harapanrakyat.com,- Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pangandaran, langsung mengecek para siswa SMP di Mangunjaya yang belum bisa baca tulis.
Kepala Disdikpora Pangandaran Agus Nurdin mengatakan, ia sengaja datang ke SMPN 1 Mangunjaya usai membaca pemberitaan adanya 29 siswa yang tidak bisa baca tulis di sekolah tersebut.
Agus Nurdin pun memberikan motivasi kepada para guru di SMPN 1 Mangunjaya, karena masalah tersebut adalah tantangan bagi tenaga pendidik.
“Kita tidak harus malu memiliki anak yang masih belum bisa membaca. Karena siapa tahu anak tersebut memiliki bakat dan potensi lainnya,” kata Agus Nurdin kepada harapanrakyat.com, saat ditemui di ruang Kepala SMPN 1 Mangunjaya, Jumat (4/8/2023).
Ia pun mendorong agar para guru di SMP Mangunjaya tersebut memberikan waktu dan perhatian lebih untuk membimbing 29 siswa yang belum bisa membaca dan menulis.
Hal itu supaya para siswa tersebut bisa menyelesaikan tugasnya, memiliki kompetensi membaca dan menulis, serta potensi lainnya.
“Bagi yang belum bisa membaca kita fokuskan untuk mendapatkan bimbingan dan perhatian lebih, agar anak-anak ini bisa mencapai kemampuan potensinya masing-masing,” ujar Agus Nurdin.
Harapan Kepala Disdikpora Pangandaran kepada Siswa SMP di Mangunjaya
Baca Juga: Aneh, Puluhan Siswa SMPN 1 Mangunjaya Pangandaran Belum Bisa Baca Tulis
Pihaknya pun berharap kedepannya menjadi catatan bahwa setiap guru SD maupun SMP harus memperhatikan satu persatu peserta didiknya. Serta memberikan tambahan waktu pelajaran kepada para siswa tersebut.
“Saya yakin setiap anak punya potensi, bakat dan minat masing-masing. Kita tidak tahu 29 anak ini minatnya pada pelajaran apa. Mungkin pelajaran seni, olahraga atau yang lainnya. Saya optimis mereka bisa kita dorong dengan kerjasama dari teman-teman guru SMPN 1 Mangunjaya ini,” katanya.
Ketika ditanya apakah di sekolah lain ada juga siswa yang belum bisa baca tulis, Agus Nurdin mengaku pihaknya belum melihat atau mendapat informasi mengenai hal itu.
Kalau masih ada, menurutnya itu tidak masalah. Pihaknya akan evaluasi dan terus mendorong agar kemampuan anak-anak tersebut menjadi lebih baik.
“Hanya kalau kita lihat setiap SMP itu ada raport mutu pendidikan masing-masing. Salah satu indikatornya kemampuan literasi anak-anak. Itu yang menjadi indikator guru pada satuan pendidikan masing-masing untuk melakukan pembinaan,” terangnya.
Sedangkan, jika berbicara indeks kinerja, kata Agus Nurdin, hal itu merupakan sebuah usaha selisih input ke output. Jangan melihat anak tidak bisa baca.
“Jadi 29 siswa yang awalnya tidak bisa baca, ketika lulus 2 tahun menjadi lancar membaca. Artinya, kinerja SMP di Mangunjaya ini cukup baik, handal. Siswa yang asalnya tidak bisa menjadi bisa. Ukurannya jangan keadaan sekarang yang tidak bisa membaca,” pungkas Agus Nurdin. (Madlani/R3/HR-Online/Editor: Eva)