Catatan sejarah menyebut, Laskar Sabilillah merupakan nama satuan pejuang kemerdekaan yang terkenal paling sadis di wilayah Ciamis, Jawa Barat. Mereka kerap menyiksa musuhnya sampai tak berdaya di depan markas militer Belanda yang sebelumnya sudah dilumpuhkan.
Peristiwa yang melibatkan laskar Sabilillah mengamuk ini terjadi pada tahun 1945-1948. Selain menyiksa tentara Belanda, prajurit laskar Sabilillah juga sering menyandera tentara musuhnya untuk diganti dengan pasokan senjata beserta amunisi.
Banyak tentara Belanda yang takut pada laskar Sabilillah. Selain suka menyiksa tawanan perangnya dengan sadis, mereka juga punya ribuan pengikut yang tersebar di beberapa wilayah Jawa Barat.
Bahkan saking takutnya tentara Belanda pada laskar Sabilillah, mereka menghindari wilayah Ciamis sebagai titik daerah operasi militernya. Padahal beberapa laskar bermarkas di hutan-hutan yang ada di Ciamis.
Baca Juga: Sejarah Perlawanan Umat Islam Ciamis terhadap Belanda, Menginspirasi Bandung Lautan Api
Ketakutan Belanda pada laskar Sabilillah membuat para pejuang gerilya menjadikan Ciamis sebagai basis pertahanan. Mereka menunggu Belanda datang ke Ciamis untuk berperang.
Namun yang mereka tunggu tak kunjung datang, nyali Spartan Belanda mendadak ciut di wilayah bekas kerajaan Galuh.
Sejarah Laskar Sabilillah: Pejuang Republik Tersadis di Ciamis Raya
Melansir koran Kedaulatan Rakjat yang terbit pada 27 Desember 1945 bertajuk, “20.000 Oemat Islam Tjiamis Siap Sedia”, menyebut laskar Sabilillah berasal dari kelompok tentara Islam yang kuat dan militant.
Sifat-sifat militansi yang kuat inilah kemudian melatih prajurit laskar Sabilillah menjadi orang yang sadis. Sebab bagi seorang pejuang militan jika ada darah saudaranya yang tumpah maka wajib hukumnya mencari si pelaku yang menumpahkan darah tersebut.
Setelah ketemu siapa pelakunya maka orang militant akan membalasnya dengan perlakuan yang sama –membunuh si pelaku tanpa kenal ampun.
Laskar Sabilillah yang terkenal sadis ini kemudian sukses menyisir habis markas-markas Belanda yang ada di Ciamis.
Markas-markas tentara Belanda dihancurkan dengan cara dibakar setelah sebelumnya isi gudang peluru dipisahkan ke dalam jeep dan truk. Peluru kemudian dibagikan ke pasukan gerilyawan republik.
Adapun perintah ini sesuai dengan isi rapat akbar sebelum laskar Sabilillah menyapu bersih Ciamis dari orang Belanda. Pemimpin rapat akbar tersebut adalah ketua umum laskar Sabilillah sendiri yaitu seorang Ulama bernama, KH. Abd. Hamid Pangkalan.
Berdasarkan berita dari sejumlah surat kabar terbitan tahun 1945 menyebut KH. Abd. Hamid Pangkalan tak segan memerintahkan santrinya menghabisi tentara Belanda. Hal ini dilakukan agar Belanda segan dengan kekuatan santri, terutama rakyat Indonesia.
Baca Juga: Sejarah Pemberontakan PKI 1926, Pelakunya Digantung di Alun-alun Ciamis
Laskar Sabilillah Mendapat Dukungan Gubernur Jawa Barat
Gubernur Jawa Barat tahun 1945 Samaoen Bakri mendukung penuh cita-cita para prajurit laskar Sabilillah di Ciamis.
Ia bahkan menginspirasi para pejuang republik di wilayahnya agar menciptakan serangan mendadak pada Belanda. Dalam sejarah, peristiwa yang terilhami dari laskar Sabilillah kemudian terkenal dengan sebutan Bandung Lautan Api.
Adapun Gubernur Samaoen membantu prajurit laskar Sabilillah dengan mengambil tugas sebagai koordinator komunikasi. Ia membantu penyiaran informasi pada laskar-laskar republik di Bandung supaya bekerja sama melawan Belanda dengan laskar Sabilillah.
Setelah komunikasi itu terhubung beberapa kompi laskar Sabilillah berpencar, mereka ada yang lari ke arah Jawa Tengah dan Bandung. Bagi prajurit laskar Sabilillah yang lari ke pusat ibukota Jawa Barat, kebanyakan terlibat dalam peristiwa Bandung Lautan Api.
Sedangkan para prajurit laskar Sabilillah yang pergi ke arah Jawa Tengah, mereka sudah pasti ikut bergerilya dengan pasukan Jenderal Sudirman.
Dalam perjalanannya konon laskar Sabilillah dikenal banyak prajurit gerilya sebagai pasukan berani mati. Mereka rela mati karena bangga telah memperjuangkan kepentingan (merdeka) bangsa dan negaranya.
Bagi prajurit laskar Sabilillah kematian adalah hari akhir yang paling dinanti manusia beriman. Menurut sejumlah pendapat sejarawan mengklaim pernyataan di atas merupakan bagian dari komunitas jihad. Mereka berani mati karena kematian saat perang melawan kafir bisa membawanya masuk surga.
Laskar Sabilillah Menyebut Tentara Belanda Kaum Kafir
Semangat jihad pasukan laskar Sabilillah berdampak pula pada sudut pandang prajurit mereka dalam melihat tentara Belanda.
Prajurit laskar Sabilillah kerap men-cap tentara Belanda sebagai kafir. Mereka sangat memusuhi tentara Belanda, bahkan jika ada kesempatan yang tepat, dalam pandangan mereka tentara Belanda harus musnah dari muka bumi.
Baca Juga: Sejarah Perubahan Galuh Jadi Ciamis, Apa Motif Bupati Sastrawinata?
Pernyataan di atas membuat seluruh prajurit laskar Sabilillah berbuat sadis pada musuhnya. Para prajurit laskar tersebut bahkan kerap menyiksa dan mengeksekusi musuhnya karena beranggapan darah seorang kafir halal hukumnya.
Cap Belanda kafir membuat para tentara kolonial khawatir. Mereka takut pada santri dan ulama-ulama di pedesaan Jawa Barat. Tentara Belanda yang dicap kafir bahkan sering mendapatkan teror dari orang tak dikenal.
Teror-teror semacam ini yang membuat tentara Belanda depresi. Bahkan saking depresi dan stresnya tentara Belanda akibat teror-teror kematian dari laskar-laskar rakyat, sampai mereka kabur dan mengasingkan diri dari markasnya.
Para tentara Belanda itu ingin pulang ke tempat asalnya. Namun apalah artinya nasi sudah menjadi bubur, para tentara yang bertugas di Indonesia tidak boleh meninggalkan markas tanpa seizin komandannya, apalagi sampai melarikan diri dan pulang karena kekalahan. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)