harapanrakyat.com,- Kampung moderasi Kota Banjar yang terletak di Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat memiliki keunikan sendiri, salah satunya posisi masjid dan gereja yang saling berhadapan.
Namun siapa sangka, di balik semua itu ternyata menyimpan kisah menarik tentang kerukunan agama yang terjalin selama puluhan tahun, yakni sejak tahun 1940.
Pendeta Gereja Kristen Jawa Waringinsari Edi Suyitno mengungkapkan, keharmonisan masyarakat setempat dalam memaknai perbedaan sudah terjalin sejak lama.
Menurutnya, meski tempat peribadatan masjid dan gereja yang ada di lingkungan tersebut berdampingan, namun masyarakat setempat bisa hidup saling menghormati dan menjalin kebersamaan dalam berhubungan sosial.
Kerukunan Kampung Moderasi Kota Banjar
Tokoh masing-masing agama di lingkungan tersebut saling mengunjungi satu sama lain. Bahkan, ketika terdapat kegiatan keagamaan warga non muslim maupun warga muslim saling membantu.
Kebersamaan tersebut, lanjutnya, biasa masyarakat setempat terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan terus berlangsung sampai sekarang ini.
“Selama ini dalam melakukan kegiatan kami selalu komunikasi dan saling membantu. Ketika di masjid ini ada kegiatan membutuhkan tempat parkir, kami persilakan memakai halaman gereja dan begitupun sebaliknya,” katanya.
Lanjutnya mengatakan, tempat peribadatan gereja dan masjid yang dibangun berdampingan tersebut sudah ada sejak tahun 1950-an.
Menurutnya, pembangunan dua tempat peribadatan secara berdampingan tersebut tidak bisa lepas dari peran dua tokoh pemuka agama yang hidup pada masa itu.
Kedua tokoh agama tersebut menginginkan agar masyarakat selalu hidup rukun dan menjunjung tinggi toleransi meski berbeda keyakinan.
Sikap toleransi dan kerukunan itu kemudian terus terwariskan sampai saat ini.
“Dari cerita dua tokoh itu dulu seperti sudah ada kesepakatan yang satu membangun masjid yang satu lagi membangun gereja untuk bersama-sama hidup rukun menjunjung toleransi sampai saat ini,” katanya.
Sementara itu, tokoh agama setempat KH. Muhlis menambahkan, kerukunan masyarakat umat beragama di lingkungan setempat sudah terjalin sejak adanya pembangunan masjid dan gereja tersebut.
Ia mengaku selama ini masyarakat yang ada merasa nyaman dan tetap tenang dalam melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan agama masing-masing.
Ia berpesan kepada warga untuk saling menghargai perbedaan, menjaga kerukunan agar harmoni kebersamaan yang telah terbangun sejak dulu bisa langgeng sepanjang masa.
“Selama ini puluhan tahun saya bersama masyarakat di kampung moderasi Kota Banjar ini merasa nyaman menjalankan ibadah. Kerukunan ini sudah berlangsung sangat lama semoga bisa sepanjang masa,” ucapnya. (Muhlisin/R6/HR-Online/Editor: Muhafid)