Asal-usul Candi Borobudur merupakan salah satu sejarah peninggalan dan penyebaran agama Budha di Indonesia.
Pasalnya candi yang dibangun pada masa Dinasti Syailendra ini merupakan candi Buddha terbesar yang ada di dunia.
Kemegahan Candi Borobudur ini sendiri memberikan gambaran bagaimana sejarah perkembangan agama Buddha di Nusantara.
Namun, dibalik kemegahan Candi Borobudur terdapat fakta bahwa candi tersebut pernah dicuri dan dijarah pada masa pemerintahan kolonial. Bahkan aksi ini pun direstui oleh pemerintahan kolonial kala itu.
Baca Juga: Kisah Gubernur Pertama Jawa Barat Digeledah Pejuang Tasikmalaya
Catatan tentang Asal-usul Candi Borobudur
Istilah candi di dalam kebudayaan Indonesia mengacu pada bangunan peninggalan Hindu Buddha.
Bangunan yang dimaksud tidak selalu berupa tempat pemujaan melainkan bisa berupa gapura, gerbang masuknya keraton, hingga pemandian.
Candi Borobudur sendiri merupakan sebuah candi yang bercorak Buddha yang terletak di Magelang, Jawa Tengah.
Nama Borobudur dapat ditemukan dalam buku karya Thomas Stamford Raffles yang berjudul “History of Java”. Buku tersebut memaparkan sebuah bangunan peninggalan Buddha yang bernama Borobudur.
Catatan lain yang mendokumentasikan asal-usul Candi Borobudur adalah Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca yang ditulis pada 1365.
Mengutip sebuah buku yang berjudul. “Kearifan Lokal Jawa Tengah: Tak Lekang Oleh Waktu”, (2022), Candi Borobudur sendiri dibangun di atas sebuah bukit dan dikelilingi oleh dua pasang gunung kembar yaitu, Gunung Sindoro-Sumbing dan Gunung Merapi-Merbabu.
Pada awal penemuan Candi Borobudur, candi ini dipenuhi dengan pohon-pohon dan semak belukar yang menutupinya.
Candi Borobudur di Buku History of Java
Penemuan kembali candi ini dimulai kembali ketika Raffles melakukan kunjungan ke pelosok-pelosok di Pulau Jawa. Karena kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan terutama sejarah membuat ia sangat tertarik ketika menemukan tanda-tanda bangunan Buddha ini.
Sehingga masa kepemimpinannya di Hindia Belanda dalam kurun tahun 1811 hingga 1816 tidak hanya memiliki kepentingan ekonomi dan politik, melainkan juga kepentingan ilmu pengetahuan.
Tidak hanya itu, bangunan bercorak Buddha ini pun terkubur lapisan tanah dan abu vulkanik, sehingga seringkali Candi Borobudur dianggap sebagai sebuah bukit.
Penemuan inilah yang ia tuliskan dalam sebuah bukunya yang berjudul “History of Java”. Buku yang ditulis dengan pendekatan ilmiah ini membedah kebudayaan Jawa termasuk sejarahnya dan menceritakan asal-usulnya Candi Borobudur ditemukan pada masa kolonial Belanda.
Catatan mengenai pemugaran Candi Borobudur baru dilakukan pada kurun waktu 1907 hingga 1911. Pada masa tersebut periode kolonial sudah berganti menjadi masa kolonialisme Belanda.
Pemugaran tersebut dipimpin oleh tim peneliti yang dibentuk oleh Pemerintahan Hindia Belanda. Komisi ini merupakan tim peneliti yang terdiri dari Brandes, Theodoor van Erp dan Van de Kamer.
Namun, khusus untuk pemugarannya sendiri mendapatkan arahan khusus langsung dari Theodor van Erp yang merupakan seorang ahli konstruksi dan bangunan dari Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda.
Ditaksir biaya selama masa-masa pemugaran tersebut memakan biaya sekitar 48.800 Gulden. Akibat anggaran yang terbatas itu, fokus pemugaran hanya pada pembersihan dan perbaikan-perbaikan bagian yang dirasa penting seperti bagian drainase.
Asal-usul Candi Borobudur Konon Dibangun pada Masa Dinasti Syailendra
Masa awal pembangunannya sendiri sebenarnya tidak bisa dibuktikan secara valid. Mengingat terbatasnya sumber-sumber sejarah yang ditemukan.
Waktu pembangunan Candi Borobudur sendiri ditentukan dari aksara-aksara yang ditemukan di kaki Karmawibhangga.
Menurut catatan yang ditemukan tersebut, jenis aksara yang digunakan cocok dengan prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9. Sehingga dapat diperkirakan jika asal-usul candi Borobudur ini dibangun sekitar tahun 800 masehi.
Periode tersebut sendiri dianggap sebagai masa-masa Dinasti Syailendra yang dimulai pada tahun 760 Masehi sampai 830 Masehi.
Pembangunan Candi Borobudur diperkirakan memakan waktu 75 hingga 100 tahun lebih dan baru selesai pada masa pemerintahan Samaratungga, tepatnya tahun 825.
Sebenarnya terdapat perdebatan terkait masa kepemimpinan raja Jawa waktu itu. Apakah yang berkuasa merupakan penganut agama Buddha atau justru agama Hindu.
Perdebatan ini terjadi karena didukung fakta bahwa Dinasti Syailendra merupakan penganut agama Buddha Mahaya yang taat. Namun menurut penuturan dari Prasasti Sojomerto menyatakan bahwa pada awalnya dinasti ini menganut Hindu Siwa.
Namun, jika kita perhatikan corak bangunan khas Buddha sangat kental pada candi ini. Sehingga Candi Borobudur dianggap sebagai candi bercorak Buddha.
Candi Borobudur memang sarat akan makna dalam pembangunannya. Candi ini dibangun dengan model Mandala yang memiliki arti alam semesta. Keyakinan ini sendiri berasal dari ajaran-ajaran dalam agama Buddha.
Candi Borobudur juga dilengkapi dengan empat pintu masuk sebagai jalan masuknya. Secara struktur bangunan ini berbentuk kotak dengan titik pusat yang berbentuk lingkaran.
Ririn Darini dalam, “Sejarah Kebudayaan Indonesia Masa Hindu Buddha”, menuturkan bahwa peneliti Barat membagi bagian candi ini menjadi tiga bagian yaitu, Kamadhatu (kaki candi), rupadhatu (badan candi), dan arupadhatu (lingkaran atas teras candi).
Baca Juga: Cara Unik Memakamkan Jenazah Orang Jawa dalam Buku The History of Java
Pernah Dicuri dan Dijarah
Di balik kemegahan Candi Borobudur dan cerita asal-usulnya ternyata juga menyimpan sejarah kelam tentang penjarahan di masa lalu.
Memang peninggalan-peninggalan Hindu Buddha menjadi salah satu peninggalan yang banyak diburu terutama oleh kolektor barang-barang antik.
Sudah menjadi rahasia umum mengenai praktik jual beli peninggalan ini hingga hari ini. Tidak hanya dalam konteks Candi Borobudur, melainkan bagian-bagian candi lainnya yang ada di Indonesia.
Bahkan aksi jual beli tersebut dilakukan sendiri oleh warga lokal tempat penemuan peninggalan tersebut.
Dari fakta ini dapat kita lihat tingkat kesadaran terhadap peninggalan sejarah masyarakat kita masih tergolong rendah.
Ghautama dkk, dalam, “Rahasia di kaki Borobudur, The Hidden foot of Borobudur” (1989), pada masa kolonial Belanda, aksi penjarahan yang direstui pemerintah pernah terjadi pada tahun 1896. Ketika itu Raja Thailand yang bernama Chulalongkorn berkunjung ke Hindia Belanda.
Ia tertarik terhadap beberapa bagian dari Candi Borobudur dan Pemerintah Hindia Belanda menghadiahkan delapan gerobak yang penuh arca dan bagian Candi Borobudur.
Beberapa bagian yang diboyong itu terdiri dari lima Archa Buddha dan 30 batuan relief, dua patung singa, beberapa batu bentuk kala, tangga, gerbang, dan arca penjaga dwarapala.
Kini beberapa bagian dari hasil penjarahan itu dipamerkan di Museum Nasional Bangkok sebagai bahan edukasi. Tentu hal itu sangat disayangkan. Candi Borobudur yang termasuk 7 keajiaban dunia karena sejarah dan asal-usulnya yang unik, namun beberapa peninggalan arcanya malah berada di negeri orang. (Azi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)