harapanrakyat.com,- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjar, Jawa Barat, periksa air keruh di wilayah Dusun Pengasinan Desa Binangun yang disinyalir mengandung zat besi dan dianggap tidak layak konsumsi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjar Andi Bastian, mengatakan, saat ini pihaknya telah mengambil sampel air di wilayah tersebut. Guna dilakukan pemeriksaan medis untuk memastikan kandungan zat yang mempengaruhi kadar air.
Menurutnya, ketika secara kasat mata kadar air telah mengalami perubahan dari sebelumnya seperti bentuk warna dan bau hal itu menjadi salah satu indikasi dan bisa saja menimbulkan dampak bagi kesehatan.
Namun, untuk memastikan kandungan air tersebut apakah mengandung zat seperti kalium atau zat yang lainnya sehingga air menjadi keruh dan tidak layak konsumsi, pihaknya harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
“Beberapa hari ini sedang kami tindak lanjuti. Kemarin sudah ambil sampel kalau sudah selesai inspeksi sanitasinya nanti kita kabari,” kata Andi Bastian kepada harapanrakyat.com, Senin (10/7/2023).
Lanjutnya, saat ini pihaknya belum bisa menyimpulkan secara medis air tersebut layak atau tidak layak untuk dikonsumsi. Hal ini karena masih harus menunggu hasil pemeriksaan.
Baca Juga: Warga Binangun Butuh Air Bersih, Ini Jawaban PDAM Kota Banjar
Dinkes Kota Banjar Periksa Air Keruh, Imbau Warga Tak Konsumsi Air Keruh Mengandung Zat Besi
Sebab itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk sementara supaya tidak memanfaatkan air tersebut untuk kebutuhan konsumsi. Imbauan ini sampai nanti ada hasil pemeriksaan pengujian sampel air.
“Sekarang kami belum bisa menyimpulkan apakah secara medis air itu layak atau tidak layak dikonsumsi. Sekarang masih proses mungkin besok sudah keluar hasilnya,” kata Andi Bastian.
Sebelumnya, warga tiga RT Dusun Pengasinan, Desa Binangun mengalami krisis air bersih akibat terdampak musim kemarau. Pemdes Binangun kemudian meminta pasokan air bersih ke BPBD Kota Banjar.
Menurut Kepala Desa Binangun, Bubun Sahban Farid, air di wilayah tersebut sampai saat ini masih berwarna kuning kecoklatan dan berbau tanah. Hal itu karena disinyalir air mengandung zat besi sehingga tidak bisa untuk air konsumsi.
Meski begitu, untuk kebutuhan air selain untuk air konsumsi seperti untuk keperluan mencuci dan kebutuhan yang lain saat ini masih mencukupi.
“Sampai sekarang untuk airnya masih berwarna kuning keruh. Airnya juga bau seperti bau bercampur tanah. Warna airnya berubah,” katanya. (Muhlisin/R7/HR-Online/Editor-Ndu)