Sejarah meletusnya Gunung Galunggung yang berada di Tasikmalaya, Jawa Barat menarik untuk kita telusuri lebih dalam lagi, pasalnya bencana alam yang berdampak ke seluruh daerah di Priangan Timur tersebut konon menjadi penyebab pergantian nama Soekapura menjadi Tasikmalaya.
Soekapura merupakan nama Tasikmalaya zaman dulu. Namun karena Gunung Galunggung meletus tahun 1882, nama Soekapura berganti jadi Tasikmalaya. Ada maksud apa dibalik pergantian nama tersebut?
Mengapa wilayah Soekapura berganti nama menjadi Tasikmalaya? Daerah Soekapura zaman dulu merupakan wilayah yang subur. Apalagi setelah Gunung Galunggung meletus.
Banyak petani di sana yang bahagia karena perkebunan miliknya tumbuh menjadi perkebunan yang subur. Fenomena bencana berubah menjadi keberkahan, para petani perlu mengadakan persembahan. Mereka akhirnya memperlakukan Galunggung sebagai tempat keramat.
Baca Juga: Kisah Gubernur Jawa Barat Pertama Digeledah Pejuang Tasikmalaya
Tidak hanya tahun 1882 Gunung Galunggung meletus, tapi beberapa tahun setelah itu tumpukan api di dalam perut bumi ini kembali mengamuk. Galunggung mengulang bencana alam pada tanggal 7-9 Oktober tahun 1894.
Sejarah Meletusnya Gunung Galunggung Tahun 1882 yang Membuat Soekapura Ganti Nama
Menurut tayangan sejarah dalam channel youtube @berbagitahu8742 berjudul “Sejarah, Legenda, Gunung Galunggung!!! Kisah Asal-usul Tasikmalaya”, ketika Gunung Galunggung ini meletus, daerah Soekapura berganti nama menjadi Tasikmalaya.
Adapun secara toponim Tasikmalaya berasal dari dua suku kata, pertama Tasik yang berarti keusik (tanah) dan nglaya yang berarti bertebaran.
Dari dua suku kata tersebut dapat disimpulkan nama Tasikmalaya yakni berarti “Hamparan tanah yang luas”.
Konon hamparan tanah ini dulunya akibat debu letusan Gunung Galunggung. Oleh sebab itu sejak Galunggung meletus nama Soekapura resmi berganti menjadi Tasikmalaya.
Namun versi lain juga ada yang mengatakan Tasik berarti (laut) dan Malaya berarti (jajaran pegunungan). Atau secara sederhana dua suku kata di atas memiliki makna jika Tasikmalaya berarti Gunung-gunung yang berjejeran.
Secara tidak langsung perumpamaan di tersebut ingin mengatakan jika wilayah Tasikmalaya merupakan tempat yang dipenuhi oleh jajaran gunung atau lembah.
Maka dari itu selain terkena debu letusan Galunggung Galunggung, wilayah Tasikmalaya juga terkenal subur karena kondisi alam di sekelilingnya yang mendukung.
Baca Juga: Kisah RAA Kusumadiningrat, Bupati Galuh yang Beristri Wanita Tionghoa
Tasikmalaya jadi Sentral Pasir Terbaik Zaman Kolonial
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, daerah Tasikmalaya terkenal menjadi pusat pasir terbaik. Pemerintah kolonial kerap membawa pasir dari Tasikmalaya untuk membangun beberapa bangunan administratif Belanda.
Pasir tersebut tak lepas dari legenda pergantian nama Soekapura jadi Tasikmalaya. Artinya ketika Belanda menjadikan Tasikmalaya sebagai sentral penghasil pasir bangunan terbaik di Jawa Barat, maka kemungkinan besar dua pendapat mengenai perubahan nama di atas itu benar.
Tidak hanya menyumbang pasir dengan kualitas terbaik, daerah Tasikmalaya juga kerap menjadi daerah penghasil sayuran.
Hal ini tak lepas dari tanah yang subur, kendati sudah ratusan tahun Gunung Galunggung meletus, namun karena debunya mengandung banyak manfaat, maka ketika debu itu turun ke tanah, secara otomatis tanah tersebut menjadi subur.
Dengan kata lain letusan Gunung Galunggung tidak hanya membawa kemanfaatan yang baik untuk masyarakat sekitar, tetapi juga untuk alam yang semakin hari semakin berkurang umurnya.
Namun melalui letusan Gunung Galunggung, alam mengalami peremajaan yang bisa membuatnya lebih segar dan terus menghidupi manusia pada generasi berikutnya.
Baca Juga: Sejarah Masjid Agung Tasikmalaya yang Dibangun Bupati Sumedang
Gunung Galunggung Terakhir Meletus Tahun 1983
Dalam catatan sejarah, meletusnya Gunung Galunggung juga kembali terjadi pada tahun 1983. Kali ini satu-satunya gunung berapi di daerah Priangan Timur itu meletus terakhir. Sebab setelah tahun tersebut Gunung Galunggung tidak pernah menunjukan keaktifannya lagi, bahkan hingga hari ini.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, letusan Gunung Galunggung pada tahun 1983 dianggap bencana yang paling menakutkan. Sebab letusan gunung tersebut berjalan hingga 9 bulan lamanya.
Selama Gunung Galunggung menunjukkan aktivitasnya yang parah, petir dan awan gelap terus menyelimuti daerah Tasikmalaya. Bahkan menurut beberapa kisah orang tua kita yang pernah mengalami peristiwa ini, langit Tasikmalaya gelap seperti malam.
Selain di Tasikmalaya konon dampak letusan Gunung Galunggung tahun 1983 juga terasa hingga ke Pangandaran dan Cilacap (Jawa Tengah). Sama seperti yang terjadi di daerah Tasik dan sekitarnya, awan gelap mendominasi wilayah terdampak letusan Gunung Galunggung. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)