Sejarah program KB (Keluarga Berencana) zaman Orde Baru (Orba) menarik sebagian peneliti sosial untuk mengulas kembali proses implementasinya di masa lalu.
Salah satu hal yang membuat sejarah program KB pada masa Orde Baru ini menarik karena program tersebut bagian dari konsep trilogi pembangunan.
Presiden Soeharto adalah satu-satunya kepala negara di Indonesia yang memasukkan KB jadi program pembangunan. Adapun konsep trilogi pembangunan yang dibentuk oleh pemerintah Orde Baru antrala lain terdiri dari:
Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya agar tercapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, serta; stabilitas Nasional yang sehat dan dinamis.
Menurut Presiden Soeharto program KB bisa membantu negara menciptakan kesejahteraan bangsa. Karena adanya kontrol kelahiran bisa membuat negara lebih konsen memperhatikan kebutuhan rakyatnya agar tercukupi dengan akurat.
Kendati demikian dalam proses penerapannya, KB sering ditentang oleh sebagian golongan yang anti pada alat kontrasepsi.
Bagi mereka KB akan merusak jalannya demokrasi, sebab jika angka kelahiran berkurang maka pemerintah akan kelebihan anggaran.
Baca Juga: Sejarah Operasi Seroja, Operasi Militer Orde Baru ke Timor Timur
Sejarah dan Latar Belakang Program KB Zaman Orde Baru
Pada tahun 1980 pemerintah Orde Baru dengan tegas memulai program KB. Hal ini terjadi karena saat itu kepadatan penduduk di Indonesia mengalami lonjakan yang begitu pesat.
Terhitung sampai bulan Desember 1980 jumlah penduduk di seluruh Indonesia “yang tercatat oleh sensus” mencapai 147 juta jiwa. Keadaan ini terus bertambah hingga tahun 1990 mencapai urutan paling atas, jumlah penduduk di Indonesia mencapai 179 juta jiwa.
Pemerintah Orde Baru khawatir jika lonjakan penduduk terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu, maka hal ini bisa menimbulkan kemiskinan.
Karena tidak ingin melihat rakyatnya menderita, maka Presiden Soeharto bersama jajarannya segera memikirkan jalan keluar. Tak lama kemudian pemerintah Orde Baru mewajibkan rakyatnya ber-KB.
Dengan demikian lonjakan penduduk yang semakin hari semakin tinggi akan segera teratasi. Paling tidak dengan melakukan KB kemiskinan akan berkurang 20 persen dari sebelumnya.
Baca Juga: Kisah Marsinah, Pahlawan Buruh yang Dibunuh pada Era Orde Baru
Cara Orde Orde Baru Sosialisasikan Program KB
Berdasarkan buku yang ditulis oleh Lembaga Publikasi Pendidikan Kebudayaan dan Pembangunan Indonesia berjudul, “Album Pembangunan Indonesia Masa Orde Baru” (1979), pemerintah Orde Baru memberikan sosialisasi KB dengan cara penyiaran visual melalui media televisi pemerintah (TVRI).
Sosialisasi program KB berjejaring ini terus berjalan dari tahun 1980-1990. Terkadang pemerintah juga menyelipkan iklan KB dalam beberapa acara berita dan hiburan di media tersebut.
Tujuannya supaya rakyat tidak lupa untuk ikut mendukung program pemerintah dalam menekan lonjakan pertumbuhan penduduk.
Setelah sosialisasi program KB di televisi terbilang sukses, maka pemerintah Orde Baru melanjutkan realisasi program KB melalui layanan keliling.
Kala itu pemerintah membeli ratusan unit mobil untuk layanan KB keliling. Mobil petugas KB akan berkeliling ke desa-desa untuk mencari penduduk yang antusias dengan program tersebut.
Selain itu untuk mencapai kata sukses paling akurat, pemerintah juga mendatangi tokoh-tokoh agama. Pemerintah mengajak kerja sama dengan tokoh agama dalam hal KB.
Harapannya ketika tokoh agama mendukung program tersebut maka, pengaruhnya akan sangat kuat di kalangan masyarakat luas.
Program KB Jadi Langkah Keluarga Rencanakan Masa Depan
Setelah sosialisasi KB tercapai dengan baik, banyak masyarakat dari berbagai lapisan menginginkan KB untuk merencanakan masa depan keluarganya.
Mereka semakin percaya program KB bisa membuat kehidupan seseorang terjamin –terutama terjamin dalam hal ekonomi. Keluarga yang ber-KB bisa merencanakan kesejahteraan ekonominya agar nanti di masa mendatang tidak mengalami kesulitan.
Baca Juga: Jenderal LB Moerdani, Intelijen Misterius yang Hidup di Era Orde Baru
Begitu juga dengan kebutuhan pendidikan sang anak. Para keluarga yang mendukung KB akan memiliki bekal biaya untuk pendidikan si buah hati, mereka bisa fokus menabung untuk biaya sekolah anak pertama, kedua, dan ketiga.
Tapi jika keluarga yang tidak mengikuti KB, keuangan mereka akan terganggu. Mereka tidak akan memiliki manajemen ekonomi yang baik.
Walaupun ada istilah rejeki di tangan Tuhan, tapi paling tidak dengan melakukan KB rejeki pemberian Tuhan akan semakin terang dan jelas tampaknya.
Maka dari itu program KB jadi langkah paling diminati keluarga untuk merencanakan kehidupan sejahtera di masa depan. Dengan KB keluarga bisa semakin diperhatikan, begitupun dengan kasih sayang keluarga pada si buah hati akan terbagi dengan adil. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)