harapanrakyat.com,- Sejarah perkembangan nelayan di Pangandaran, Jawa Barat, menjadi perhatian sebagian peneliti sosial di Indonesia. Pasalnya beberapa fakta menunjukan jika ternyata profesi pelayaran (nelayan) di daerah tersebut baru ada sekitar tahun 1950-1960.
Data ini menunjukan kesan yang kontradiksi, sebab Pangandaran merupakan daerah pesisir yang sudah terkenal sejak awal abad ke-20 Masehi. Bahkan sejak tahun 1919 Pangandaran sudah terkenal sebagai basis kopra terbesar se-Asia Tenggara.
Lebih jauh lagi dari itu, jika melacak naskah kuno yang menceritakan sejarah Kerajaan Pananjung misalnya, banyak kisah yang erat kaitannya dengan kegiatan pelayaran.
Bahkan salah satu penyebab hancurnya Kerajaan Pananjung berasal dari kaum perompak (bajak laut).
Namun, mengapa fakta tertulis menyatakan sejarah perkembangan nelayan di Pangandaran baru bisa terlacak sekitar tahun 1950-1960.
Lantas, bagaimana dengan data lain yang menunjukan Pangandaran sudah jadi tempat para nelayan asing berburu makanan?
Jika kita lihat menggunakan kacamata toponim, nama Pangandaran juga sarat dengan kegiatan pelayaran. Salah satunya adalah arti dari Pangan (Makanan), dan Daran (Sandaran Kapal).
Baca Juga: Kisah Nelayan Pangandaran Rusak Kapal Pukat Harimau 1975, Indonesia Geger
Secara kontekstual dua toponim tersebut bisa diartikan tempat mencari makan orang-orang laut (sandaran kapal).
Sejarah Awal Perkembangan Nelayan di Pangandaran
Menurut Dahimatul Afidah dalam Siginjai: Jurnal Sejarah, Vol. 2, No. (2) Desember 2022, berjudul “Dinamika Kehidupan Nelayan Pangandaran (1950-1970-An)”, tidak bisa dibantah lagi jika ternyata awal perkembangan profesi nelayan di Pangandaran memang baru ada sekitar tahun 1950-1960.
Hal itu dipaparkan sesuai dengan temuan fakta sejarah berupa laporan maritim, yang menunjukan jika pertama kali profesi nelayan berkembang di Pangandaran berasal dari nelayan Cilacap.
Mereka datang ke Pangandaran untuk mencari ikan dan menjadikan tempat sandaran kapal. Bagi nelayan Cilacap, lautan Pangandaran merupakan ladang emas yang bisa menghasilkan ikan cukup banyak.
Mereka juga kerap menjadikan Teluk Pananjung sebagai tempat beristirahat setelah berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan berada di tengah laut.
Jika merunut dari sejarahnya, sebelumnya masyarakat Pangandaran asli berprofesi sebagai petani. Mereka yang didominasi suku Sunda kurang tertarik dengan profesi nelayan.
Oleh sebab itu, jika menelaah lebih jauh hingga hari ini kebanyakan orang Pangandaran yang berprofesi nelayan berbahasa Jawa.
Baca Juga: Tangan Bengkak, Badan Demam Jika Memegang Ikan Ini di Pangandaran
Masyarakat Pribumi Mulai Tertarik Menggeluti Profesi Nelayan Tahun 1960-1970
Berdasarkan sejarah perkembangan nelayan di Pangandaran, menurut Dahimatul Afidah dalam Jurnal Sejarah Vol. 2, No. (2) (2022), bahwa masyarakat pribumi mulai tertarik menggeluti profesi nelayan tahun 1960-1970.
Adapun yang mendorong mereka terjun menjadi nelayan tidak lain yakni faktor ekonomi yang menguntungkan.
Banyak nelayan yang berhari-hari di tengah laut mencari ikan, dan pulang membawa uang banyak. Jika dibuatkan grafik pendapatan sosial, profesi nelayan kala itu bahkan berada di angka paling tinggi ketimbang pedagang, petani, dan buruh.
Karena hal inilah para petani, buruh, bahkan pedagang yang berasal dari pribumi Pangandaran sebagian ada yang menggeluti profesi nelayan. Biasanya bagi yang punya modal banyak akan membelikan perahu, kemudian mereka sewakan.
Sedangkan, bagi pemilik modal yang kecil akan menjadi buruh di seorang nelayan bermodal banyak.
Mereka akan membantu pekerjaan nelayan, seperti menyewakan perahu, ikut menebar jaring mencari ikan di tengah laut. Serta merawat perahu berikut peralatan nelayan yang lain.
Baca Juga: Akibat Kekeringan, Warga Bagolo Pangandaran Cari Air Bersih ke Pulau Nusakambangan
Menjadikan Pulau Nusakambangan Sebagai Tempat Bersandar Sementara
Jika zaman dulu nelayan dari Cilacap yang menyandarkan perahunya di Pangandaran. Maka pada tahun 1960-1970 nelayan-nelayan dari Pangandaran menyandarkan perahunya di Cilacap dan sekitar Pulau Nusakambangan.
Nelayan asal Pangandaran biasa menghabiskan waktu di laut berminggu-minggu. Karena faktor waktu yang melelahkan, biasanya para nelayan tersebut akan menyandarkan perahunya di pesisir Pulau Nusakambangan.
Selain beristirahat sementara, mereka juga kerap mengawetkan hasil tangkapannya menggunakan teknik pembuatan ikan asin.
Kebiasaan bersandar di pulau yang masih dihuni oleh hewan buas berbahaya membuat nelayan Pangandaran terkenal pemberani. Mereka tidak takut dengan hewan buas walaupun saat itu sudah banyak yang menjadi korban.
Bagi nelayan Pangandaran, pekerjaan yang keras di tengah laut tidak bisa membuatnya takut hanya karena hewan buas.
Selain keberanian, pastinya mereka juga punya strategi mengusir hewan buas menggunakan cara-cara tradisional yang mungkin sampai saat ini dirahasiakan. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)