harapanrakyat.com,- Sejarah awal Pangandaran sebagai wilayah pariwisata ternyata baru dimulai tahun 1972. Namun, ada pendapat lain yang mengatakan Pangandaran sudah terkenal menjadi tempat wisata sejak tahun 1930.
Konon pada tahun 1930 banyak orang Belanda yang datang ke Pangandaran. Mereka terdiri dari pengusaha swasta, ambtenaar (pegawai negeri), dan militer kolonial. Biasanya Pangandaran menjadi tempat berlibur akhir pekan keluarga mereka.
Tak heran wisata Pangandaran tempo dulu banyak memotret pemandangan indah dengan tamu-tamu Belanda yang lengkap bersama keluarganya.
Mereka kerap menikmati indahnya Pantai Barat, kala itu terkenal dengan sebutan de Dirk de Vries Baai, bersama keluarga tercinta.
Orang-orang Belanda juga kerap menggunakan bibir Pantai Barat Pangandaran sebagai tempat berjemur. Kebiasaan berjemur di pantai terus terjadi hingga tahun 1970-an.
Selain di Bali, bule dari berbagai negara Eropa mengenal Pangandaran sebagai tempat berjemur paling tenang dan nyaman.
Lantas, bagaimana sejarah awal Pangandaran menjadi wilayah pariwisata yang sebenarnya?
Baca Juga: Dongkrak Kunjungan Wisata, Pemkab Pangandaran Rencana Bangun Beach Club Tibra
Berikut ini penjelasan beberapa peristiwa yang bisa membuat Anda paham awal Pangandaran menjadi wilayah pariwisata.
Pangandaran sebagai Wilayah Pariwisata, Sejak 1930 Sudah Terkenal di Kalangan Orang Belanda
Surat kabar Belanda Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch berjudul “Ongeluk bij Pangandaran: In de Dirk de Vries –Baai op Donderdagochtend” rilis 17 Juni 1938, memberitakan jika Pantai Barat Pangandaran sudah terkenal jadi tempat wisata di kalangan orang Belanda sejak awal tahun 1930-an.
Bahkan, secara garis besar berita itu menyebut terdapat kecelakaan di pantai (tenggelam) seorang Belanda yang tidak bisa berenang. Ia merupakan salah seorang petugas administratur Belanda di Tasikmalaya.
Konon jasad korban tenggelam meninggal itu ditemukan tersangkut di terumbu karang yang tak jauh dari Teluk Pananjung.
Berita ini menyebut jika wisata Pangandaran merupakan tempat populer liburan keluarga Belanda di wilayah Priangan Timur.
Kebanyakan mereka datang dari Bandung, Cirebon, dan Batavia. Bahkan pada tahun 1920-an di Pangandaran sudah ada pesanggrahan (tempat menginap tamu).
Namun, biasanya pesanggrahan itu untuk tamu-tamu penting pemerintah. Kala itu wilayah Pangandaran menjadi tempat kopra terbesar se-Asia Tenggara, dan baru menyelesaikan proyek pembangunan jalur kereta api.
Baca Juga: Jembatan Wiradinata Rangga Jipang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Pangandaran
Oleh karena itu, kontrolir harus bermalam untuk mengecek pekerjaan para buruh di Pangandaran.
Tahun 1972 Pemda Ciamis Wacanakan Pangandaran Jadi Wilayah Pariwisata
Menurut Dahimatul Afidah dalam Siginjai: Jurnal Sejarah, Vol. 2, No. (2) Desember 2022, berjudul “Dinamika Kehidupan Nelayan Pangandaran (1950-1970-An)”, pada tahun 1972 Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis baru mewacanakan Pangandaran jadi wilayah pariwisata.
Pemerintah Daerah Ciamis melalui Peraturan Daerah No. 23/PD-DPRD/1972 membentuk Dinas Pariwisata. Hal itu sebagai bukti keseriusannya membangun Pangandaran sebagai bagian dari wilayah pariwisata baru di pesisir Selatan Jawa.
Berdasarkan sejumlah fakta yang ditemukan Dahimatul Afidah dalam Siginjai: Jurnal Sejarah, mengapa baru tahun 1972 Pangandaran diwacanakan sebagai wilayah pariwisata, yang disebabkan oleh karena banyaknya perubahan profesi dari nelayan menjadi pedagang.
Begitu pun dengan petani menjadi pedagang. Banyak diantara mereka beralih profesi karena menjadi pedagang lebih menguntungkan dari pada pekerjaan sebelumnya.
Hal ini terjadi seiring dengan banyaknya pendatang yang menjadi wisatawan di Pangandaran. Mereka sengaja berdatangan ke Pangandaran untuk melakukan liburan. Sehingga perilaku seperti ini dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk melayani pendatang.
Baca Juga: Meski Cuaca Ekstrim di Tahun Baru 2023, BMKG Pastikan Pangandaran Aman Dikunjungi
Selain membuka warung kelontong, penduduk Pangandaran mulai ada yang membangun tempat makan, penginapan, dan lain sebagainya.
Pangandaran Menjadi Tempat Pariwisata Popular Tahun 1990
Seiring dengan berjalannya waktu, Pangandaran sebagai wilayah pariwisata terus berkembang sampai tahun 1990. Pada saat itu banyak pendatang yang menyebut daerah Pangandaran sebagai wilayah pariwisata popular.
Promosi ini tersebar sampai ke berbagai kota besar di Pulau Jawa. Antara lain sampai ke Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
Bahkan pengusaha jasa pelayanan turis asing di Pangandaran kerap bekerjasama dengan timnya yang berada di Bali.
Maka pada tahun 1990, selain wisatawan lokal, Pangandaran juga dipadati dengan kehadiran wisatawan dari berbagai belahan negara di dunia. Biasanya musim wisatawan domestik berlangsung dari bulan Agustus-Desember.
Saat ini Pangandaran terus berkembang menjadi daerah wisata yang semakin maju. Bahkan wisatawan sudah bisa menebak momen-momen ramai pengunjung, baik turis lokal maupun domestik.
Pangandaran sebagai wilayah pariwisata pun kini semakin pesat setelah keputusan berpisah dengan Kabupaten Ciamis pada 25 Oktober 2012. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)