Pola perjuangan rakyat pada masa revolusi fisik tahun 1945 memiliki keberagaman yang menarik. Misalnya di Karawang, rakyat yang berjuang melawan penjajah didominasi oleh golongan Jawara (orang-orang kuat).
Para Jawara di Karawang terkenal tidak bisa diatur oleh siapapun termasuk militer Jepang. Mereka geram dan balik memberontak pada Jepang menuntut kemerdekaan. Jawara Karawang bergabung bersama rakyat untuk mengusir siapapun yang menjadi penghalang kemerdekaan.
Suasana ini membuat Karawang mencekam. Apalagi sebelumnya para Jawara telah membantai polisi dan pamong praja pribumi. Karena kesaktiannya orang kebal di Karawang membuat semua orang takut untuk memisahkannya.
Kekuasaan orang-orang kebal membuat pengaruhnya kuat di Karawang. Mereka kemudian bergabung dengan tokoh politik untuk menginisiasi pembentukan Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Karawang.
Baca Juga: Kesaktian Panglima Besar Jenderal Soedirman, Punya Keris dan Bisa Lolos Kepungan Belanda
Hasil rapat KNID Karawang menetapkan Mantan Komandan Codanco Sumarna menguasai jabatan tertinggi di daerah tersebut. Berdasarkan kesepakatan bersama Sumarna didapuk sebagai pemimpin Karawang untuk lembaga pertahanan yang meliputi kepolisian dan kepamongprajaan.
Jawara Karawang Membantai Angkatan Laut Jepang
Menurut Edi S Ekadjati, dkk dalam buku berjudul, “Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Barat” (1979), pada akhir tahun 1945 telah terjadi pembantaian hebat yang dilakukan oleh Jawara Karawang terhadap Angkatan Laut Jepang.
Sebelum pembantaian ini dilakukan para Jawara Karawang melucuti terlebih dahulu persenjataan milik mereka. Setelah mereka bersedia melepaskan senjata tanpa diduga sebelumnya para Jawara tersebut menyerangnya sampai tewas.
Berdasarkan arsip yang ditemukan oleh penelitian di atas, setidaknya terdapat 100 prajurit Angkatan Laut Jepang yang tewas dalam peristiwa tersebut.
Mereka adalah prajurit Jepang yang sebelumnya sedang berada dalam perjalanan dari Jakarta ke Ciater, tetapi di tengah-tengah truk melaju mereka dihadang oleh ratusan warga Karawang yang dipimpin oleh sejumlah Jawara.
Pembantaian Angkatan Laut Jepang membuat satuan militer Nippon geram. Mereka berencana untuk membalas apa yang telah diperbuat oleh Jawara Karawang terhadap saudaranya. Namun, mereka belum menemukan strategi bagaimana caranya untuk merealisasikan serangan balas dendam tersebut.
Tempat Pembantaian Angkatan Laut Jepang
Masih menurut Edi S Ekadjati dkk (1979), penelitian yang dilakukan oleh Tim Penelitian Sejarah dan Kebudayaan Indonesia mengklaim tempat pembantaian Angkatan Laut oleh kelompok Jawara ini terletak di sepanjang jalan antara Karawang, Tambun, dan Klender.
Para Jawara Karawang berbondong-bondong datang ke arah Selatan Jakarta untuk menghadang Jepang. Awalnya mereka hanya ingin melucuti senjatanya saja namun emosi para Jawara tak tertahankan lagi setelah salah satu anggota Jepang berniat menembaknya dari belakang.
Peristiwa ini ternyata membuat geger masyarakat luas antara Karawang-Jakarta. Bahkan beberapa berita mengabarkan jika kejadian di Karawang tersebut mempelopori gerakan massa melucuti tentara Jepang di daerah Purwakarta.
Baca Juga: Peristiwa Cikini 1957, Upaya Pembunuhan Soekarno Menggunakan Granat
Akibat pembantaian Angkatan Laut Jepang oleh Jawara di Karawang berkecamuk, pimpinan KNID, Komandan Codanco Sumarna melakukan rapat bersama Bupati, Polisi, dan Badan Keamanan Rakyat (BKR).
Rapat tersebut menghasilkan petisi bahwa Jepang harus menyerahkan seluruh senjatanya sebelum Sekutu datang menguasai kembali Jakarta.
Dibantai Balik Tentara Jepang
Nampaknya petisi tersebut tidak ditanggapi oleh tentara Jepang. Sebaliknya, tentara Jepang merencanakan pembantaian balasan terhadap rakyat Karawang pasca peristiwa meninggalnya 100 prajurit Angkatan Laut Jepang oleh Jawara.
Sebagaimana misi intelijen, sebelum penyerangan dilakukan terdapat sejumlah mata-mata Jepang yang mengintai situasi Karawang.
Baca Juga: Dapur Umum Zaman Revolusi, Pusat Logistik Pejuang yang Terlupakan Sejarah
Kebetulan saat itu para Jawara dan rakyat umum sedang lengah, mereka bingung mau berbuat apa dengan senjata yang telah direbut dari pasukan Angkatan Laut Jepang.
Dalam situasi lengah seperti ini, pasukan Jepang datang dari arah Selatan Karawang untuk membantai habis rakyat pribumi. Mereka menembak sejumlah Jawara dengan cara membabi buta. Selain ditembak korban pribumi yang berjatuhan disebabkan oleh sabetan bayonet dan samurai tentara Nippon.
Kejadian ini membuat Karawang semakin mencekam, suasana revolusi membara. Rakyat yang awalnya semangat berapi-api untuk mengusir penjajah kini jatuh ketakutan karena sejumlah pemimpinnya ada yang ditembak dan ditahan Jepang.
Meskipun semangat rakyat Karawang sempat padam, tak membuat BKR di daerah tersebut lantas diam. Prajurit republik yang datang dari Jakarta membantu penyelesaian masalah di atas.
Mereka juga menjadi badan pertahanan yang menyemangati rakyat Karawang supaya terus berjuang melawan penjajah sampai Indonesia benar-benar Merdeka. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)