Dalam catatan sejarah, gunung Tangkuban Perahu ternyata sudah menjadi salah satu wisata favorit yang ada di Jawa Barat.
Saking populernya, seorang penyair Belanda membuat syair yang menggambarkan kunjungannya ke gunung Tangkuban Perahu pada tahun 1921.
Tidak hanya orang-orang Eropa yang hobi wisata ke Tangkuban Perahu, banyak kaum priyayi juga yang menjadikan Tangkuban Perahu sebagai salah satu wisata favoritnya ketika berkunjung ke Bandung.
Keindahan alam gunung Tangkuban Perahu inilah yang membuat banyak orang terpikat dan ingin berkunjung kembali ke destinasi wisata ini.
Sejarah dan Cerita Legenda Gunung Tangkuban Perahu
Gunung Tangkuban Perahu merupakan salah satu gunung yang terletak di Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat.
Kisah Tangkuban Perahu sendiri sangat erat dengan salah satu legenda yang berasal dari Jawa Barat, yaitu Legenda Sangkuriang.
Kisah Sangkurian ini bercerita tentang gagalnya Sangkuriang untuk menikahi Dayang Sumbi yang merupakan ibunya sendiri.
Sangkuriang yang marah karena gagal menikahi Dayang Sumbi kemudian menendang perahu dan jadilah sebuah gunung yang sekarang kita dengan nama gunung Tangkuban Perahu.
Mengutip “Sejarah Daerah Jawa Barat” (1994), berpuluh ribu tahun yang lalu pada masa Kuarter Tua, di sebelah utara Kota Bandung terdapat sebuah gunung yang bernama Gunung Sunda.
Gunung Sunda ini memiliki ketinggian kurang lebih 3000 meter di atas permukaan laut. Pada suatu waktu gunung Sunda yang masih berstatus aktif tersebut meletus dengan dahsyat yang menghasilkan sebuah kaldera.
Kaldera inilah yang kelak membentuk sebuah gunung yang bernama gunung Tangkuban Perahu. Sehingga dari sisi pembentukannya gunung Tangkuban Perahu sendiri berasal dari gunung yang sudah ada sebelumnya.
Sepanjang sejarah, gunung Tangkuban Perahu sudah 17 kali mengalami letusan dan erupsi. Letusan pertama terjadi pada tahun 1829 dan yang terbaru terjadi pada tahun 2019.
Baca Juga: Sejarah Letusan Gunung Berapi di Jawa Barat dalam Beberapa Dekade
Erupsi yang terjadi secara berulang-ulang ini menghasilkan 13 kawah. Tiga di antaranya merupakan kawah dengan destinasi favorit wisatawan yaitu, Kawah Ratu, Kawah Upas, dan Kawah Domas.
Wisata Favorit Zaman Belanda
Selain menjadi salah satu destinasi wisata favorit orang-orang di Indonesia, Gunung Tangkuban Perahu ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata favorit di zaman Belanda.
Mengutip buku Tim Tempo “Keindahan Gunung Tangkuban Perahu Sekaligus Potensi Letusan yang Mengancam Bandung” (2020), gunung Tangkuban Perahu sendiri merupakan gunung aktif yang masih mengeluarkan letusan.
Dalam catatan sejarah, gunung Tangkuban Perahu masih sering mengeluarkan erupsi freatik yang terjadi ketika uap air di bawah tanah dipanaskan oleh magma, lahar, dan batuan panas.
Meskipun masih berstatus aktif, masih banyak orang Eropa dan kaum priyayi yang berkunjung ke kawasan ini untuk menikmati keindahan alam Tangkuban Perahu.
Meskipun memiliki penampakan yang indah, untuk mengunjungi gunung ini pada zaman Belanda tidaklah semudah yang banyak orang kira.
Kondisi hutan yang masih belum terjamah dan potensi serangan dari hewan buas masih menjadi momok yang menakutkan waktu itu.
Selain itu, terdapat pula potensi terhirupnya gas beracun yang membuat para pengunjung kehilangan nyawanya.
Baca Juga: Sejarah Cadas Pangeran Sumedang dan Kisah Perseteruan Pangeran Kornel dengan Daendels
Tiga Mahasiswa HBS Bandung Meninggal Pasca Menghirup Gas Beracun
Salah satu kasus meninggalnya pengunjung tersebut adalah tiga orang mahasiswa HBS Bandung pada tahun 1924. Korbannya adalah dua bersaudara Dirk and Jan Anthonie Hendrik van Deelen dan satu temannya yang bernama Henry Peter Maasdam.
Ketiganya dikabarkan tewas karena menghirup gas beracun dari gunung tersebut. Keberadaan gas beracun ini merupakan sebuah keniscayaan terutama di kawasan gunung aktif.
Tidak hanya tiga orang siswa tadi yang menjadi korban dari Gunung Tangkuban Perahu, tepat pada tahun 1925 ditemukan kembali mayat seorang pria Belanda di Gunung Tangkuban Perahu.
Gunung Tangkuban Perahu memang sudah memakan korban dalam sejarahnya , namun tetap saja tidak menyurutkan niat untuk menjadikan tempat ini sebagai kawasan wisata.
Oleh karena itu, pada tahun 1926, pemerintah kolonial belanda membangun akses jalan sepanjang 4 kilometer untuk mencapai lokasi gunung Tangkuban Perahu. Pembangunan jalan ini dinilai sebagai langkah untuk menghindari terjadinya kecelakaan selama perjalanan menuju gunung Tangkuban Perahu.
Apalagi mengingat sebelum pembangunan jalan, orang-orang hanya bisa berjalan kaki atau menaiki kuda untuk menuju kawasan gunung Tangkuban Perahu.
Dua tahun kemudian tepatnya tahun 1928, mobil sudah memiliki akses jalan untuk menuju kawasan gunung Tangkuban Perahu. Seiring dengan berjalannya waktu mulai bermunculan bisnis-bisnis lainnya di daerah ini, seperti bisnis restoran, hingga oleh-oleh.
Terbukti program pengelolaan gunung Tangkuban Perahu sebagai wisata pada zaman Belanda ini menjadi salah satu destinasi yang cukup sukses.
Baca Juga: Sejarah Stasiun Cicalengka yang Terancam Dirobohkan
Sejarah Gunung Tangkuban Perahu Masa Indonesia Merdeka
Pasca Kemerdekaan Indonesia, tempat-tempat yang awalnya dikelola oleh Belanda mulai dikelola oleh Indonesia, baik yang ditangani langsung oleh pemerintah maupun pihak swasta.
Kini PT. Graha Rani Persada (GRPP) yang merupakan sebuah perusahaan swasta mengelola kawasan wisata gunung Tangkuban Perahu.
Pada periode awal Pandemi Covid-19 kawasan ini sempat terdampak karena harus ditutup. Namun secara perlahan kawasan wisata gunung Tangkuban Perahu mulai membaik.
Apalagi mengingat yang terdampak bukan hanya para pengelola kawasan wisata ini, melainkan warga sekitar yang kebanyakan berprofesi sebagai pedagang makanan hingga cinderamata.
Kawasan Tangkuban Perahu masih menjadi salah satu destinasi wisata favorit hingga hari ini, baik oleh para wisatawan lokal hingga mancanegara.
Bahkan ketika akhir pekan jumlah wisatawan mancanegara bisa mencapai jumlah ratusan orang dari berbagai negara.
Mengutip situs resmi Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu, wisatawan akan menemukan berbagai flora dan fauna endemik yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Kawasan wisata gunung Tangkuban Perahu sudah memiliki berbagai fasilitas untuk menunjang kawasan wisata ini. Mulai dari angkutan ontang-anting, masjid, menara pandang, pos kesehatan hingga panggung budaya. (Azi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)