harapanrakyat.com,- Daoed Joesoef merupakan Mendikbud zaman orde baru yang namanya terkenal di kalangan mahasiswa. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini terkenal karena program kontroversialnya, yakni Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK), dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK).
Menteri lulusan Universitas Sorbonne, Prancis ini dianggap telah mencederai nilai-nilai demokrasi lantaran memberlakukan NKK dan BKK.
Menurut sejumlah aktivis mahasiswa pada zaman orde baru, program NKK dan BKK telah mempersempit gerakan berekspresi.
Mahasiswa tidak bisa bebas menyampaikan pendapat. Apalagi melakukan gerakan yang bersifat politis.
Kendati begitu, masih banyak mahasiswa yang ngotot melakukan gerakan-gerakan di jalanan. Akibatnya banyak mahasiswa yang berakhir dalam jeruji penjara.
Konon Daoed Joesoef terinspirasi menerapkan kebijakan ini dari sistem pendidikan yang ada di Prancis.
Menurutnya, di negara dengan ciri khas Menara Eiffel itu sistem pendidikan tidak bisa dicampur adukan dengan politik. Artinya, lingkungan kampus benar-benar murni untuk mengasah keilmuan.
Mahasiswa hanya bisa menganalisa gejala politik untuk merumuskannya ke dalam sebuah penelitian ilmiah. Baru setelah mahasiswa lulus dari kuliah dan ingin berpolitik, maka mereka akan bergabung ke dalam sebuah partai.
Baca Juga: Ridwan Kamil Bawa Beasiswa Pendidikan untuk Jawa Barat
Mendikbud Zaman Orde Baru Hapus Libur Ramadhan dan Pelajaran Agama
Selain kontroversi dalam menerbitkan kebijakan NKK dan BKK, publik juga pernah menyoroti nama Daoed Joesoef karena menginisiasi penghapusan libur Ramadhan. Hingga menghilangkan pelajaran agama di sekolah-sekolah.
Sebagian pengamat menilai kebijakan kontroversi tersebut berkaitan erat dengan agenda kerja Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Ini adalah lembaga rahasia negara yang kerap menghasilkan penelitian di ranah ekonomi dan pertahanan.
Menurut Daoed Joesoef, kebijakan ini untuk menciptakan kesetaraan beragama. Artinya, negara tidak mengistimewakan mayoritas sehingga toleransi akan berakar kuat di setiap lini masyarakat.
Namun, sejumlah pihak menanggap kebijakan kontroversi Mendikbud zaman orde baru itu bertentangan. Pernyataan ini sebagaimana mengutip peneliti sekaligus sejarawan kondang, Dr. Asvi Warman Adam.
Menurut Asvi, akibat pemberlakuan kebijakan tersebut, nama Daoed Joesoef erat dikaitkan seorang misionaris Katolik hingga Tionghoa.
Adapun CSIS dalam genggaman Daoed Joesoef pada akhirnya menjadi wadah pertemuan aktivis 66. Seperti Jusuf dan Sofyan Wanandi dengan sejumlah Perwira Angkatan Darat garis sekuler.
Baca Juga: Curhat Presiden Soeharto 1984: Difitnah Punya Selir Bintang Film Terkenal
Kedudukan mereka kuat dalam pemerintahan saat itu. Jadi, walaupun diterpa banyak kritikan sampai dicap anti Islam, Daoed Joesoef dan kolega kerjanya tetap eksis dalam kursi birokrasi.
Hanya Satu Periode, Jabatan Mendikbud Beralih ke Nugroho Notosusanto
Pemikiran yang terlalu ekstrim dari seorang Daoed Joesoef membuat Presiden Soeharto berpikir keras.
Tak mau ambil pusing karena sudah berbeda pandangan membuat Presiden Kedua RI ini mencabut jabatan Menteri dari Daoed, dan memindahkannya pada Nugroho Notosusanto.
Nugroho Notosusanto terkenal sebagai sejarawan militer yang dekat dengan Soeharto. Berbagai proyek kesejarahan yang diarahkan oleh negara berhasil ditangani Nugroho dengan baik.
Hal ini yang membuat Soeharto senang dengan cara kerja Nugroho, sehingga ia mendapat jabatan mentereng menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1983.
Kendati sudah tidak lagi menjabat sebagai Mendikbud zaman orde baru, nama Daoed Joesoef tetap muncul di berbagai media nasional. Pemikiran idealisnya terus tumbuh dan ia kembangkan melalui tulisan-tulisan dalam surat kabar.
Mahasiswa terus mencapnya sebagai tokoh anti pergerakan. Mereka menentang setiap pemikiran Daoed yang tersebar melalui berbagai media.
Baca Juga: Rhoma Irama, Raja Dangdut dari Tasikmalaya yang Kritis dan Hampir Dibunuh Orde Baru
Mahasiswa tidak sudi berkolaborasi dengan Daoed untuk menciptakan kemajuan bangsa dan negara pada era orde baru.
Hal ini kemudian membawa Daoed tetap menjadi pribadi yang keras kepala dan tidak bisa berdialog dengan kabilah muda.
Menginisiasi Konservasi Pemugaran Candi Borobudur
Kendati selama menjabat Mendikbud zaman orde baru penuh dengan cibiran mahasiswa, lantas apa saja kiprah positif yang pernah Daoed Joesoef lakukan?
Melansir dari berbagai sumber, pada akhir tahun 1970-an nama Daoed Joesoef terkenal pernah menginisiasi program konservasi dan pemugaran situs budaya Candi Borobudur.
Ia berhasil membujuk Dewan Keamanan PBB mencairkan dana UNESCO untuk kepentingan tersebut pada tahun 1978.
Ketika dana itu cair dari UNESCO, Daoed Joesoef segera mempersiapkan penanganan konservasi Candi Borobudur yang saat itu tampak lusuh tak terawat.
Melalui gagasan itulah orang mengenal Daoed sebagai sosok yang konsen dalam bidang budaya. Padahal secara basic pendidikannya tidak relevan dengan gagasan tersebut.
Selama di Prancis, Daoed konsen dalam bidang pertahanan dan ekonomi. Namun, karena pergaulan dan daya literasi yang luas, segala informasi dan pengetahuan tentang budaya misalnya, bisa terserap dengan baik olehnya.
Selain itu, sebelum menjadi Mendikbud pada zaman orde baru, Presiden Soeharto tertarik pada Daoed Joesoef karena gagasannya yang bisa dicerna dengan mudah oleh berbagai kalangan.
Adapun salah satu gagasan yang Soeharto sukai dari Daoed waktu itu adalah konsep trilogy pembangunan yang meliputi:
(1) Pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan
(2) Pembangunan Ekonomi
(3) Pembangunan Pertahanan dan Keamanan.
Sebagian pengamat meyakini tiga konsep inilah membuat Daoed melahirkan program NKK-BKK saat menjabat Mendikbud pada zaman orde baru. Program tersebut tidak lain adalah poin penting dari inti ketertarikan Soeharto saat itu. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)