harapanrakyat.com,- Babancong merupakan istilah kuno masyarakat Garut dalam menyebut tempat singgah sementara yang terletak di sekitar Alun-alun Garut. Sebagian pendapat menyebut babancong mirip dengan pesanggrahan yang berbentuk panggung.
Zaman dulu babancong berfungsi jadi tempat menyaksikan keramaian di alun-alun. Sedangkan, pada kesempatan berbeda terkadang pejabat Belanda sering menggunakan bangunan tersebut sebagai tempat berpidato.
Namun, banyak fakta menunjukan babancong sering digunakan sebagai tempat beristirahat pejabat kolonial Belanda.
Biasanya menir-menir Belanda akan duduk sebentar di tempat yang sering disebut Babancong untuk menenangkan pikiran setelah bekerja seharian.
Tak heran dalam ruangan babancong biasanya ditemukan beberapa surat kabar dan kursi santai. Selain berguna untuk menenangkan pikiran, babancong juga kerap menjadi tempat berdiskusi para petinggi Belanda.
Mereka biasanya mengatur rapat bersama kolega kerja. Maka dari itu, sebagian peneliti menemukan ada kursi yang seragam di atas babancong. Kemungkinan besar kursi itu dibuat berdasarkan fungsinya (fasilitas rapat).
Babancong di Alun-alun Garut, Tempat Pejabat Belanda Memutuskan Program Kerja
Baca Juga: Riwayat Tuan Holla, Meneer Belanda Sahabat Petani Teh di Garut
Menurut Farizal Hami dan Samsudin dalam Al-Tsaqafah: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam berjudul “Sejarah Perkembangan Kabupaten Garut” (Vol. 18, No. (1), (2021), pp. 28-41), babancong adalah tempat populer bagi pejabat Belanda untuk memutuskan program kerja.
Tempat itu menjadi saksi bisu lahirnya berbagai kebijakan petinggi Belanda di Garut. Hampir puluhan kebijakan kolonial lahir di tempat tersebut.
Bahkan sejumlah surat kabar zaman Belanda mengklaim jika babancong menjadi tempat penting dalam setiap keputusan pejabat di Garut.
Konon menurut keterangan dalam berita surat kabar Belanda, terpilihnya babancong sebagai tempat populer pejabat Belanda dalam memutuskan program kerja, tak jauh dari alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Tampaknya pejabat Belanda betah di babancong karena faktor udara, dan bentuk babancong yang terbuka.
Berdasarkan beberapa pengalaman pejabat Belanda di Garut, sesaat mereka memutuskan kebijakan kerja di babancong membuat pikiran semakin jernih.
Mereka sadar dan optimis saat menetapkan keputusan untuk merubah model kerja. Karena keadaan udara dingin di kota Garut langsung dirasakan bebas di atas babancong.
Baca Juga: Sejarah Mata Air Sunda Kelapa di Kantor Gubernur VOC
Tanpa menyadari secara langsung, nampaknya arsitek pembangunan babancong menjadi tokoh penting di baliknya.
Karena sang arsitek yang jenius ini, tempat singgah pejabat Belanda di Garut mendapatkan apresiasi banyak dari kalangan aristokrat kolonial. Mereka senang dengan gaya pembangunan gedung singgah sederhana yang sejuk.
Tempat Menyaksikan Hukuman Berat
Masih menurut Farizal dan Samsudin (2021), konon tidak hanya berfungsi sebagai rumah singgah dan tempat menyaksikan keramaian saja.
Namun, babancong juga pernah menyimpan kisah kelam karena menjadi tempat menyaksikan hukuman berat bagi kriminalitas bumiputera.
Dalam beberapa kutipan manuskrip kuno, alun-alun menjadi tempat populer pejabat kolonial menghakimi orang bumiputera.
Baca Juga: Sejarah Meriam si Jagur, Legenda dan Mitos Senjata Peninggalan VOC di Pelataran Kota Tua Jakarta
Bahkan pada saat pemberontakan PKI tahun 1926-1927, alun-alun menjadi tempat eksekusi mati para pelaku kerusuhan tersebut.
Oleh sebab itu, pada zaman kolonial dulu, babancong juga merekam aksi sadis hukum Belanda yang menyerupai eksekusi.
Kendati begitu, pernyataan ini perlu penelitian lebih jauh lagi dengan menggunakan metodologi sejarah kritis.
Selain itu, babancong juga kerap digunakan sebagai tempat menganalisis keadaan sosial di kota Garut. Para pejabat Belanda bertugas melihat kondisi sosial rakyatnya supaya terus terpantau dengan baik. Agar tidak ada pemicu yang bisa menimbulkan kerusuhan.
Dalam beberapa kesempatan lain para petinggi Belanda memfungsikan babancong sebagai tempat menerima tamu kenegaraan.
Sembari memperkenalkan kota Garut, para petinggi kolonial jugs mengajak tamunya memahami keadaan sosial masyarakat di atas bangunan berbentuk rumah panggung tersebut.
Baca Juga: Pembangunan Jalur Kereta Api Banjar-Parigi Terhenti 1912, Pengusaha Kopra dan Karet Merugi
Tempat Penting Pemimpin Daerah
Saat ini bangunan babancong digunakan oleh para pemimpin daerah. Salah satunya menjadi tempat favorit seorang bupati.
Guna menjaga keaslian bangunan dan fungsinya, maka babancong kerap digunakan sebagai tempat menyampaikan pidato saat upacara HUT RI.
Selain itu, Babancong di Alun-alun Garut juga sering menjadi tempat khusus. Seperti saat bupati menyaksikan pesta rakyat. Atau seni pertunjukan tradisional mulai dari jaipong, adu domba, dan pagelaran wayang golek.
Babancong menjadi bangunan yang masuk ke dalam kategori dilindungi oleh cagar budaya. Karena itu terdapat aturan khusus untuk merenovasi bangunan tersebut, yang jelas tidak sembarang material untuk merawat bangunan berikut.
Maka dari itu sampai detik ingin bangunan babancong yang ada di sekitar Alun-alun Garut masuk ke dalam salah satu bangunan bersejarah di kota dodol ini.
Selain dijaga dan memerlukan perawatan yang tepat, babancong juga harus menjadi tempat yang dihargai oleh setiap penduduknya. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)