Tuan Holla merupakan nama seorang meneer (tuan) Belanda yang dikisahkan sangat bersahabat dengan petani pribumi perkebunan teh di Garut tahun 1843. Masyarakat Garut mengenal Tuan Holla dengan istilah mitra noe tani (sahabat petani).
Pria bernama asli Karel Frederik Holle ini begitu optimis menciptakan petani teh di Garut melek akan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selepas pensiun dari kerja, Tuan Holla sering meluangkan waktunya untuk mengajar petani di Garut mengenai cara berkebun menggunakan teknologi.
Ia bahkan disebut-sebut rela menyisihkan uang pensiunnya untuk membeli peralatan penunjang petani teh. Alat-alat yang tak murah itu kemudian diberikan pada masing-masing petani di perkebunan teh untuk digunakan secara cuma-cuma.
Tuan Holla juga tidak seperti kebanyakan orang Barat yang menganggap orang Sunda itu pemalas. Bagi dirinya tidak ada manusia pemalas, yang ada hanya manusia yang belum mengetahui cara menjalani kehidupan dengan cepat.
Baca Juga: Catatan Kelam Agresi Militer Belanda di Garut Tahun 1947, Pameungpeuk Dihujani Peluru dari Udara
Misalnya saja penggunaan teknologi dalam pertanian. Tuan Holla meyakini jika orang Sunda dilatih menguasai teknologi berkebun dengan tepat, maka mereka akan lebih giat bekerja 50 kali lebih cepat daripada orang-orang Belanda.
Awal Mula Tuan Holla, Meneer Belanda Datang dan Menetap di Garut
Menurut catatan sejarah kolonial, awal mula kedatangan Tuan Holla ke Garut terjadi pada tahun 1852. Sebelumnya ia sudah tinggal di Batavia sejak tahun 1843. Tuan Holla tinggal di pusat administrasi kolonial karena tuntutan kerjanya sebagai juru tulis pemerintah.
Pria kelahiran Amsterdam, 9 Oktober 1929 ini kemudian jatuh cinta dengan Garut di sela kunjungan kerjanya ke stasiun Cibatu. Konon sebelum pulang kembali ke Batavia, Tuan Holla sempat mengunjungi beberapa perkebunan teh di Garut. Ia memimpikan masa pensiunnya menetap di sana.
Cita-cita yang telah direncanakan kurang lebih 10 tahun lamanya kemudian terealisasi pada masa pensiun dari pekerjaannya sebagai juru tulis. Tuan Holla mencarter sebuah tanah milik pemerintah kolonial dekat perkebunan teh di Garut.
Ia kemudian membuka perusahaan teh dan menamakan perusahaannya dengan nama “Perkebunan Teh Waspada”. Menurut orang tua dulu, perusahaan teh Tuan Holla terkenal sukses dan merajai pasar teh se- Priangan Timur.
Baca Juga: Kisah Wanita Telik Sandi Asal Garut yang Selalu Lolos dari Kejaran Belanda, Punya Ilmu Halimun?
Karena kesuksesannya ditemukan Tuan Holla di perkebunan teh, maka ia merasa betah tinggal di kota tersebut. Karena hal itu pula Tuan Holla terobsesi untuk menjadi guru bagi para petani teh di Garut, dan dari sinilah namanya kemudian mulai dikenal sebagai meneer Belanda sahabat petani.
Tuan Holla Jadi Sahabat Petani Pribumi di Garut
Menurut Hella S. Haasse dalam buku berjudul, “Sang Juragan The” (2015), Tuan Holla telah dikenal masyarakat pribumi di Garut sebagai Belanda yang bersahabat dengan para petani. Karena hal ini ia tidak pernah dibenci oleh orang-orang Garut, bahkan mereka turut melindungi Tuan Holla dari gangguan bandit-bandit perkebunan di Priangan.
Hella mengatakan pembawaan sifat baik Tuan Holla kepada para petani pribumi di Garut tak lepas dari peran seorang sahabatnya bernama Rudolf Kerkhoven. Konon ia digadang-gadang sebagai guru loyalis Tuan Holla sebelum dirinya tiba dan menetap di Jawa.
Rudolf Kerkhoven adalah sahabat baik Tuan Holla yang juga peduli dengan kondisi pertanian di kota Garut –khususnya petani di perkebunan teh. Menurut Rudolf orang-orang kulit putih harus berbaik hati pada kaum pribumi, sebab bagaimana pun juga mereka adalah orang yang lebih dulu tinggal di tanah Jawa.
Dengan menghargai petani pribumi sebagai orang yang pandai, secara tidak langsung dapat membuat orang Belanda kembali mendapatkan kehormatan.
Memang saat itu pengetahuan mereka jauh tertinggal dengan bangsa kulit putih, tapi alangkah baiknya mereka yang sudah tahu di awal bisa mengajarkan pengetahuan itu pada petani pribumi walaupun dengan tempo yang perlahan.
Tuan Holla, Meneer Belanda yang Gemar dengan Budaya Sunda
Tidak bersifat menggurui, Tuan Holla yang sudah berpengalaman jauh dan menguasai ilmu pengetahuan yang tinggi justru gemar dengan budaya Sunda. Ia bahkan mengajak praktisi budaya Sunda untuk saling mengisi pengetahuan mengenai nilai-nilai kesundaan dengannya.
Baca Juga: Gerombolan DI/TII Mengamuk di Garut 1953, 113 Rumah Dibakar, 5 Warga Sipil Terbunuh
Meneer Belanda yang juga fasih berbahasa Sunda ini bertemu dengan budayawan lokal sekaligus Penghulu di Garut bernama Haji Mohammad Moesa. Mereka berdua lantas sering berdiskusi mengenai budaya Sunda terutama yang berada di dalam bidang sastra.
Haji Mohammad Moesa merupakan seorang sastrawan terkemuka di Priangan. Ia banyak menelusuri karya sastra leluhur orang Sunda bernama “Wawacan” atau dalam bahasa Jawa kerap dikenal dengan istilah “Babad”.
Menurut peneliti sastra klasik, M. Moriyama dalam buku berjudul, “Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke -19” (2005), saking tertariknya melestarikan kesusastraan Sunda, Tuan Holla sampai memberikan modal untuk membuka percetakan buku.
Percetakan tersebut khusus untuk menerbitkan ulang karya sastra klasik orang Sunda dan buku-buku tentang pertanian. Bahkan Tuan Holla juga sampai mendirikan sekolah berbasis pertanian untuk anak-anak petani teh di Garut sekitar tahun 1851. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)