harapanrakyat.com,- Sejumlah literature sejarah menyebut asal-usul nama Sukaresik yang merupakan nama sebuah desa di Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Nama Sukaresik menarik untuk dibahas karena penuh dengan harapan yang baik.
Menurut Idat Abdul Wahid, dkk dalam buku dengan judul “Kodifikasi Cerita Rakyat Daerah Wisata Pangandaran Jawa Barat” (1998), nama Sukaresik itu sendiri berasal dari dua suku kata.
Namun secara harfiah nama tersebut memiliki pengertian “Resep Karesikan” atau dalam bahasa Indonesia “Suka Kebersihan”.
Secara toponim nama Sukaresik mengandung harapan yang baik, karena masyarakat di daerah tersebut percaya jika kebersihan bisa membawa kehidupan menjadi sejahtera.
Begitupun dalam kepercayaan orang Islam, bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Masyarakat Sukaresik tentu memasukan pengertian tersebut untuk menamai daerahnya supaya bisa membawa keberkahan.
Pernyataan serupa dikutip dari salah seorang responden yang menyebut masyarakat Sukaresik juga sudah dari dulu sadar kebersihan.
Berikut cuplikannya, “Sapertos Sukaresik, pan tadina Cikalong, disebat Sukaresik teh supaya masyarakatnya suka kana resik, supaya bareresih we kitu”.
Baca Juga: Legenda Sungai Cirengganis Pangandaran, Tempat Suci Dipercaya Bikin Bujangan Cepat Dapat Jodoh
Asal-usul Nama Sukaresik di Pangandaran yang Punya Makanan Khas Opak
Selain kebersihan, daerah Sukaresik juga terkenal sebagai daerah penghasil opak. Di Sukaresik terdapat puluhan pembuat opak yang handal. Mereka terkenal terampil membuat opak yang rasanya renyah, enak, dan gurih.
Menurut Idat Abdul Wahid, dkk (1998), masyarakat Sukaresik punya tingkat kreativitas yang tinggi. Mereka suka berkreasi atau membuat berbagai inovasi ragam olahan bahan pangan dari alam sejak dulu.
Leluhur orang Sukaresik terus menurunkan kebiasaan tersebut sampai hari ini. Oleh sebab itu, sampai sekarang kampung Sukaresik terkenal sebagai penghasil kudapan ringan untuk buah tangan para pelancong di Pangandaran.
Menurut konsumen yang sudah jadi langganan, konon opak Sukaresik memiliki rasa yang berbeda dengan opak yang ada di daerah lain.
Opak buatan Sukaresik memiliki tingkat kerenyahan yang tinggi. Sedangkan opak-opak buatan daerah lain tidak. Bahkan jika menggigit opak tersebut meninggalkan kesan yang keras di gigi.
Struktur Nama Sukaresik Sama seperti Karang Tirta
Baca Juga: Sejarah Goa Parat Pangandaran, Petilasan Cucu Prabu Siliwangi, Penyebar Agama Islam di Tanah Sunda
Jika menggunakan pendekatan toponimi, struktur nama Sukaresik hampir memiliki kandungan nama yang sama dengan daerah Karang Tirta. Dua tempat yang sama-sama berada di Kabupaten Pangandaran itu memiliki harapan yang baik.
Mengutip pendapat sesepuh Sukaresik dalam Idat Abdul Wahid, dkk (1998), daerah Karang Tirta konon punya harapan baik yang berarti daerah yang diidam-idamkan.
Dalam bahasa Sunda sesepuh tersebut mengatakan, “Karang Tirta asalna tina obakuku da blokna ge ka Cibakuku. Hartosna “dikarang supados kacipta-cipta”. Artinya dalam bahasa Indonesia, Karang Tirta memiliki arti sebagai daerah yang sangat diidam-idamkan masyarakat.
Entah ada apa yang membuat masyarakat sekitar mengidam-idamkan daerah Karang Tirta. Namun, besar kemungkinan tempat yang mereka berarti dambakan itu tempat yang nyaman dan jauh dari berbagai gangguan jahat.
Secara toponim penamaan ini memiliki harapan yang sama dengan leluhur orang Sukaresik. Mereka menamakan Karang Tirta karena ingin tempat ini nyaman, aman, dan jauh dari gangguan jahat.
Sedangkan masyarakat Sukaresik menamakan daerahnya karena ingin sejahtera, sehat, dan makmur.
Baca Juga: Sejarah Awal Pangandaran sebagai Wilayah Pariwisata Tahun 1930-1972
Masyarakat Sukaresik Percaya Mitos Nyi Roro Kidul
Leluhur masyarakat Sukaresik mempercayai mitos Nyi Roro Kidul. Mereka memiliki keyakinan jika Ratu Pantai Selatan ini memiliki kedaulatan gaib yang kekuasaannya sampai ke daerah Sukaresik. Tepatnya berada di pantai yang dekat dengan daerah Karang Tirta.
Keyakinan akan Nyi Rorokidul membuat masyarakat Sukaresik mendukung berbagai ritual dan tradisi yang sering nelayan di Pangandaran lakukan.
Kendati masyarakat Sukaresik adalah petani, perayaan seperti hajat laut menjadi agenda yang harus mereka dukung.
Sebagian besar masyarakat Pangandaran, salah satunya di Sukaresik, meyakini jika tidak melaksanakan ritual dengan baik maka akan ada kejadian buruk yang bisa menimpa mereka.
Namun, sebagian mempercayai tradisi ini sebagai ungkapan rasa syukur pada sang Pencipta Alam. Karena masyarakat Pangandaran telah diberikan rezeki di lautan.
Mereka bisa menangkap ikan dengan banyak sehingga dapat memperoleh kehidupan yang berkecukupan. Atas rejeki itulah masyarakat menjalankan hajat laut.
Tetapi bagi sebagian orang percaya ritual tersebut merupakan bagian dari pemujaan kepada Ratu Pantai Selatan. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)