harapanrakyat.com,- Laskar kemerdekaan Barisan Banteng di Cianjur merupakan perkumpulan pejuang kemerdekaan yang tersohor oleh publik zaman itu. Karena Barisan Banteng mempelopori penggunaan bambu runcing sebagai senjata.
Tidak main-main, Barisan Banteng sering menggunakan bambu runcing untuk membunuh musuhnya. Tak hanya mengandalkan ketajaman bambu, laskar Barisan Banteng juga kerap membubuhkan racun pada bagian ujung bambu yang melancip.
Tujuannya jelas, meskipun bambu mereka tidak sampai membunuh (sekedar melukai kulit), musuh akan tetap mengalami sekarat.
Pasalnya, racun yang mereka bubuhkan di pucuk bambu itu mengandung bisa binatang yang sangat mematikan.
Berdasarkan sejumlah data sejarah Indonesia, Barisan Banteng terbentuk dari laskar zaman Jepang pada tahun 1944.
Kala itu mereka bagian dari pemuda yang diberdayakan Nippon untuk jadi pasukan cadangan menghadapi Sekutu, apabila Jepang terdesak dalam Perang Dunia II.
Namun, tidak sampai tujuan Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu pada tahun 1945. Saat itu pemuda mendapatkan pelatihan militer, termasuk Barisan Banteng, bebas tak punya komando. Akhirnya golongan nasionalis mengambil alih mereka untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: Kisah Bupati Cianjur RAA Wiranatakusumah Tumpas Perjudian Tahun 1912
Pertempuran Laskar Kemerdekaan Barisan Banteng di Cianjur
Menurut Yoseph Iskandar, dkk dalam buku berjudul “Perang Konvoi: Sukabumi-Cianjur (1945-1946), (2016), seluruh anggota Barisan Banteng mengadakan pertempuran melawan Sekutu di Cianjur, Jawa Barat.
Menariknya tidak hanya tentara Sekutu yang mereka serang, tetapi tentara Nippon yang dulu mengajarkan taktik perang ikut dihabisinya.
Adapun pemimpin Barisan Banteng yang saat itu menggempur wilayah Cianjur bernama Muhammad Ali. Menurut sejarawan Hendi Jo, markas Barisan Banteng terletak di bilangan Pasar Suuk yang sekarang menjadi jalan Barisan Banteng.
Dari markas Pasar Suuk, Barisan Banteng bentrok dengan pasukan musuh Yon 3/3 Gurkha Rifles. Mereka membawa peralatan tempur lengkap. Bahkan kendaraan berlapis baja seperti tank, panser, dan truk-truk yang berisi puluhan tentara Sekutu siap perang.
Anehnya, walaupun tentara musuh selengkap itu, Barisan banteng yang merupakan laskar kemerdekaan di Cianjur itu mampu memenangkan pertempuran tersebut.
Hanya bermodal bambu runcing mereka bisa membuat musuhnya lari terbirit-birit tak menentu arah. Menurut sejumlah pengamat militer zaman itu, hal ini bisa terjadi karena laskar Barisan Banteng melakukan penyerangan secara terstruktur.
Baca Juga: Sejarah Gundik di Jawa Barat, Wanita Simpanan Belanda dari Golongan Buruh Perkebunan
Telik Sandi Sekutu Telusuri Keberadaan Barisan Banteng
Tak beberapa lama setelah kekalahan tentara Sekutu oleh pasukan laskar kemerdekaan Barisan Banteng di Cianjur, petinggi tentara mereka pun menebar beberapa telik sandi untuk menelusuri keberadaan markas Barisan Banteng.
Mereka melakukan misi intelijen untuk membalaskan dendam atas jatuhnya beberapa korban dari peristiwa peperangan tersebut.
Tentara Sekutu menyewa penghianat (pribumi) untuk melakukan penyamaran (pura-pura menjadi bagian dari Barisan Banteng).
Saat melakukan tugas haram itu, si penyamar sudah tahu letak markas Barisan Banteng. Yang ia lakukan selanjutnya adalah menggiring orang berpengaruh dalam laskar itu, yakni Soeroso dan Slamet ke markas Sekutu.
Mereka dikhianati oleh bangsa sendiri, Soeroso dan Slamet percaya jika perkataan si penyamar tadi benar. Konon Soeroso dan Slamet diajak ke warung nasi untuk makan siang tanpa curiga.
Sebelumnya si penyamar membawa tentara Sekutu ke tempat tersebut. Tanpa basa-basi sejumlah timah panas bersarang ke dalam tubuh mereka berdua. Soeroso dan Slamet ambruk tak bernyawa.
Akibat peristiwa itu, laskar kemerdekaan Barisan Banteng telah kehilangan sosok berpengaruhnya. Mereka geram dan ingin membalaskan dendam. Apalagi kepada pengkhianat yang berasal dari orang pribumi.
Baca Juga: Sumitomo Jepang Menangkan Tender TPPAS Legok Nangka Bandung
Kendati begitu, kejadian ini membuat mereka semakin waspada dari sebelumnya. Semua orang baru yang masuk markas akan diperiksa dengan ketat.
Barisan Banteng Diwarisi Anggota yang Berani Mati
Barisan Banteng diwarisi anggota yang berani mati, salah satu contohnya adalah Mohammad Toha. Melansir dari berbagai sumber, Moh. Toha gugur dalam pertempuran.
Kronologis gugurnya Moh. Toha juga sarat dengan kisah heroik. Ia wafat setelah meledakan diri sendiri dalam gedung penyimpanan mesiu milik Sekutu yang terletak di Dayeuhkolot, Bandung.
Menurut Hendi Jo dalam buku “Orang-orang di Garis Depan” (2019), selain Moh. Toha, beberapa anggota laskar kemerdekaan Barisan Banteng juga ikut andil dalam menggelorakan semangat Bandung Lautan Api.
Mereka mengajak massa Jawa Barat untuk membumihanguskan Kota Kembang bersama-sama. Tujuannya jelas, massa menolak kehadiran Sekutu di Bandung.
Sedangkan, menurut buku “Sejarah Daerah Jawa Barat” (1981), selain menggelorakan peperangan, sejumlah anggota Barisan Banteng juga kerap mengintervensi perjanjian politik Belanda dengan golongan nasionalis.
Antara lain, menentang Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dinilai tidak konsisten mendukung perundingan Linggarjati dan Renville.
Laskar kemerdekaan Barisan Banteng geram dengan tokoh nasional yang tidak bisa konsisten dalam mengambil keputusan. Akibatnya mereka mengambil jalan masing-masing dengan melanggar seluruh isi perjanjian. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)