Sofia WD lahir di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1924 dari pasangan Apandi dan Sumirah. Ayah dan ibu Sofia bukan berasal dari keturunan menak, melainkan rakyat biasa yang hidup dalam kesederhanaan.
Namun kendati hidup serba berkecukupan, ayah Sofia ingin anaknya maju dan bisa membanggakan nama keluarga. Maka dari itu ia sering mengajak Sofia menonton sandiwara. Lantas apa tujuannya?
Tujuan mengajak Sofia menonton sandiwara untuk mendorong anak perempuan cantiknya ini agar tertarik menjadi seniman peran. Kala itu Apandi percaya jika anaknya bisa menjadi orang terkenal melalui pertunjukan seni peran.
Tak heran ia kemudian “menerjunkan” Sofia WD menjadi pemain sandiwara. Tak disangka ternyata permainan sandiwara disukai oleh Sofia. Ia lantas bermain dari panggung ke panggung, walaupun bayarannya sedikit ia tetap percaya diri memberikan yang terbaik untuk penontonnya.
Baca Juga: Raden Ayu Lasminingrat, Pejuang Emansipasi Wanita Asal Garut
Menginjak usia remaja Sofia semakin terkenal, akibat kegigihannya bermain sandiwara nama Sofia tersohor di kalangan muda-mudi hingga ke berbagai daerah. Akhirnya ia bertemu dengan pria ganteng yang kelak jadi suaminya aktif di dunia intelijen. Bagaimana sejarah lengkapnya, silahkan simak penjelasan berikut ini.
Sofia WD, Seniman Berpangkat Sersan Mayor Berangkat dari Dunia Intelijen
Bersama sang suami, Sofia WD aktif dalam Field Preparation (FP) yaitu satuan militer yang bergerak di bidang intelijen.
Suami Sofia mengajak istrinya terjun ke FP karena bakat yang dimiliki (bermain peran) cocok untuk mengelabui musuh. Karena bakatnya ini Sofia diberikan pangkat Sersan Mayor oleh komandan PF –Zulkifli Lubis.
Kala itu Sofia dan suaminya menggabungkan diri ke dalam FP tahun 1947, tepatnya ketika republik ini sedang mengalami peristiwa revolusi fisik. Tidak hanya Sofia –pemain peran, FP juga kerap merekrut intelnya dari mantan napi di Nusakambangan.
Konon ini terjadi karena insting seorang narapidana lebih kuat dari masyarakat biasa. Mereka bisa segalanya, termasuk main peran pun jadi. Dengan insting ini FP bisa memanfaatkan napi jadi intel yang baik –intel yang bisa memusnahkan musuhnya tanpa harus meninggalkan jejak.
Begitupun dengan Sofia yang diandalkan oleh FP jadi objek yang bertugas mengelabui musuh. Melalui keterampilannya bermain peran, ia bisa mengawasi keadaan sekitar tatkala pertunjukan sandiwaranya sedang dimulai.
Suami Sofia WD yang Sama-sama Intel Gugur di Daerah Garut
Menurut Ken Conboy dalam buku berjudul, “Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia” (2007), suami Sofia WD yang sama-sama seorang intel gugur tertembak gerombolan DI/TII di daerah Garut, Jawa Barat.
Peristiwa ini terjadi tatkala Sofia dan suaminya harus terpisah karena tugas. Sofia yang bertugas mengawasi keadaan di Bandung membuatnya harus terpisah dengan suami yang mengawasi gerak-gerik Belanda di desa-desa.
Baca Juga: Sejarah Panggilan Aden di Tatar Sunda, Pernah Dikecam Para Raden
Saat sedang bertugas –menyamar menjadi masyarakat setempat di Garut, tiba-tiba gerombolan DI/TII datang. Mereka berjumlah puluhan orang dengan senjata lengkap menghampirinya. Tanpa disangka, seluruh masyarakat di desa tersebut dibunuh karena tidak ingin ikut menjadi gerombolan.
Ketika peristiwa ini terjadi suami Sofia WD pun ikut menjadi korban. Sebab pekerjaan intelijen zaman itu tidak dibekali senjata yang canggih seperti saat ini. Maka dari itu suami Sofia gugur dalam tugas, ia tidak bisa melawan gerombolan DI/TII yang marah dan menculiknya.
Konon menurut beberapa informasi yang ditemukan sejarawan, setelah diculik oleh gerombolan DI/TII, pria bernama lengkap Edi Endang ini kemudian disiksa dan ditusuk oleh bambu runcing. Setelah tewas dengan cara mengenaskan, algojo pembunuhnya kemudian mengalirkan jasad suami Sofia ke aliran sungai Cimanuk.
Sofia WD Mengundurkan diri Dunia Militer dan Jualan Warung Nasi
Setelah peristiwa pembunuhan terhadap suaminya, Sofia WD mengalami traumatis yang mendalam. Ia tidak bisa minum dan makan berhari-hari, Sofia depresi dan hendak bunuh diri beberapa kali.
Namun mertuanya menolong Sofia, ia lantas sadar dan tidak ingin berkecimpung lagi di dalam dunia militer. Sofia yang kadung ketahuan profesinya sebagai intel menjadi buruan tentara Belanda. Sofia pun lantas mengubah diri supaya tersamar dan tidak dikenali oleh mereka.
Baca Juga: Kisah Tentara Belanda Culik Kuli di Garut Tahun 1949
Setelah mengundurkan diri jadi seorang intelijen, Sofia WD berusaha pergi ke tempat mertuanya dengan cara menyamar jadi istri tukang minyak. Penyamaran ini sukses dan membuatnya bisa bertemu keluarga dari sang suami.
Ia lantas meminta maaf atas musibah yang menimpa anaknya. Sofia merasa tidak bisa melindungi suaminya dengan baik. Namun karena pihak keluarga suaminya yang baik, permintaan maaf Sofia dijawab dengan pelukan.
Bahkan mereka pun mengajak Sofia WD hidup bersamanya –pengganti anaknya yang telah gugur di medan perang. Tanpa penolakan ia pun bersedia tinggal bersama mertuanya. Adapun sehari-hari keluarga sederhana ini hidup dari uang hasil berjualan warung nasi. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)