Hamengkubuwono V merupakan salah satu Raja Mataram Yogyakarta yang tewas mengenaskan akibat terhunus senjata tajam.
Peristiwa pembunuhan Hamengkubuwono V terjadi di salah satu ruangan Keraton Yogyakarta. Usut punya usut pelaku pembunuhan Hamengkubuwono V merupakan istrinya sendiri yaitu selirnya yang ke-5.
Sang selir pembunuh Hamengkubuwono V itu bernama Kanjeng Mas Hermawati. Menurut sejumlah berita yang mengabarkan kejadian ini konon pembunuhan dilakukan karena sang selir bekerja sama dengan Hamengkubuwono VI untuk merebut tahtanya.
Perebutan tahta ini terjadi karena Hamengkubuwono V masih terlalu muda saat memimpin Kesultanan.
Baca Juga: Sejarah Kusir Andong di Yogyakarta, Pernah Jadi Profesi Priyayi
Pria tambun pemilik gelar Gusti Raden Mas Gatot Menol ini lahir pada tanggal 24 Januari 1820. Ia merupakan putra mahkota Pangeran Mangkubumi yang wafat pada tahun 1823. Sepeninggal sang ayah Hamengkubuwono V harus menggantikannya di usia yang belum mengerti apa-apa.
Oleh sebab itu terjadi perselisihan di antara keturunan Raja Mataram Yogyakarta. Mereka mencemaskan nasib kerajaan apabila dipimpin oleh Raja yang terlalu muda dan masih belum cukup umur.
Tahta Raja Yogyakarta Hamengkubuwono V Sempat Diambil Alih Belanda
Ketika pihak keraton Yogyakarta memasrahkan kepemimpinan ini pada seorang anak kecil berusia 3 tahun, pihak pemerintah kolonial Belanda kemudian mengambil alihnya.
Belanda menyadari betul betapa tidak akan berjalannya dengan baik apabila struktur pemerintahan lokal dipegang oleh seorang pemimpin yang masih berusia balita.
Waktu tak berselang lama pemerintah Belanda menyerahkan tahta Hamengkubuwono V pada kakek keturunan ayahnya, Hamengkubuwono II. Hal ini dilakukan agar birokrasi Mataram berjalan sesuai dengan kebijakan yang berlaku.
Selain itu Belanda juga berjanji pada trah Hamengkubuwono V akan mengembalikan mahkota kekuasaanya jika ia nanti sudah dewasa dan cukup umur memimpin Mataram.
Ketika Hamengkubuwono II wafat pada tahun 1828, mau tidak mau pemerintah kolonial menyerahkan kembali tampuk kekuasaan Mataram pada putra mahkota –Hamengkubuwono V.
Baca Juga: Abdi Dalem Palawija di Keraton Yogyakarta, Pendamping Raja yang Setia
Akhirnya walaupun usianya belum mencukupi jadi Raja, Belanda secara pasrah mengakui Hamengkubuwono V sebagai pemimpin Mataram Yogyakarta yang baru. Dari sinilah kemudian persoalan-persoalan serius di Kasultanan Yogyakarta baru dimulai.
Raja Yogyakarta Hamengkubuwono V Fokus pada Sektor Budaya Keraton
Menurut tayangan sejarah di kanal Youtube channel @adainfo berjudul, “Tragedi Hamengkubuwono V, Sultan yang dibunuh Selir Kesayangannya”, dalam pemerintahannya, Hamengkubuwono V cenderung mencari aman dengan Belanda.
Tidak seperti kebanyakan Raja-raja pada umumnya, Hamengkubuwono V tidak mengurus suksesi kekuasaan melawan kebijakan kolonial, ia justru sebaliknya. Hamengkubuwono V cenderung menjadi pembantu Belanda yang manutan.
Hal ini terlihat dari cara Hamengkubuwono V menerapkan beberapa program kerjanya yang fokus pada sektor budaya Keraton. Ia tidak mengurus politik, sosial, ekonomi, baginya sektor tersebut bisa diurus oleh Belanda karena Hamengkubuwono V begitu percaya dan menurut pada birokrasi kolonial.
Sultan Yogyakarta ke V ini bahkan menyepakati kerjasama dengan Belanda mengenai hak dan kewajiban kolonial untuk mengintervensi politik swapraja di lingkungan Mataram. Kebijakan tersebut dinilai absolut dan merugikan rakyat dan Keraton.
Namun karena pengetahuan yang terbatas mengenai pemerintahan, Hamengkubuwono V seolah tidak merasa telah terjadi apa-apa walaupun pada kenyataannya keadaan birokrasi Mataram mengarah pada kehancuran.
Bahkan ketika Belanda diam-diam mencampuri pemerintahan Mataram, Hamengkubuwono V malah sibuk dengan pertunjukan wayangnya. Menurut sejumlah sumber selama menjabat jadi Raja Yogyakarta, Hamengkubuwono V mengadakan 5 kali pertunjukan wayang termegah se –tanah Jawa.
Selain itu ia juga dikenal sebagai tokoh budaya pencipta tarian serimpi. Ketika Hamengkubuwono V bertahta kesenian keraton didominasi oleh tarian serimpi beragam gerak, variatif dan menggugah selera budaya orang Jawa secara luas.
Baca Juga: Sejarah Sultan Sugih: Hamengkubuwono VII, Raja Paling Kaya
Pemerintahan Hamengkubuwono V Menuai Banyak Kritik
Karena condong menuruti apapun yang diinginkan oleh Belanda, pemerintahan Hamengkubuwono V menuai banyak kritikan.
Salah satu tokoh yang mengobarkan kritik untuk pemerintahan Hamengkubuwono V tidak lain kakaknya sendiri yaitu, Gusti Raden Mas Mustojo, ia merupakan putra ke-12 Hamengkubuwono ke IV.
Konon Raden Mas Mustojo punya keterkaitan erat dengan kematian Hamengkubuwono V. Selir ke-5 Sultan Menol ini telah bekerja sama untuk menumbangkan pemerintahan Hamengkubuwono V. Ia juga berniat mengganti tampuk kepemimpinan Mataram dengan Raden Mas Mustojo sebagai Sultan ke VI.
Adapun pembunuhan yang telah direncanakan sebelumnya itu terjadi pada tanggal 5 Juni 1855 di salah satu ruangan Keraton Yogyakarta. Sepeninggal Hamengkubuwono V pihak keraton menutup ketat kasus pembunuhan tersebut.
Mereka hanya menyebutkan Hamengkubuwono V wafat dalam keadaan Wrengsaketi Tresno atau “mati di tangan yang dicintai”.
Menariknya ketika Hamengkubuwono V wafat, permaisuri Ratu Sekar Kedaton (Istri pertama HB V) sedang hamil besar. Ketika anak Hamengkubuwono V lahir, sang permaisuri menamainya dengan Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad.
Ketika dewasa Ratu Sekar Kedaton menuntut keraton supaya mengangkat anaknya jadi Sultan ke VI. Namun, karena kekuataan Raden Mas Mustojo lebih tinggi, akhirnya ia yang diangkat menjadi Hamengkubuwono VI.
Karena tak setuju dengan kesepakatan tersebut, Ratu Sekar Kedaton beserta Raden Mas Kanjeng Gusti Timur dicap sebagai pemberontak. Sebagai hukuman, mereka berdua diasingkan sampai meninggal dunia di Manado, Sulawesi Utara. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)