Djoeminta merupakan nama tersohor di Ciamis, Jawa Barat pada tahun 1920-an. Masyarakat Ciamis ini kerap mengumpamakan sosok Djoeminta ini dengan tokoh Robin Hood.
Robin Hood merupakan nama tokoh heroik dalam kisah orang Barat. Ia dikenal sebagai perampok sosial –perampok yang merampas harta kekayaan para pejabat untuk dibagikan kepada rakyat jelata.
Sama seperti Robin Hood, Djoeminta juga melakukan itu untuk kepentingan kaum alit (kecil). Tak heran banyak rakyat jelata di Ciamis kala itu menganggap Djoeminta sebagai seorang jawara yang dermawan.
Menurut catatan kolonial praktik perbanditan Djoeminta di Ciamis lantaran peristiwa Malaise yang menimpa Hindia Belanda tahun 1920. Karena Malaise keuangan negara tak stabil sehingga berdampak pada kesejahteraan sosial masyarakat.
Banyak rakyat jelata yang kelaparan, bahkan penyakit busung menjadi pemandangan sehari-hari yang sering terlihat di berbagai sudut kota Ciamis.
Baca Juga: Sejarah Perubahan Galuh Jadi Ciamis, Apa Motif Bupati Sastrawinata?
Kaum alit yang tidak punya rumah, uang, bahkan kelaparan sampai tewas di emperan pertokoan milik pedagang Tionghoa.
Sedangkan para pejabat tinggi yang terdiri dari elit tradisional (golongan menak) hidup tercukupi. Mereka seolah lupa pada rakyatnya yang kelaparan, golongan menak justru menyelamatkan diri sendiri dari dampak malaise. Hal inilah yang membuat Djoeminta geram.
Djoeminta Robin Hood dari Ciamis Pemberontak Belanda, Pembela Kaum Alit
Menurut Dharyanto T. Wardani dalam Jurnal Historia Soekapoera berjudul, “Menabuh Genderang Perang: Pemberontakan Sarekat Rakyat di Priangan Timur” (Vol. 1, No. (1), 2017, pp. 56- 68), Djoeminta –Jawara Ciamis yang terkenal berperilaku bak Robin Hood, kerap mengagitasi massa untuk memberontak pemerintah Belanda.
Tidak seperti kebanyakan Jawara yang jadi “peliharaan” tuan-tuan Belanda, Djoeminta justru menenantang praktik perbudakan tersebut dengan memihak kaum alit. Selama hidupnya Djoeminta mengabdi kepada rakyat kecil.
Ia sadar diri jika keluarganya berasal dari rakyat kecil, dengan demikian Djoeminta ingin mengubah struktur kaum alit menjadi sejahtera. Paling tidak kaum alit yang menjadi kiblat Djoeminta bisa merasakan hidup yang layak, terutama dalam hal pangan.
Akan tetapi Djoeminta tidak bisa melakukan itu terus sendiri, ia butuh teman dan massa yang banyak.
Bagi Djoeminta, ketika massa aksi banyak itu sudah terkumpul dengan baik, maka pemberontakan terhadap pemerintah kolonial di Ciamis bisa berakhir dengan terwujudnya kesejahteraan sosial bagi kaum alit.
Pada tahun 1926 pemberontakan yang diinisiasi oleh Djoeminta pun meletus. Para pengikut Jawara asal Ciamis ini memberontak pemerintah kolonial bersama dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Egom, Hassan dan Dirdja.
Baca Juga: Bandit Era Kolonial Paling Sakti Berasal dari Banten, Disegani Belanda
Mereka menyerang pendopo bupati Ciamis yang kala itu dipimpin oleh R.A.A. Sastrawinata. Djoeminta dan pengikutnya sudah sepakat untuk membunuh Sastrawinata, namun karena kekuatan tentara kolonial lebih banyak upaya revolusi Djoeminta dan kawan-kawan lain pun gagal.
Tentara Belanda Memburu Djoeminta
Tak lama setelah kegagalan pemberontakan di atas, Djoeminta masuk ke dalam daftar tinta hitam kolonial untuk ditangkap. Pemerintah pun menyiapkan tentara terbaiknya untuk memburu Djoeminta sampai ke berbagai tempat di daerah Ciamis.
Namun upaya mereka tak kunjung berhasil, lagi-lagi Djoeminta berhasil meloloskan diri dari kejaran tentara Belanda. Ia lari ke berbagai tempat untuk menghindari penangkapan tersebut. Peristiwa ini membuat tentara kolonial kesal, mereka pun akhirnya meminta bantuan Jawara lain yang dipercaya bisa membantu menangkap Djoeminta hidup-hidup.
Akan tetapi hasilnya tetap sama, para Jawara kepercayaan Belanda tidak bisa menangkap Djoeminta. Bahkan si Jawara itu pulang dengan babak belur akibat serangan membabi buta dari Djoeminta. Karena peristiwa ini para centeng Belanda tadi kembali pada majikannya dengan terpaksa sambil menahan malu.
Berdasarkan beragam pendapat mengatakan lolosnya Djoeminta dari kejaran tentara Belanda disebabkan oleh karena banyak rakyat yang menyelamatkannya.
Terlebih rakyat jelata yang dulu pernah ditolong oleh Djoeminta, mereka melindungi Robin Hood dari Ciamis ini dengan hati yang penuh pengorbanan.
Djoeminta Akhirnya Tertangkap saat Memimpin Vergadering Sarekat Rakyat
Setelah isu penangkapan tokoh pemberontakan PKI di Ciamis 1926 meredup, Djoeminta kembali beredar di kalangan masyarakat luas. Bahkan ia sempat bergabung dan menjadi pemimpin Vergadering (Rapat Raksasa) di dalam organisasi kiri bernama Sarekat Rakyat.
Namun dugaan Djoeminta akan lupanya tentara kolonial pada kasus yang melibatkan dirinya di dalam peristiwa pemberontakan PKI 1926 itu salah. Ketika Djoeminta memimpin vergadering tiba-tiba ada segerombolan tentara Belanda menurunkan paksa Jawara tersebut dari podium.
Peristiwa ini diwarnai kericuhan massa, seluruh anggota Sarekat Rakyat sempat mengamuk dan menyerang tentara Belanda supaya Belanda tak menangkap Djoeminta. Namun karena kekuatan tentara Belanda lebih tinggi mau tidak mau mereka harus merelakan Djoeminta.
Belanda akhirnya menangkap Djoeminta di Maleber Ciamis sekitar tahun 1928. Penangkapan ini kemudian berakhir pada vonis hukuman buang ke Boven Digoel. Belanda membuang Djoeminta ke tempat berkumpulnya para pembangkang yang pernah memberontak pada pemerintah kolonial. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)