedagang. Namun, seiring dengan berkembangnya waktu, peran para pedagang tersebut terlupakan oleh zaman.
Sangat jarang guru sejarah Indonesia di sekolah menyampaikan peristiwa ini kepada siswa didiknya. Akibat hal tersebut, nasionalisme bangsa ini menurun.
Padahal beberapa pedagang yang ikut andil dalam perang kemerdekaan saat itu berasal dari golongan wanita.
Mereka memanfaatkan profesinya untuk berkamuflase. Ada yang menjadi kurir senjata, penyampai berita, hingga pemasok logistik untuk para pejuang gerilya.
Menggunakan teknik penyamaran (kamuflase) para pedagang yang ada di Pasar Beringharjo berhasil memberikan energi positif untuk pejuang republik.
Saat perang kemerdekaan di Yogyakarta, mereka bekerja sama dengan rakyat menjalin kekuatan untuk menumpas kolonialisme yang hendak tumbuh kembali di bumi pertiwi.
Para pedagang sukses melakukan itu semua tanpa sedikitpun menaruh kecurigaan pihak lawan. Tidak hanya pada masa agresi militer Belanda, tampaknya profesi mata-mata dengan menyamar jadi pedagang juga terjadi pada masa transisi pendudukan penjajah Jepang tahun 1943-1944.
Baca Juga: Pendudukan Jepang Tahun 1942, Rakyat Garut Geram Fasilitas Belajar Anak Bumiputera Hancur
Peran Pedagang dari Golongan Gerwani dalam Perang Kemerdekaan di Yogyakarta
Menurut R. Indiah Rahayu dalam Majalah Sejarah dan Budaya, Th. X, No. (1) Juni (2016) berjudul “Menulis Sejarah Sebagaimana Perempuan”, terdapat peran penting pedagang dari golongan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) di Yogyakarta pada masa perang kemerdekaan.
Peristiwa ini dipelopori oleh Ketua Umum Gerwani saat itu yang bernama Umi Sardjono. Konon, Umi menyamar jadi pedagang sayur di Pasar Beringharjo untuk memberikan informasi kepada pejuang republik yang sedang berada di perbatasan Bantul, dan kota Yogyakarta.
Selain memberi informasi, Umi Sardjono juga membekali pejuang republik senjata. Senjata tersebut ia ambil dari tangsi militer Belanda yang letaknya tidak jauh dari Pasar Beringharjo. Umi menyembunyikan senjata itu ke dalam kotak sayur.
Agar tidak dicurigai oleh tentara Belanda, senjata curian Umi ditutup dengan sayuran segar pada bagian atasnya. Selain senjata, terdapat pula amunisi yang jumlahnya ratusan butir dalam kotak sayur sebelah kiri.
Senjata ini Umi bawa menggunakan sepeda untuk membantu laskar republik saat perang kemerdekaan di Yogyakarta. Ia lantas menyimpan sepeda itu di titik yang sudah disetujui sebelumnya dengan laskar republik.
Setelah mereka sampai di tempat tersebut, sepeda itu dibawanya ke dalam hutan untuk mengambil isi kotaknya.
Baca Juga: Undang-Undang Desentralisasi Tahun 1903: Kebijakan Kolonial Lahirkan Budaya Demokrasi di Garut
Kemudian, untuk menghilangkan jejak, tentara republik mengubur sepeda itu di tempat yang jauh dari hilir jalan raya.
Membantu Mendapatkan Informasi tentang Keadaan Wilayah Kota
Peran para pedagang di Pasar Beringharjo tidak hanya membantu pasukan republik untuk mendapatkan senjata dan amunisi. Akan tetapi mereka juga telah membantu pejuang perang kemerdekaan di Yogyakarta untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan wilayah kota.
Adapun informasi yang pedagang Pasar Beringharjo sampaikan itu berbentuk surat. Mereka biasanya memberikan surat itu di tengah jalan dengan agen pejuang yang menyamar jadi rakyat sipil.
Selain itu, ada pula yang mengirim surat rahasia menggunakan bantuan burung merpati. Surat yang menginformasikan tentang keadaan wilayah kota termasuk ke dalam kategori surat penting.
Oleh sebab itu, para pedagang tidak akan main-main mengurus pemberitaan ini sampai tiba di tangan pejuang republik. Mereka akan memastikan surat itu sampai, betapapun berat rintangannya.
Karena bantuan dari pihak pedagang inilah keadaan kota sedikit tenang. Pasalnya, penduduk di sana sudah tahu jika pejuang kemerdekaan di Yogyakarta akan menyerang markas Belanda secepat mungkin.
Baca Juga: Kisah Orang-Orang Kebal Pejuang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949
Maka dari itu, di Yogyakarta terdapat Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949. Monumen ini sebagai bentuk penghargaan atas jasa para pahlawan yang menyerang tentara Belanda dalam perang kemerdekaan di kota Yogyakarta.
Keterampilan Menyamar Diperoleh Pedagang dari Pelatihan Fujinkai
Menurut Suharsono dalam Majalah Jantra, Vol. 1, No. (2) (2006) berjudul “Sumbangan Wanita Yogyakarta pada Masa Revolusi”, keterampilan menyamar para pedagang dari kalangan wanita di Pasar Beringharjo, Yogyakarta rupanya berasal dari pelatihan Fujinkai pada zaman Jepang.
Mereka belajar pada tentara Jepang tentang cara mempertahankan diri dari musuh menggunakan taktik intelijen.
Para wanita pribumi kemudian mendapatkan materi pekerjaan intelijen sampai selesai. Sehingga mereka jadi paham bagaimana cara kerja intelijen pada zaman Jepang yang bisa bermanfaat untuk kepentingan bersama pada masa agresi militer Belanda.
Banyak dari pentolan Fujinkai yang menjalankan misi intelijen. Salah satu penyamaran popular kala itu yakni dengan menjadi pedagang.
Konon peran pedagang merupakan salah satu jenis profesi kamuflase yang jarang ditebak musuh. Semua orang tidak akan percaya jika seorang pedagang sayur (misalnya) adalah intelijen pejuang republik.
Namun, pernah ada satu peristiwa kelam yang membuat pejuang perempuan (menyamar) menjadi tukang telur ditembak mati oleh tentara Jepang.
Musibah ini terjadi di penjara Wirogunan, Yogyakarta. Perempuan penjual telur itu adalah agen pejuang dalam perang kemerdekaan di Yogyakarta yang hendak membebaskan tahanan dalam penjara tersebut. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)