harapanrakyat.com,- Zulkifli Lubis dikenal sebagai Bapak Intelijen Indonesia dan pencetus berdirinya BIN (Badan Intelijen Negara). Konon sebelum terjun ke dunia intelijen, pria berperawakan kurus tinggi ini merupakan murid terbaik PETA.
Zulkifli Lubis adalah salah seorang angkatan militer Pembela Tanah Air (PETA) yang berprestasi. PETA merupakan badan pendidikan militer zaman penjajah Jepang yang anggotanya banyak direkrut dari golongan pemuda bumiputera.
Pemuda berkumis tipis dan punya postur proporsional layaknya seorang tentara ini lahir pada tanggal 26 Desember 1923, dan wafat 23 Juni 1993.
Sebelum memasuki dunia militer, Zulkifli remaja mendapatkan pendidikan yang cukup dari kata layak. Ia pernah mengenyam bangku pendidikan berbahasa Belanda seperti, HIS dan MULO.
Begitupun dengan hobinya yang tidak seperti kebanyakan anak-anak bumiputera yang lain. Karena banyak bergaul dengan orang Belanda, Zulkifli Lubis hobi membaca surat kabar berbahasa Belanda bertajuk Deli Blaad.
Menurut sejumlah catatan, dari kegemarannya membaca Deli Blaad lah Zulkifli Lubis mulai mengenal tokoh nasional seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan lainnya.
Melalui Deli Blaad pula Zulkifli Lubis bercita-cita menjadi orang besar seperti tokoh-tokoh nasional tersebut.
Baca Juga: Kisah Orang-Orang Kebal Pejuang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949
Bapak Intelijen Indonesia yang Terampil Menguasai Psikologi Masyarakat
Menurut Ken Conboy dalam “Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia” (2007), setelah lulus dari MULO, Zulkifli Lubis kemudian mendaftar jadi anggota PETA.
Tepat pada tahun 1944 pendaftarannya diterima dan ia harus menunaikan masa pendidikan selama beberapa bulan di markas militer Nippon, Jatinegara.
Selama dalam masa pendidikan Zulkifli menonjolkan prestasi yang cukup baik. Karena hal ini Komandan Seinen Dojo bernama Rokugawa mengajaknya untuk belajar militer dan intelijen di Singapura dan Malaysia.
Singkat cerita, Zulkifli pun bersedia dan menerima ajakan sang komandan tak lebih dari satu jam. Setelah sampai di Singapura, ia diperkenalkan dengan seorang intelijen Jepang bernama Mayor Ogi.
Konon dari perkenalan ini membuat Zulkifli Lubis terampil menguasai ilmu intelijen dalam bidang psikologi masyarakat.
Zulkifli menguasai bagaimana cara mengetahui psikologi masyarakat dalam satu kota. Ia bisa menebak semua penduduk di kota tersebut pro atau anti Jepang.
Selain itu ia juga terampil menyiapkan langkah preventif untuk meminimalisir kerusuhan massa. Keterampilannya tersebut ia praktikan pada saat bergabung menjadi pejuang kemerdekaan di tahun 1945.
Baca Juga: Didi Kartasasmita Mantan KNIL asal Ciamis, Pencetus Berdirinya TKR
Zulkifli Lubis Dinobatkan Menjadi Bapak Intelijen
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, Zulkifli Lubis mencetuskan organisasi intelijen pertama bernama Badan Istimewa. Melalui organisasi tersebut ia bertugas untuk membentengi keamanan negara di balik layar.
Agresi militer Belanda tahun 1947-1948 membuat Badan Istimewa bekerja ekstra. Zulkifli Lubis kemudian merekrut 35 pemuda dari berbagai daerah untuk menjadi angkatan pertama Badan Istimewa.
Ia mendidik langsung pemuda tersebut dalam kemelut peperangan melawan Belanda. Pelajaran intelijen yang Zulkifli Lubis turunkan pada anak didik pertamanya. Seperti teknik mata-mata, taktik spionase, kontra intelijen, propaganda, konspirasi, pengintaian, penghubung, dan kamuflase.
Menurut sejumlah sumber, Badan Istimewa yang berdiri pada bulan September 1945 itu telah memberikan pengetahuan panjang tentang dunia intelijen di Indonesia.
Tanpa adanya Zulkifli Lubis sebagai Bapak Intelijen Indonesia yang memulai ini, besar kemungkinan pertahanan militer republik kita zaman itu tidak akan kuat menahan serangan Belanda. Dan mereka akan kembali menguasai Indonesia.
Mendirikan BRANI, Cikal Bakal BIN
Baca Juga: Gerakan Bawah Tanah, Strategi Pemuda Usir Jepang dari Indonesia
Tak lama setelah terbentuk Badan Istimewa pada September 1945, Zulkifli Lubis kemudian menginisiasi lembaga intelijen nasional yang lebih besar lagi bernama Badan Rahasia Negara atau BRANI pada 7 Mei 1946.
Melansir berbagai sumber yang ada, pembentukan BRANI dianggap menjadi cikal bakal berdirinya Badan Intelijen Negara atau BIN. Maka dari itu, setiap tanggal 7 Mei diperingati sebagai hari kelahiran BIN.
Dalam perjalanan BRANI, Zulkifli Lubis banyak merekrut anggotanya dari organisasi militer yang berkecimpung dalam politik.
Bapak Intelijen Indonesia ini merekrut sejumlah pelajar Yuugeki, yakni perkumpulan gerilya didikan Jepang di Salatiga, untuk menjadi anggota BRANI.
Mengapa diambil dari Yuugeki? Zulkifli Lubis meyakini jika anggota Yuggeki memiliki loyalitas yang kuat dalam memperjuangkan kemerdekaan. Mereka juga memiliki dua keahlian sekaligus, yakni ahli militer dan politik.
Ia juga menganggap seluruh anggota Yuugeki selalu bekerja dengan totalitas. Golongan seperti ini lah yang Zulkifli cari untuk menjadi anggota intelijen negara.
Mereka yang bekerja dengan totalitas akan ikhlas menghadapi situasi apapun. Selain itu, anggota intelijen juga harus bekerja dengan objektif.
Mereka wajib mencari kebenaran yang absolut. Resiko menjadi intelijen demikian sangat tinggi. Jika mereka berhasil mencari kebenaran mungkin bisa sukses dalam karirnya.
Tapi kalau ternyata kebenaran mereka meleset bisa menyebabkan celaka. Itulah resiko paling berat dari seorang intelijen menurut Zulkifli Lubis sebagai Bapak Intelijen Indonesia. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)