Selasa, April 1, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah Dugderan di Semarang yang Sudah Ada Sejak Zaman Belanda

Sejarah Dugderan di Semarang yang Sudah Ada Sejak Zaman Belanda

Sejarah Dugderan tak lepas dari metode penyampaian awal bulan Ramadhan oleh pemerintah kolonial pada masyarakat Muslim yang ada di Semarang, Jawa Tengah. Dengan kata lain Dugderan merupakan tradisi kolonial yang turun pada masyarakat tatkala menyambut datangnya bulan puasa.

Menurut catatan kolonial, tradisi Dugderan di Semarang sudah ada sejak akhir abad-19. Atau lebih tepatnya sejak tahun 1881. Kendati usianya sudah berabad-abad, tradisi Dugderan hingga saat ini masih eksis di kalangan orang Semarang.

Mereka terus melestarikan tradisi ini sebagai warisan leluhur karena terkandung berbagai manfaat di dalamnya.

Biasanya tradisi Dugderan yang ada di kota berjuluk Little Nederlandsch ini diselenggarakan setiap 1-2 minggu sebelum Ramadhan tiba.

Baca Juga: Sejarah Spiegel and Bistro, Toserba Pertama di Semarang Berdiri Tahun 1885

Orang-orang Semarang yang mengikuti Dugderan akan berkeliling kampung dan kota untuk memperingati khalayak umum bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan puasa.

Konon tradisi Dugderan banyak diikuti oleh berbagai kalangan, tua maupun muda bergabung ikut iring-iringan. Oleh sebab itu sebagian peneliti budaya menyebut tradisi Dugderan tidak saja bermakna sambut bulan Ramadhan, jauh dari itu tradisi ini kerap jadi media silaturahmi antar tetangga serta kerabat jauh dan dekat.

Budaya Dugderan, Sejarah Tradisi Sambut Ramadhan di Semarang

Menurut Fitri Haryani N dalam buku berjudul, “70 Tradisi Unik Suku Bangsa di Indonesia” (2019), nama Dugderan (tradisi sambut bulan Ramadhan di Semarang) menggambarkan suara pukulan bedug dan letusan kembang api yang berasal dari kata dug (Bedug) der (Petasan).

Tradisi Dugderan meliputi kegiatan iring-iring rombongan warga, mereka membawa bedug dan menabuhnya keliling kota Semarang. Sebagian lainnya membawa petasan dan menyulutnya hingga si petasan itu terbakar merata serta menimbulkan suara yang nyaring bersamaan dengan pukulan bedug.

Kegiatan Dugderan mulai dilakukan pada pukul 8 pagi sampai menjelang waktu maghrib tiba. Hal ini bertujuan agar masyarakat Semarang yang beragama Muslim mengetahui secara sebentar lagi akan memasuki bulan puasa.

Selain itu waktu yang lumayan lama mereka tempuh dalam menjalankan tradisi Dugderan juga disebabkan oleh jauhnya jarak tempuh iring-iringan.

Para pengiring Dugderan harus mencangkup berbagai daerah perkotaan dan pedalaman Semarang. Harus merata menyampaikan pesan kedatangan bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan tiba.

Untuk meramaikan tradisi Dugderan dengan cara lain, masyarakat Semarang secara bersamaan menyelenggarakan festival Warak dan Jipin Blantenan.

Baca Juga: Sejarah Wayang Wong Asal Cirebon yang Digandrungi Menak di Tasikmalaya

Warak Ngendok adalah figur makhluk imajiner yang jadi maskot kota Semarang sedangkan Jipin Blantenan budaya Tionghoa yang sama seperti tradisi Barongsai. Konon budaya ini berasal dari akulturasi tradisi etnis Tionghoa.

Sejarah Dugderan di Semarang sebagai Sarana Pengumuman Pemerintah Kolonial

Dugderan juga sering digunakan pemerintah kolonial untuk mengumumkan informasi penting selain menandakan awal bulan puasa. Seperti halnya mengadakan sayembara penangkapan pelaku kriminal dan memberitakan kebijakan-kebijakan kolonial baru yang menyangkut kepentingan politik kerakyatan.

Dulu pemerintah kolonial tidak menggunakan petasan untuk meramaikan tradisi Dugderan. Akan tetapi menggunakan meriam yang ditembakan tanpa peluru. Dentuman besar yang ditimbulkan dari mulut meriam itu membuat pengiring Dugderan jadi pusat perhatian massa.

Pada zaman kolonial pemimpin pribumi yang menetapkan Dugderan menjadi pengingat masyarakat akan datangnya bulan puasa yaitu Bupati R.M.T.A. Purbaningrat. Ia mengubah tradisi Dugderan menjadi sarana komunikasi pemerintah pada rakyat khusus untuk memperingati hari-hari besar umat Islam.

Selain itu, rupanya R.M.T.A Purbaningrat juga yang berwenang menentukan tanggal pertama puasa bagi masyarakat di Semarang. Sebab selain sebagai Bupati (pemimpin daerah untuk pribumi) ia juga berwenang menentukan hari-hari penting keagamaan; satu di antaranya menentukan hari pertama puasa, lebaran idul fitri, dan lebaran idul adha.

Memeriahkan Bulan Ramadhan dengan Festival Kuliner

Dalam catatan sejarah, seiring dengan perkembangan zaman, tradisi Dugderan di Semarang tidak hanya diikuti oleh festival Warok Ngendok dan Jipin Blantenan saja. Akan tetapi kegiatan ini juga dilengkapi dengan kemeriahan festival kuliner.

Baca Juga: Sejarah Mata Air Sunda Kelapa di Kantor Gubernur VOC

Banyak pedagang kuliner yang datang dari berbagai daerah. Mereka menjajakan dagangan halal untuk bekal buka puasa. Sebagaimana struktur sosial masyarakat Semarang yang toleransi, beberapa di antara pedagang kuliner tadi ada juga yang berasal dari pedagang Tionghoa.

Mereka jualan lumpia –makanan khas orang Tionghoa yang berbahan dasar daging berbalut kulit tepung yang lezat, dan beberapa kuliner khas mereka. Tentu saja orang Tionghoa itu menjual kuliner yang halal.

Selain menjual makanan dan minuman, festival kuliner yang dimulai bersamaan dengan tradisi Dugderan di awal bulan Ramadhan juga menjual mainan untuk anak-anak. Hingga saat ini mainan anak-anak yang dijajakan di festival kuliner kerap dijadikan waktu ngabuburit favorit keluarga kecil di Semarang.

Tak melupakan sejarah, masyarakat Semarang masih menggelar tradisi Dugderan hingga menjadi agenda rutin tahunan untuk menyambut bulan Ramadhan. Belakangan tradisi Dugderan telah menjadi sarana wisata kota Semarang selama bulan puasa berlangsung. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Infinix InBook Y3 Max, Laptop Murah dengan Desain Premium

Infinix InBook Y3 Max, Laptop Murah dengan Desain Premium

Infinix kembali menghadirkan kejutan di pasar laptop dengan meluncurkan Infinix InBook Y3 Max. Laptop ini hadir sebagai solusi bagi pengguna yang mencari perangkat dengan...
Rekomendasi wisata sumedang

5 Rekomendasi Wisata Sumedang yang Cocok untuk Berlibur Bersama Keluarga

Rekomendasi wisata Sumedang, Jawa Barat pada momen libur lebaran idul fitri tak boleh terlewatkan. Apalagi Kabupaten Sumedang memiliki banyak objek wisata yang cukup menarik...
Remisi khusus warga binaan

321 Warga Binaan Lapas Banjar Dapat Remisi Khusus Idul Fitri, 5 Langsung Bebas

harapanrakyat.com,- Sebanyak 321 warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Kota Banjar, Jawa Barat, mendapat remisi khusus pada momen perayaan hari raya...
Tingkatkan Persaudaraan

Bupati Sumedang Ingatkan Masyarakat Momentum Idul Fitri Tingkatkan Persaudaraan untuk Bangun Daerah

harapanrakyat.com,- Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momen hari raya idul fitri ini untuk meningkatkan persaudaraan. Selain itu, pihaknya juga mengingatkan...
Tradisi Menerbangkan Balon Raksasa

Tradisi Menerbangkan Balon Raksasa Berbahan Kertas Jadi Daya Tarik Sendiri Warga Garut

harapanrakyat.com,- Tradisi unik menerbangkan balon raksasa terbuat dari kertas di setiap hari raya Idul Fitri, masih menjadi daya tarik warga Garut, Jawa Barat. Ratusan...
Parkir Ganda

Minimalisir Parkir Ganda dan Pungli di Pantai Pangandaran, Begini Langkah Pemerintah

harapanrakyat.com,- Untuk meminimalisir parkir ganda di kawasan objek wisata Pantai Pangandaran, PT. Garuda General Service yang menjadi vendor pengelolaan parkir terus melakukan pembenahan. Bahkan,...