Perwari (Persatoean Wanita Repoeblik Indonesia) merupakan organisasi independen perempuan yang bersifat non-politik. Perkumpulan kaum hawa yang berpusat di kota Solo ini memiliki visi dan misi membantu kemerdekaan Indonesia melalui semangat kemanusiaan.
Oleh sebab itu banyak di antara anggota Perwari yang menjadi aktivis kemerdekaan di bidang pengadaan logistik.
Mereka turun langsung ke medan perang tanpa senjata dengan tugas utamanya, memenuhi asupan gizi para pejuang melalui pembentukan dapur darurat.
Karena keberanian dan keikhlasan dalam perjuangan kemerdekaan ini Perwari dianggap sebagai organisasi pengayom kehidupan.
Maka dari itu tak jarang ada yang menyamakan Perwari dengan organisasi bersifat keibuan. Akibatnya beberapa literasi menganggap jika hari berdirinya Perwari sama seperti peringatan hari ibu karena orientasi organisasinya yang menciptakan keteduhan.
Adapun Perwari resmi berdiri pada tanggal 22 Desember 1945. Ketika organisasi ini berdiri struktur kepengurusannya diisi oleh kaum elit perempuan Jawa. Mereka menjadi bagian dari Perwari karena organisasi ini cocok dengan pemikiran wanita Jawa yang berbudaya.
Semangat Perwari untuk memperoleh kemerdekaan Indonesia patut dicontoh oleh generasi perempuan hari ini.
Betapa tidak mengagumkannya Perwari ketika ada yang menyebutnya sebagai organisasi wanita satu-satunya di Indonesia yang murni menjunjung perdamaian. Berbeda dengan organisasi wanita lainnya yang bersifat konfrontatif, Perwari adalah perkumpulan wanita yang anti peperangan.
Sejarah Organisasi Perempuan Perwari, Diisi Kaum Elit: Simbol Kejayaan Perempuan Jawa
Menurut Galuh Ambar S dalam Jurnal Lembaran Sejarah, Vol. 18, No. (1) 2022 berjudul, “Gejolak Awal Gerak: Perwari dalam Kemelut Revolusi Indonesia”, struktur organisasi Perwari didominasi oleh kaum elit –ningrat Jawa yang terdiri dari, Gusti Nurul –kembang pergerakan dari Keraton Mangkunegaran, Solo.
Kedudukan Gusti Nurul dalam Perwari yaitu menjadi Ketua Bagian Sosial. Tugasnya mengintai kesulitan ekonomi masyarakat akibat darurat perang.
Gusti Nurul akan menerjunkan kadernya untuk menolong atas kesulitan tersebut. Biasanya mereka mendapat biaya dari kas organisasi.
Perwari menyimpan banyak uang kas, hal ini tidak lain karena kebanyakan pengurus berasal dari golongan elit yang kaya raya.
Tidak hanya Gusti Nurul, Perwari juga memiliki kader perempuan elit terkenal seperti, Maria Ulfah Santosa, Soewarni Pringgodigdo, Moedjani, S.K. Trimoerti, Mangoen Poespito, Soesilowati, dan Soeprapti.
Saking kelebihan dana dalam organisasinya, Perwari nekad membiayai kebutuhan logistik para pejuang kemerdekaan di hutan-hutan gerilya. Pengalaman ini sebagaimana mengutip pernyataan Galuh (2022) berikut:
“Mereka secara kolektif mengusahakan berbagai kebutuhan logistik untuk Front Republik Indonesia. Mulai dari nasi bungkus, Jadah Tempe, Ikan Asin, Srundeng, dan aneka makanan kering lainnya. Selain itu Perwari juga menggunakan dana lebih organisasi untuk membentuk badan pekerja yang bertugas menyiapkan kongres”.
Adanya kaum elit dalam organisasi Perwari tidak lain adalah simbol dari kejayaan perempuan. Melalui Perwari, Gusti Nurul dan kawan-kawan berhasil menunjukan eksistensi kaum hawa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Organisasi Perempuan Perwari Membekali Kaum Hawa Materi Bela Negara
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, Perwari bukan organisasi politik akan tetapi sebuah perkumpulan kaum hawa yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini terlihat saat Perwari membekali pejuang kemerdekaan dengan materi bela negara.
Tidak saja mengurus logistik di medan tempur, kader Perwari juga ditugaskan menjadi pendoktrin para pejuang republik untuk menjunjung perdamaian.
Adapun doktrinasi bela negara yang mereka lakukan meliputi beberapa pemahaman dasar seperti, apa pengertian bela negara, bagaimana cara kerja (fungsi –manfaat) dari bela negara, dan mengapa harus paham materi bela negara?
Kader Perwari tak lelah memberikan sosialisasi bela negara pada setiap pejuang untuk mendapatkan perdamaian. Sebab dalam materi bela negara banyak diajarkan teori-teori tentang diplomasi.
Artinya bela negara bukan berarti meyakini negara kita yang paling benar dan karena itu harus diperjuangkan mati-matian, tetapi berpikir tentang bagaimana seharusnya negara kita bisa bekerjasama dan terbuka dengan negara luar. Intinya bela negara yang Perwari maksud adalah cara-cara menciptakan perdamaian dunia.
Karena konflik tak kunjung selesai, maka pada tahun 1946 Perwari memutuskan bergabung dengan laskar Persatoean Perdjoeangan. Hal ini bermaksud agar Perwari bisa menyentuh lebih dekat kesulitan-kesulitan diplomasi antara pejuang republik dengan tentara Belanda.
Melalui laskar Persatoean Perdjoeangan, Perwari mempertemukan dua pihak yang saling bertentangan supaya menunggu hasil diplomasi antara tokoh Indonesia dan Belanda.
Apapun hasilnya kedua belah pihak harus saling menerima. Semua ini dilakukan semata-mata untuk mendapatkan keadilan yang seimbang.
Mengajak Organisasi Wanita Lain Gabung Persatoean Perdjoeangan
Supaya tidak ada pertentangan lebih jauh lagi antara pihak Belanda dengan organisasi perempuan Indonesia, maka Perwari mengajak organisasi perempuan tersebut bergabung dengan Persatoean Perdjoeangan.
Tujuannya tentu untuk menyatukan kekuatan sesama organisasi perempuan di Indonesia. Namun yang lebih penting adalah menyatukan untuk mendapatkan keseimbangan suara –agar tidak konfrontatif, supaya mendapatkan suara bulat yaitu menunggu hasil diplomasi.
Adapun beberapa organisasi wanita di Indonesia yang Perwari ajak gabung ke dalam Persatoean Perdjoeangan terdiri dari, PPPI (Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia), Wanita Kristen Indonesia (WKI), dan Partai Katolik Repoeblik Indonesia (PKRI).
Ajakan Perwari pada perkumpulan wanita Indonesia ke dalam satu suara –Persatoean Perdjoeangan sudah dari dulu, tepatnya pada saat konferensi wanita Indonesia pada 25-26 Februari 1926 di Solo.
Tidak hanya mengajak organisasi perempuan sekuler, Perwari juga sempat mengundang organisasi wanita agamis seperti Aisjijah, Moeslimat, dan Istri Sedar.
Namun tanpa ada alasan yang jelas, tamu-tamu Perwari dari kaum hawa agamis ini tidak bisa hadir. Entah apa yang menjadi penyebabnya, yang jelas banyak di antara organisasi perempuan Indonesia yang menolak gagasan Perwari. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)