Suparna Sastradiredja merupakan salah satu tokoh PKI asal Garut, Jawa Barat yang hidup dalam pengasingan di Belanda. Ia menghabiskan sisa hidupnya dalam pengasingan di Amsterdam Belanda.
Meskipun dikenal sebagai salah satu tokoh Partai Komunis Indonesia, namun Suparna Sastradiredja berperan penting dalam menggalakkan perlawanan terhadap Belanda dan Jepang.
Namun, jasa-jasanya ini hampir dilupakan ketika meletusnya peristiwa G30S di tanah air. Alhasil Suparna Sastradiredja yang waktu itu sedang menjadi delegasi MPRS ke luar wilayah Indonesia tidak bisa kembali ke tanah air.
Pada masa-masa inilah ia hidup dalam pengasingan hingga meninggal pada tahun 1996 di Belanda.
Baca Juga: Kisah Wanita Telik Sandi Asal Garut yang Selalu Lolos dari Kejaran Belanda, Punya Ilmu Halimun?
Kisah Hidup Suparna Sastradiredja, Tokoh PKI Asal Garut
Suparna Sastradiredja lahir tepat pada 2 Februari 1914 di Tarogong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ia lahir dari pasangan Abdul Sastradiredja dan Nyi Emi Resmi.
Ayahnya sendiri berprofesi sebagai guru sekolah dasar di Garut, sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.
Masa pendidikan Suparna Sastradiredja dihabiskan di Europeesche Lagere School di Cicalengka dan lulus pada tahun 1930.
Setelah menempuh pendidikan di ELS ia kemudian melanjutkan pendidikan di MULO yang ada di Bandung. Ia menamatkan pendidikannya ini pada tahun 1933.
Pasca menuntut ilmu di MULO Suparna Sastradiredja melanjutkan masa-masa pendidikannya di AMS atau Algemene Middelbare School yang ada di Batavia dan lulus pada tahun 1936.
Suparna Sastradiredja memang dikenal sebagai salah satu anak yang aktif dalam organisasi kepemudaan.
Ia pernah terlibat dalam organisasi yang berhaluan nasionalis bernama Indonesia Muda. Di dalam organisasi itu ia aktif sebagai redaktur majalah bulanannya.
Melalui majalah itulah ia menuangkan ide dan gagasannya yang anti kolonial. Bahkan ia pernah dijatuhi hukuman penjara selama 10 bulan di Batavia karena menerbitkan artikel yang menghasut Belanda.
Selama masa-masa persidangannya Suparna Sastradiredja sendiri dibantu oleh beberapa tokoh seperti, Mr Amir Sjarifuddin, Mr Mohammad Yamin, dan Mr. Sjah.
Ketika Jepang masuk ke Indonesia, ia juga menjadi salah satu tokoh yang menggerakkan perlawanan terhadap Jepang.
Baca Juga: Cerita PKI Kalah Pemilu di Ciamis, Bikin DN Aidit Kesal
Pada masa-masa penjajahan Jepang, ia menggalakkan perlawanan melalui Koperasi Rakyat Indonesia (Korindo), walaupun pada akhirnya organisasi ini dibubarkan.
Pasca pembubaran organisasi tersebut ia kemudian aktif bersama Wikana, Chaerul Saleh dan Sukarni untuk menggerakan revolusi.
Bergabung dengan PKI
Suparna Sastradiredja yang terbiasa bergaul dengan kalangan buruh membuat ia amat memahami penderitaan yang dialami kalangan buruh.
James C. Docherty dan Sjaak van der Velden dalam “Historical Dictionary of Organized Labor” (2012) menyebut, Suparna Sastradiredja merupakan salah satu pendiri Sarekat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (Sarbupri).
Sarbupri sendiri merupakan sebuah sarekat perkebunan terbesar di Indonesia waktu itu. Sarekat ini didirikan pada bulan Februari tahun 1947.
Suparna Sastradiredja menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Sarbupri hingga 1965. Sarbupri sendiri merupakan organisasi buruh yang berafiliasi langsung dengan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI).
SOBSI sering dianggap sebagai salah satu organisasi yang terikat dengan Partai Komunis Indonesia. Di organisasi SOBSI ini Suparna Sastradiredja juga menjadi salah satu anggotanya.
Berbagai aksi mogok dilakukan oleh sarekat ini terutama pada tahun 1950 dan 1953. Tuntutan yang disampaikan oleh SOBSI selalu berkaitan dengan kesejahteraan para buruh seperti tuntutan kenaikan upah buruh.
Dari organisasi inilah jejak-jejak keterlibatan Suparna Sastradiredja dalam Partai Komunis Indonesia semakin terlihat. Sampai kemudian Suparna dikenal sebagai tokoh PKI asal Garut yang karirnya moncer saat itu.
Terbukti pada tahun 1955 tepatnya setelah pemilihan umum, Suparna Sastradiredja menjadi salah satu perwakilan konstituante yang berasal dari Partai Komunis Indonesia.
Pasca menjabat sebagai Konstituante mewakili Partai Komunis Indonesia, karirnya bisa terbilang cukup baik.
Terbukti pada tahun 1964 ia ditunjuk menjadi direktur Perusahaan Perkebunan Dwikora yang merupakan bekas perkebunan milik Inggris.
Baca Juga: Kisah Njoto Gembong PKI yang Terampil Bermain Saksofon
Hidup dalam Pengasingan
Ketika terjadi peristiwa G30S, Suparna Sastradiredja sedang dalam perjalanan dinas MPRS ke Kamboja, Vietnam Utara, Korea Utara dan Tiongkok.
Oleh karena itulah ia tidak bisa kembali lagi ke Indonesia. di satu sisi ini memberikan keuntungan bagi Suparna Sastradiredja karena tidak menjadi target penangkapan dan pelenyapan seperti pengurus Partai Komunis Indonesia lainnya.
Namun, tak bisa dipungkiri bahwa kerinduan dengan kampung halaman serta keluarga di Indonesia bukanlah hal yang bisa digantikan.
Suparna Sastradiredja kemudian memutuskan untuk tinggal di Tiongkok hingga 12 tahun lamanya. Mengutip dari, “Kehidupan Napol Tapol G30S PKI di Pulau Buru: Kisah-Kisah Pelarian ke Negeri Cina Hingga ke Belanda” (1998), Suparna Sastradiredja bersama dengan Suhaimin sebelum memutuskan untuk menuju Belanda pada tahun 1978, mereka mampir terlebih dahulu ke Jerman pada tahun 1977.
Karena ia tidak bisa kembali lagi ke Indonesia, pada tahun 1982 Suparna Sastradiredja bercerai dengan istrinya yang bernama Enok Djuariah. Kemudian pada tahun 1987 ia menikah lagi dengan Neneng Marsiah.
Selama di Belanda, Suparna Sastradiredja aktif dalam berbagai gerakan untuk memperjuangkan hak asasi manusia.
Selain itu ia juga menjadi anggota Partai Komunis Belanda pada tahun 1982. Kisah dari Suparna Sastradiredja menjadi salah satu kisah yang cukup memilukan terutama bagi mereka yang pernah terlibat sebagai anggota atau pengurus Partai Komunis Indonesia.
Kisah hidup tokoh PKI asal Garut Suparna Sastradiredja ini merupakan salah satu kisah dari banyaknya orang Indonesia yang menghabiskan akhir hayatnya di pengasingan akibat peristiwa G30S. (Azi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)