harapanrakyat.com,- Warga di lingkungan Pataruman, RW 13, Kelurahan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat, berebut gunungan berupa hasil bumi atau ngarongkong dongdang. Momen tersebut terjadi saat acara hajat bumi yang berlangsung di sentra industri bata merah lingkungan Pataruman, Jumat (28/7/2023).
Sejumlah warga yang terdiri dari orang tua dan anak-anak pun beramai-ramai mengikuti acara ngarongkong dongdang untuk mendapatkan hasil bumi. Acara tersebut diadakan oleh Paguyuban Nur Suci.
Pembina Paguyuban Nur Suci, Ujang S Bachyan, mengatakan, kegiatan hajat bumi merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat setempat atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Baca Juga: Pemdes Sukamukti Banjar Kembangkan Potensi Wisata Batu Peti
Hajat bumi tersebut sudah berjalan selama 14 tahun lamanya. Rangkaian acara hajat bumi ini di antaranya pementasan seni budaya sunda dan bhakti sosial sunatan masal. Selain itu digelar juga santunan anak yatim serta doa bersama.
Acara kemudian dilanjutkan dengan ngarongkong dongdang atau berebut hasil bumi seperti sayuran, pisang, dan hasil bumi lainnya yang dihasilkan oleh masyarakat Pataruman.
“Hasil bumi yang tadi diperebutkan itu semuanya hasil panen masyarakat. Ini sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT,” kata Ujang Bachyan kepada wartawan.
Lanjutnya menyebutkan, masyarakat dari mulai anak-anak, generasi muda maupun orang tua semua bersatu dan turut berpartisipasi mengikuti pementasan budaya. Warga juga ikut memeriahkan kegiatan hajat bumi tersebut.
“Semua masyarakat terlibat ikut berpartisipasi. Semoga nanti bisa terus berlanjut untuk menghidupkan nilai budaya yang ada di masyarakat,” ucapnya.
Wakil Walikota Banjar Apresiasi Tradisi Ngarongkong Dongdang di Pataruman
Sementara itu, Wakil Wali Kota Banjar Nana Suryana pada kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi terhadap acara hajat bumi sebagai bentuk rasa syukur masyarakat.
Ia menambahkan, selain bentuk rasa syukur dengan adanya hajat bumi tersebut diharapkan kegiatan seni budaya sunda seperti Calung bisa terus dilestarikan. Terlebih pagelaran seni buhun seperti calung saat ini sudah mulai terkikis.
“Semoga rasa syukur ini terus berlanjut. Kemudian juga ada pagelaran Seni Buhun ini yang unik. Calung itu sudah hampir habis tapi di sini malah dibawakan ibu-ibu. Ini kami apresiasi sambil bersyukur kita melestarikan budaya yang ada,” ucapnya.
Lanjut menambahkan, adapun ngarongkong dongdang yang diperebutkan warga menurutnya hal itu bagian dari tradisi masyarakat sebagai simbol ungkapan kegembiraan atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.
“Sebetulnya itu hanya simbol saja bawa apa yang ada di bumi ini hanya milik Allah. Semua itu diupayakan setelah panen kemudian dinikmati hasilnya. Siapa yang banyak giat berusaha akan mendapatkan hasil yang maksimal,” katanya. (Muhlisin/R7/HR-Online/Editor-Ndu)