harapanrakyat.com,- Tak pernah ada yang tahu sebelumnya jika ternyata keberadaan dapur umum zaman revolusi punya peran andil dalam kemerdekaan Indonesia. Hal ini membuat sejarah Indonesia berjalan pincang.
Karena tidak semua kisah heroik diceritakan lengkap, termasuk keberadaan dapur umum dulu. Catatan tentang dapur umum ini seolah terlupakan oleh sejarah.
Padahal jika dapur umum tidak ada zaman itu, maka dari mana para pejuang mendapat asupan energi? Apakah mereka akan bertahan berhari-hari tanpa makanan? Tentu itu Mustahil.
Sama seperti pejuang yang mengangkat senjata, ibu-ibu yang memasak di dapur umum juga punya andil penting dalam kemerdekaan Indonesia.
Pada kesempatan kali ini akan menelusuri jejak sejarah dapur umum zaman revolusi. Apa saja sumbangsih badan militer yang mengurusi logistik ini? Selengkapnya simak penjelasan berikut.
Dapur Umum Zaman Revolusi, Mengurus Makanan hingga Korban Perang
Baca Juga: Phoa Keng Hek, Tionghoa Pendiri ITB yang Terlupakan Sejarah
Menurut Winarni, dkk dalam buku berjudul “Dapur Umum Masa Perang Kemerdekaan II di Yogyakarta” (2013), selain mengurusi perbekalan makanan untuk gerilyawan, orang-orang di balik tirai dapur umum juga bertugas mengurus korban perang.
Kala itu dapur umum dikelola oleh organisasi bernama Badan Oeroesan Makanan (BOM). Mereka yang menjadi anggota serta pengurus organisasi ini membuat pembagian tugas memasak, dan mengurus korban peperangan.
Adapun mereka yang bertugas mengurus korban perang biasanya bekerja di lapangan. Seperti anggota Palang Merah, anggota BOM urusan korban perang akan mengevakuasi gerilyawan yang terluka untuk segera mendapatkan penanganan sementara (pengobatan).
Oleh sebab itu, Winarni mengklaim jika para petugas BOM bertugas mencari obat-obatan. Mereka juga memiliki kewajiban mencari dana bantuan untuk kepentingan logistik.
Ternyata sungguh berat tugas mereka saat itu. Sayangnya sampai sekarang jasa orang-orang yang bertugas di dapur umum zaman revolusi itu terlupakan sejarah.
Kendati begitu, pada tahun 2013 lalu beberapa lembaga museum di Indonesia mulai menghargai jasa-jasa para petugas dapur umum.
Salah satunya adalah Museum Benteng Vredeburg dengan diorama sejarah yang menampilkan suasana dapur umum di masa perang kemerdekaan.
Baca Juga: Kiai AR Fachruddin, Mantan Ketua Umum Muhammadiyah yang Pluralis
Berpusat di Kota Yogyakarta
Badan Oeroesan Makanan (BOM) berpusat di kota Yogyakarta. Pimpinan utama organisasi perang urusan logistik gerilyawan ini bernama Ibu Ruswo.
Ruswo merupakan seorang perempuan baik hati. Sebelum perang revolusi berkecamuk, ia sering memberikan makan kepada anak-anak jalanan.
Ibu Ruswo panggilan akrabnya, merasa senang jika bisa berbagi, apalagi berbagi dalam konteks perjuangan.
Selain Bu Ruswo, beberapa wanita penting di balik dapur umum zaman revolusi dulu ada istri KH. Ahmad Dahlan. Nyai Ahmad Dahlan kemudian menganjurkan wanita-wanita Muhammadiyah untuk membantu apa yang telah diinisiasi oleh Bu Ruswo.
Wanita-wanita Muhammadiyah akhirnya membangun beberapa dapur umum untuk kepentingan logistik gerilyawan. Mereka memasak segala macam sayur dan lauk pauk. Ada juga yang bertugas menyiapkan minum dan tempat prasmanan.
Nahas, pada tahun 1948 dapur umum milik Bu Ruswo dan Wanita Muhammadiyah digempur Belanda. Tentara Sekutu yang mengamuk berhasil membuat pusat persediaan logistik gerilyawan hancur.
Namun Bu Ruswo tak kehilangan akal. Ia membuat jalan baru yang sulit ditebak. Bu Ruswo konon memindahkan dapur umum menggunakan mobil keliling.
Baca Juga: Tragedi Revolusi Berdarah, Kronik Gelap Etnis Tionghoa di Jawa Tahun 1945-1947
Mobil itu di desain dengan kendaraan umum biasa supaya tidak mencurigakan Belanda. Konon Bu Ruswo meniru mobil prasmanan milik tentara Belanda.
Menugaskan Kurir Mengantar Makanan kepada Gerilyawan
Selain menggunakan mobil keliling yang berkamuflase, dapur umum zaman revolusi milik Bu Ruswo juga dilengkapi dengan kurir yang bertugas mengantar makanan secara langsung kepada gerilyawan.
Mereka menyamar menjadi tukang sayur. Biasanya logistik matang mereka taruh dalam keranjang bertutupkan aneka varietas sayuran di atasnya.
Tugas kurir kebanyakan dilakukan oleh golongan wanita. Hal ini bertujuan agar tidak menimbulkan gerak-gerik yang bisa membuat Belanda curiga, kalau ternyata mereka bagian dari tentara republik.
Konon tugas menjadi kurir seperti ini resikonya berat sekali. Sebab bila tertangkap tangan oleh tentara musuh, akan kecil kemungkinan pulang masih bernyawa.
Kebanyakan mereka (kurir) yang tertangkap tentara Belanda akan mengalami hal yang sama, mati terkena tembakan.
Mereka dimasukan Belanda ke dalam kategori musuh berbahaya. Maka dari itu hukuman tembak adalah jawaban yang tepat untuk mereka.
Kendati menanggung banyak resiko yang berbahaya, tugas kurir dan anggota BOM di dapur umum ini tidak pernah tersampaikan pada khalayak banyak.
Padahal mereka memiliki pengalaman yang sama, dan tentu punya andil yang setara dengan para pejuang kemerdekaan yang lainnya. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)