Senin, April 7, 2025
BerandaBerita BanjarKisah Pensiunan Pegawai Negeri Kota Banjar Dipasung Anak Tiri

Kisah Pensiunan Pegawai Negeri Kota Banjar Dipasung Anak Tiri

Pertengahan September 1931 masyarakat Priangan Timur digegerkan oleh adanya penyiksaan kepada lelaki tua pensiunan Ambtenaar (Pegawai Negeri) di kota Banjar, Jawa Barat.

Kakek yang tak disamarkan namanya itu mengaku telah dianggap gila oleh istri dan anak tirinya sehingga ia dipasung dengan kejam oleh mereka. Konon ini terjadi akibat mereka ingin mendapatkan harta yang berlimpah. Istri dan anak tirinya menunggu si kakek mati agar pensiunan Pegawai Negeri bisa dapatkannya.

Penantian sang kakek mati tidak kunjung datang, istri dan anak tiri yang durhaka mencoba untuk mempercepat kematiannya.

Baca Juga: Kisah Marsinah, Pahlawan Buruh yang Dibunuh pada Era Orde Baru

Mereka kerap menyiksa pensiunan Pegawai Negeri tersebut dengan cara yang sadis. Kadang dipukuli menggunakan benda tumpul atau disiram dengan menggunakan air panas.

Teriakan kesakitan tidak dihiraukan oleh tetangganya, sebab para tetangga rumah laki-laki sepuh ini telah menganggapnya sebagai orang gila. Artinya teriakan-teriakan yang kencang hanya didengar sebagai lolongan laki-laki frustasi yang menjadi gila.

Peristiwa ini menarik perhatian banyak pembaca surat kabar zaman itu. Khususnya masyarakat di Kota Banjar, Jawa Barat misalnya, banyak yang menjenguk dan melihat langsung keadaan si korban setelah polisi kolonial melepaskan dari pasungan istri dan anak tiri.

Pensiunan Pegawai Negeri di Kota Banjar Diberi Makanan Anjing yang Tak Layak Konsumsi

Menurut surat kabar Sin Tit Po yang terbit pada hari Selasa, 22 Desember 1931 berjudul, “Siksaan Hebat Dalem Desa: Seorang Toea Dirante, Dikasi Makanjang Soeda Baoe”, kejamnya anak tiri lelaki tua pensiunan Pegawai Negeri kota Banjar tercermin dari perilakunya saat memberikan makan.

Ia seperti memberi makanan pada anjing untuk sang ayah tiri yang lemas tak berdaya. Makanan tersebut sudah tidak layak dikonsumsi. Keadaan nasi dan lauk sudah bau, bahkan jika makanan itu diberikan pada hewan, anjing sekalipun tidak akan memakannya.

Mirisnya akibat lelaki tua yang terpasung hampir 1 bulan lamanya itu lapar, maka makan bau yang sudah tak layak konsumsi dimakannya dengan terpaksa. Kakek tua yang dulu menjabat sebagai direktur perkebunan ini menjadi hina di hadapan istri dan anak tirinya.

Adapun makanan tidak layak konsumsi itu habis dimakan oleh si Kakek, namun setelah makanan itu sampai ke usus, perut laki-laki sepuh itu bermasalah.

Ia kemudian muntah dan berak secara bersamaan di tempat pemasungan. Melihat kejadian ini istri dan anak tirinya bahagia. Mereka siap menanti detik-detik kematian sang suami dan ayah tiri.

Pensiunan Pegawai Negeri Rubberonderneming Margokarahardjan

Menurut catatan yang tersimpan rapi di lemari si korban pemasungan menunjukan jika dirinya dulu adalah Pegawai Negeri pensiunan Rubberondermening Margokarahardjan.

Berdasarkan kutipan wartawan Sin Tit Po (1931), Rubberonderneming Margokahardjan adalah perkebunan karet yang membentang luas dari Kota Banjar hingga ke arah Padaherang.

Baca Juga: Sejarah Kekerasan Etnis Tionghoa di Malang 1945-1947

Kedudukannya Pegawai Negeri dalam Rubberonderneming sudah tinggi. Pemerintah kolonial memposisikannya sebagai direktur, atau setara dengan petinggi perusahaan milik pemerintah. Maka dari itu harta si kakek tua yang dipasung istri dan anak tirinya itu berlimpah di mana-mana.

Hal ini yang membuat istri dan anak tirinya bertindak di luar batas rasa kemanusiaan. Mereka menyiksa suami dan ayah tirinya untuk mendapatkan harta yang banyak. Pernyataan ini sebagaimana mengutip wartawan Sin Tit Po (1931) berikut:

“Marika ingin saja djadi mati. Saja telah toeroet bantoe waktoe ini onderneming moelai di boeka. Saja poenya hasil saja goenakan boet beli roemah dan tanah. Sekarang marika ingin saja mati soepaya dengen begitoe marika bisa gampang bagi saja punya milik yang saja koempoelkan dengen banyak soesah”.

Diancam Istri dan Anak Tiri Mengaku Gila

Ketika kakek tua pensiunan Pegawai Negeri kebun karet di Kota Banjar didatangi oleh Wedana Banjar-Majenang, ia tergagap menjawab semua pertanyaan si Wedana karena terancam oleh istri dan anak tirinya.

Baca Juga: Kisah Maling Kebal di Bantul 1930, Korbannya Dipukul dan Terhipnotis

Mereka menyuruhnya tutup mulut siapapun yang bertanya tentang kondisi kesehatannya maka harus dijawab bohong. Si kakek lemah tak berdaya ini juga pura-pura harus mengaku bohong kalau dirinya gila.

Namun karena kondisi semakin parah dan lemah, si kakek tak kuat dengan penderitaan ini maka ia katakan jujur pada Wedana kalau dirinya terpaksa pura-pura gila karena takut dibunuh oleh istri dan anak tirinya.

Pernyataan di atas tergambar dalam tulisan wartawan Sin Tit Po (1931) yang saat itu meliput peristiwa tersebut. Berikut cuplikannya:

“Kemoedian istrinja itoe lelakijang di soeka meninjoel dengen bawa satoe toengkat bamboe dengen mana ia antjem itoe lelaki toea boeat dipoekoelin sampe mati apabila ia tida toetoep moeloet. Ia haroes kataken bahoea dirinja benar-benar mengidap gila”. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Arus balik di Jalur Selatan Garut

Arus Balik di Jalur Selatan Garut Minggu Malam Mulai Lancar, Volume Kendaraan Mengarah ke Bandung Berkurang

harapanrakyat.com,- Volume kendaraan arus balik lebaran 2025 yang melintas di jalur selatan Garut, Jawa Barat, pada Minggu (6/4/2025) malam, sudah mulai menurun. Meski masih...
Remaja terseret ombak Pantai Karang Papak Garut

4 Remaja Terseret Ombak Pantai Karang Papak Garut, 1 Orang Tewas 

harapanrakyat.com,- Niat wisata malah jadi malapetaka, empat orang remaja asal Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat terseret ombak pantai Karang Papak Kecamatan Cikelet pada...
Lucky Hakim liburan ke Jepang

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Sindir Lucky Hakim yang Liburan ke Jepang: Bilang Dulu Ya!

harapanrakyat.com,-  Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyentil Bupati Indramayu Lucky Hakim yang liburan ke Jepang saat momen libur lebaran. Tak tanggung-tanggung Dedi Mulyadi mengunggah...
Pemudik arus balik

Potret Lonjakan Pemudik Saat Puncak Arus Balik di Terminal Tipe A Kota Banjar

harapanrakyat.com,- Memasuki H+6 lebaran Idul Fitri 1446 H ratusan pemudik memadati Terminal Tipe A Kota Banjar, Jawa Barat, saat puncak arus balik pemudik pada...
Pasca Banjir, Bupati Sumedang Tinjau Aliran Sungai Cimande Pastikan Jembatan Pangsor Aman

Pasca Banjir, Bupati Sumedang Tinjau Aliran Sungai Cimande Pastikan Jembatan Pangsor Aman

harapanrakyat.com,- Di tengah hujan deras yang mengguyur wilayah Sumedang, Bupati Dony Ahmad Munir turun langsung ke lapangan memantau aliran Sungai Cimande, khususnya di bawah...
Arus Balik Lebaran, Jalur Alternatif Cadas Pangeran Sumedang Jadi Pilihan Pemotor

Arus Balik Lebaran, Jalur Alternatif Cadas Pangeran Sumedang Jadi Pilihan Pemotor

harapanrakyat.com,- Jalur Cadas Pangeran Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, jadi alternatif jalur bagi pemudik motor, yang kembali ke kota asal setelah pulang kampung dari sejumlah...