harapanrakyat.com,- Daerah Pajaten atau tepatnya di Kecamatan Sidamulih Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, merupakan salah satu daerah bersejarah yang ada di wilayah tersebut. Sejumlah fakta masa lampau menunjukan Pajaten sebagai basis pertahanan Raja Pananjung. Kala itu yang sedang diserang kaum Bajo (perompak).
Raja Pananjung yang kala itu dipimpin oleh seorang putra mahkota dari trah Galuh ini bernama Pangeran Anggalarang.
Konon di daerah Pajaten, penguasa Kerajaan Pananjung mendirikan pertahanan terakhir untuk melawan para perompak.
Pasukan perompak tidak bisa melawan prajurit Pananjung di daerah Pajaten. Pasalnya, basis pertahanan Pangeran Anggalarang di sana lebih banyak dari pasukan mereka.
Namun, karena tekad seorang pelaut yang kuat walaupun sudah memprediksikan bakal mengalami kekalahan, pasukan Bajo tetap menyusul prajurit Pananjung di Pajaten.
Peperangan pun akhirnya terjadi. Peristiwa peperangan antara prajurit Pananjung dengan pasukan Bajo di Pajaten kemudian divisualisasikan melalui sastra.
Adapun bentuk sastra yang menyimpan kisah peperangan tersebut mengalami perkembangan menjadi tembang ronggeng gunung.
Menurut sejumlah pengamat budaya, dalam naskah ronggeng gunung, pesinden sebetulnya sedang bercerita tentang kekejaman pasukan Bajo.
Baca Juga: Asal-usul Nama Sukaresik di Pangandaran, Kampung yang Penuh Harapan Baik
Mereka menyerang prajurit Pananjung tanpa ampun, akibatnya Pajaten menjadi daerah yang lumuri darah penghuninya sendiri.
Asal-usul Nama Daerah Pajaten di Pangandaran
Dalam buku Idat Abdul Wahid dkk yang bertema “Kodifikasi Cerita Rakyat Daerah Wisata Pangandaran Jawa Barat” (1998), asal-usul nama Pajaten berasal dari tiga suku kata yaitu, Pe-Jati-an. Atau secara harfiah artinya bisa sebagai Hutan Jati.
Mengetahui nama ini membawa kita berangan-angan jika asal-usul nama Pajaten di Pangandaran berasal dari suburnya hutan jati yang tumbuh di sana.
Pernyataan ini benar, konon sejak zaman kerajaan, daerah Pajaten terkenal sebagai sentral penghasil kayu jati di wilayah Pasundan.
Dalam kepercayaan masyarakat Sunda zaman dulu, mereka menganggap hutan jati memiliki sifat yang sakral. Tak banyak tempat yang bisa ditanami dengan pohon jati, terkecuali daerah Pajaten. Kemungkinan besar ini terjadi karena daerah tersebut suci.
Saking sucinya, daerah Pajaten di Pangandaran ini membuat apapun jenis tumbuhan bisa hidup dengan baik. Fenomena ini membuat penduduk setempat menginginkan tinggal di daerah itu.
Karena faktor kesuciannya bisa membuat siapapun yang berdiam di Pajaten akan merasa aman dan nyaman.
Baca Juga: Jejak Eksodus Kerajaan Galuh ke Gunung Ciremai, Terasing dan Akhirnya Lenyap
Pajaten dan Cikembulan Wilayah Suci Incaran Kaum Bajo
Ketika kaum Bajo menguasai daerah Pananjung, petinggi kerajaan tersebut lari dan mengungsi ke daerah Pajaten yang lokasinya masih di wilayah Pangandaran.
Sedangkan prajurit Pananjung membangun benteng pertahanan di daerah Cikembulan. Mereka mempersiapkan ratusan prajurit berjaga di tempat tersebut.
Akibat peristiwa itu, nama Cikembulan berasal dari istilah Pakembulan dan Pakemitan. Atau jika mengartikannya ke dalam bentuk bahasa, Cikembulan merupakan nama yang berarti menunggu alias menjaga.
Dari kejadian inilah asal-usul nama Cikembulan terbentuk hingga saat ini. Pajaten dan Cikembulan menjadi wilayah suci incaran kaum Bajo.
Mereka ingin menguasai dua wilayah tersebut untuk membenamkan kedaulatannya di Kerajaan Pananjung.
Sebab, ada anggapan jika saat itu kaum Bajo tidak bisa menguasai daerah Cikembulan dan Pajaten di Pangandaran. Maka kekuatan mereka sebagai penjajah patut dipertanyakan kembali.
Karena mudah tersinggung dan punya karakter yang sumbu pendek, pasukan Bajo berbondong-bondong datang ke daratan untuk menaklukan sisa-sisa prajurit Pananjung yang ada di Pajaten dan Cikembulan.
Baca Juga: Sejarah Ronggeng Gunung Pangandaran, Berasal dari Tarian Lengger?
Mereka hendak berperang menaklukan prajurit Pananjung di tempat suci. Namun apa yang terjadi? Kaum Bajo berhasil dipukul mundur oleh pasukan Pananjung.
Pasalnya, Pangeran Anggalarang mendapatkan bantuan dari sang Ayah yang juga seorang raja keturunan Galuh. Prajurit Bajo kalah jumlah, akibatnya banyak korban berjatuhan dari kalangan mereka.
Pajaten Daerah yang Tak Mudah Dikalahkan Kaum Bajo
Dari peristiwa tersebut membuat kita semakin paham jika daerah Pajaten di Pangandaran pada zaman dulu bukanlah tempat yang sembarangan.
Walaupun kaum Bajo kuat dan punya senjata yang canggih dari pada masyarakat agraris, tapi ketika mereka menyerang Pajaten banyak korban yang berjatuhan dari pasukan perompak.
Akibatnya para petinggi perompak tidak bisa menguasai penuh daerah Pangandaran. Karena hal ini, tak lama kemudian gerombolan laut pimpinan panglima perangnya bernama Kala Samudra meninggalkan Pangandaran.
Namun, sebelum meninggalkan daerah Pajaten di Pangandaran, para Bajo membekali diri dengan perbekalan yang berasal dari sumber daya alam di Pananjung. Mereka membawa berbagai hasil kebun, ladang, dan peternakan.
Tak lebih dari satu tahun menetap di Pananjung, kaum Bajo perlahan-lahan menghilang dari daerah Pangandaran. Mereka kembali melaut dan mencari pengalaman baru dalam penjelajahannya. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)