Sejarah wayang wong menarik untuk ditelusuri kembali praktiknya di daerah Jawa Barat. Pasalnya menurut sejumlah laporan sejarah, konon wayang wong merupakan seni pertunjukan asal Cirebon yang menjadi tontonan favorit keluarga menak di Tasikmalaya.
Keluarga menak di Tasikmalaya sekitar tahun 1900-an bahkan pernah menanggap pertunjukan wayang wong setiap minggu sekali. Pada zaman itu, pertunjukan wayang wong merupakan kesenian adi luhung yang memiliki batasan penonton.
Penonton wayang wong harus berdarah biru (ningrat: menak), jika bukan dari keluarga menak maka mereka tidak boleh menyaksikan pertunjukan tersebut. Biasanya pertunjukan wayang wong digelar di halaman rumah keluarga menak yang luas.
Beberapa hari sebelum pertunjukan wayang wong ini dimulai, biasanya keluarga menak di Tasikmalaya akan mengundang saudara-saudara dekatnya. Undangan tersebut bertujuan untuk menonton bersama pertunjukan wayang wong secara private.
Baca Juga: Profil Pangeran Aria Suria Atmadja, Bupati Sumedang yang Dikagumi Belanda
Perilaku mengistimewakan wayang wong di kalangan menak Tasikmalaya mendapatkan kritik dari bangsawan di Keraton Kanoman, Cirebon. Pasalnya keluarga menak tidak menghargai upaya pelestarian seni wayang wong, mengapa?
Sejarah Wayang Wong, Seni Pertunjukan Asal Cirebon, Tontonan Favorit Kaum Menak di Tasikmalaya
Menurut Iyus Rusliana dalam buku berjudul, “Wayang Wong Priangan: Kajian Mengenai Pertunjukan Dramatari Tradisional di Jawa Barat” (2002), seni pertunjukan wayang wong yang menjadi tontonan favorit kaum menak di Tasikmalaya awalnya berasal dari keraton Kanoman, Cirebon.
Pihak keraton Kanoman dengan sengaja “melepaskan” pertunjukan wayang wong tampil ke berbagai daerah di Jawa Barat, bahkan hingga ke Jawa Tengah. Hal ini bertujuan untuk melakukan regenerasi, sehingga seni dramatari tersebut bisa dilestarikan dengan baik.
Namun ketika seni pertunjukan wayang wong ini sampai ke daerah Tasikmalaya, kaum menak justru “mengistimewakannya” sebagaimana awal keraton Kanoman yang mengurung pertunjukan wayang wong di istana.
Alhasil banyak masyarakat di Tasikmalaya yang tidak bisa menikmati pertunjukan wayang wong. Sementara itu para pemain wayang wong menerima tawaran menak karena dibayar.
Karena uang, mereka rela melenceng dari titah keraton Kanoman. Padahal Raja Cirebon mewanti-wanti pada setiap seniman wayang wong harus melepaskan segala atribut keningratan demi melestarikan keseniannya.
Oleh sebab itu kaum menak di Tasikmalaya sempat terkena teguran dari pihak keraton Kanoman karena dianggap terlalu mengistimewakan seni pertunjukan wayang wong. Raja Cirebon ingin struktur normatif pada wayang wong di Tasikmalaya segera dihapuskan.
Baca Juga: Sejarah Wayang Golek di Jawa Barat, Dalang Dianggap Orang Sakti Titisan Karuhun
Wayang Wong Keluar dari Lingkungan Aristokrasi
Setelah teguran keraton Kanoman sampai ke telinga kaum menak di Tasikmalaya akhirnya seni pertunjukan wayang wong mulai disebar ke luar lingkungan aristokrasi. Wayang wong kemudian menjadi tontonan baru yang mampu mengobati rasa penasaran rakyat kecil di Tasikmalaya.
Bahkan karena sering diadakan kesenian wayang wong di berbagai perkampungan, masyarakat Tasikmalaya mulai meniru cara bermain wayang wong.
Namun tercatat dalam sejarah, ada perubahan yang cukup mencolok antara wayang wong Cirebon dengan wayang wong Tasikmalaya. Mereka (masyarakat Tasik) mengubah seluruh percakapan wayang wong dengan bahasa Sunda, begitu juga dengan dalang yang bertugas menyanyikan tembang.
Semua atribut Jawa-Cirebon hilang, bahkan lakon (cerita) wayang wong diganti dengan kisah-kisah menarik bagi masyarakat Pasundan. Hal ini membuat kerajaan Kanoman Cirebon bahagia, itulah yang sebenarnya diinginkan oleh mereka.
Walaupun harus berganti bahasa, tata cara bermain, dan lakon cerita, setidaknya seni pertunjukan wayang wong terus mengalami perkembangan. Dengan begitu kesenian wayang wong dapat dilestarikan.
Orang Sukabumi dan Garut Menggantungkan Profesi Jadi Pemain Wayang Wong
Sejarah mencatat, setelah regenerasi kesenian wayang wong terjadi di Tasikmalaya, beberapa tahun kemudian kesenian asal Cirebon itu sampai ke Sukabumi dan Garut. Penampilan wayang wong yang sampai ke Sukabumi dan Garut tersebut adalah kesenian wayang wong khas Tasikmalaya.
Baca Juga: Kisah Presiden Soekarno Pecinta Wayang Sejati
Tampaknya orang-orang Sukabumi dan Garut suka dengan kesenian wayang wong sehingga banyak para seniman wayang wong di Tasikmalaya yang kerap mendapat tanggapan di dua kota tersebut.
Seiring dengan berjalannya waktu, orang Sukabumi dan Garut kemudian mencoba menggantungkan profesinya jadi pemain wayang wong. Mereka berusaha memodifikasi dramatari ini menjadi seni pertunjukan yang identik dengan bobodoran.
Karena orang Sunda relatif suka dengan bercandaan (bobodoran) maka para pemain wayang wong di Sukabumi dan Garut pun laris. Hampir setiap malam mendapat tanggapan, bahkan beberapa asisten residen di kota Garut pernah menanggap mereka lebih dari 3 kali.
Dengan demikian profesi menjadi pemain wayang wong bagi masyarakat Sukabumi dan Garut adalah profesi yang menguntungkan. Karena pekerjaan, ini para seniman wayang wong di dua kota tersebut bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)