PKI kalah di Ciamis saat pemilu tahun 1955. Hal itu membuat DN Aidit yang merupakan Ketua Umum Partai Komunis Indonesia (PKI) periode tahun 1955-1965 kesal dengan daerah Ciamis.
PKI menjadi partai yang dipandang sebelah mata oleh orang-orang Ciamis. Mereka tidak ingin memilih PKI karena program kerja partai tersebu tidak menarik bagi para petani, buruh, dan pekerja serabutan lain. Maklum saja, petani, buruh dan lainnya bekerja pada para tuan tanah yang dermawan.
Aidit kesal dengan fenomena ini, ia dengan jajaran partainya ingin menggagalkan stigmatisasi tuan tanah dermawan dengan jalan yang radikal.
Sebelum mengeksekusi rencana ini, Aidit sempat melakukan penelitian mendalam terlebih dahulu di daerah Ciamis. Bahkan saking seriusnya Aidit mendalami isu ini, ia melakukan risetnya sampai daerah Pangandaran.
Baca Juga: Kisah DN Aidit, Remaja Agamis yang Jadi Tokoh PKI
Lantas dengan cara apa Aidit menghancurkan stigmatisasi tuan tanah dermawan –baik menjadi buruk? Apakah menggunakan fitnah politik atau melalui jalan revolusioner yang selalu gagal?
Mengapa PKI Kalah Pemilu di Ciamis? Begini Hasil Riset DN Aidit
Menurut Aidit dalam buku berjudul, “Kaum Tani Mengganjang Setan-setan Desa” (1964), kekalahan PKI di wilayah Jawa Barat termasuk di Ciamis karena adanya praktik tuan tanah dermawan.
Maksud tuan tanah dermawan ini yaitu kaum borjuis penguasa ladang, kebun, dan sawah yang mempekerjakan petani dengan sistem upah tinggi. Hal ini berbeda dengan tuan tanah di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali yang memberi upah rendah pada petani.
Para petani yang hidup di daerah Jawa Barat justru sejahtera dan sangat jarang mengalami kesulitan dalam hal perekonomian. Adapun semua ini ditengarai oleh seorang tuan tanah dermawan yang terdiri dari kaum terdidik, pejabat negara, dan pemuka agama.
Selain itu kalangan santri mendominasi struktur masyarakat Jawa Barat. Mereka yang jadi petani kebanyakan lulusan pondok pesantren, dan menariknya ketika si santri ini bekerja, ia memilih menjadi penggarap ladang padi milik gurunya sendiri.
Oleh sebab itu, banyak petani yang loyal dengan pemilik sawah. Dari fenomena ini, tidak ada alasan PKI menjadi partai yang menang di daerah Jawa Barat, khususnya wilayah Ciamis.
Baca Juga: Bojong Ciamis Basis PKI yang Memberontak Bupati RAA Sastrawinata Karena Pro Belanda
Karena selain didominasi oleh kalangan santri, para petani di Ciamis juga tahu rasa bersyukur sehingga tidak merasa kekurangan.Lantaran tak merasa kekuaranga, para petani di Ciamis tak punya alasan untuk terjun berpolitik.
PKI Tidak Berdaya Melawan Petani Nyantri di Ciamis
Berdasarkan riset Aidit, PKI tak berdaya melawan petani nyantri di Ciamis. Bagi Aidit mereka begitu kuat untuk dikalahkan.
Eksistensi petani nyantri sangat dominan dalam kehidupan agraris di daerah Ciamis. Maka dari itu sampai akhirnya PKI bubar, partai ini tidak pernah berjaya di bumi Pasundan.
Pengaruh ajengan (tokoh pemuka agama) begitu kuat di daerah Ciamis. Mereka juga tidak hanya diam dalam dunia pendidikan saja melainkan turut aktif dalam hal politik.
Misalnya ketika PKI hendak mengagitasi petani di Ciamis, golongan ajengan pemilik sawah memberikan kemudahan perekonomian para petaninya.
Jadi tidak ada lagi petani yang sengsara, walaupun mereka bekerja di tanah milik orang lain, tetapi kehidupan para petani terjamin.
Berbeda dengan daerah Jawa Tengah dan sekitarnya, selain karena struktur kepemimpinan feodal yang masih kuat, para petani di daerah tersebut juga terbilang sering menghadapi kesulitan ekonomi.
Akibatnya ketika PKI masuk dan menjual program politiknya pada para petani maka mereka dengan mudah menerimanya. Kuncinya adalah kesengsaraan, jadi apabila petani di Ciamis juga ikut sengsara, mustahil mereka tidak terpengaruh oleh agitasi politik PKI.
Namun pola politik yang picik ini mudah ditebak oleh para ajengan di daerah Ciamis. Mereka tidak ingin masyarakat Ciamis jadi “merah” –pengikut PKI. Maka dari itu, jalan satu-satunya yang bisa menyelamatkan adalah menciptakan kesejahteraan kaum tani walaupun hanya sebatas bisa makan, minum enak, dan tidur nikmat.
Baca Juga: Sejarah Pemberontakan PKI 1926, Pelakunya Digantung di Alun-alun Ciamis
DN Aidit Menerapkan Politik Aksi Sepihak, Namun Gagal dan Ditolak Petani di Ciamis
Ketika Aidit mengetahui betapa loyalnya para petani di Ciamis terhadap tuan tanah masing-masing, dalam hati paling dalam ia geram dan mengumpat.
Mengapa bisa petani miskin itu mengabdi pada tuan tanah yang tidak bisa memberikan kesejahteraan ekonomi pada dirinya dan keluarganya?
Aidit selalu berpikir seperti itu, padahal dalam risetnya jelas para petani di Ciamis tidak merasakan kemiskinan yang berarti.
Mereka justru merasa tercukupi dengan hidup yang mengandalkan pada pekerjaan sebagai petani di sawah-sawah milik tuan tanah yang dermawan.
Tak tinggal diam, Aidit terus mencoba untuk menghasut petani di Ciamis. Aidit menyebarkan program aksi sepihak pada masyarakat Ciamis yang belum mempunyai tanah (sawah) sendiri.
Mereka dihasut supaya mengklaim sawah milik majikannya. Aidit menjanjikan keamanan, tidak perlu takut menjadi persoalan yang bisa berakhir di kantor polisi, sebab PKI merupakan partai dominan yang kala itu dekat dengan Presiden.
Jadi apapun yang diagendakan oleh partai berlogo palu arit ini sudah bisa dipastikan aman untuk diikuti.
Namun lagi-lagi mentalitas golongan santri yang dominan di daerah Ciamis tak menggoyahkan keimanan mereka untuk turut serta dengan PKI.
Para petani itu tidak sudi menjadi bagian dari PKI, mereka malah menolak klaim sepihak Aidit. Sebab bagi para petani di Ciamis, bekerja untuk guru sendiri memiliki dua sisi keuntungan –keuntungan secara finansial dan rohaniah. Hal inilah yang membuat PKI kalah di Ciamis pada pemilu 1955. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)