Pada hari Senin 1 Februari 1965, Sukarno berkunjung ke dua negara sahabat yaitu Burma dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Dalam kunjungan ke Burma dan RRT tersebut ada kisah menarik yaitu tentang standar pengamanan presiden Sukarno yang cenderung santai dan tak menegangkan.
Selama perjalanan ke Burma dan RRT Sukarno tidak dilengkapi pengamanan yang ketat dari Tjakrabirawa dan intelijen militernya. Hal ini terjadi karena Sukarno yakin jika dua negara yang hendak didatanginya begitu pro dan mendukung Indonesia. Adapun tujuan Sukarno yang paling utama berkunjung ke sana yaitu untuk menghimpun kekuatan “anti imperialis”.
Dengan demikian orang nomor satu di Indonesia tersebut merasa percaya diri. Sukarno percaya jika Burma dan RRT sama-sama merasakan pahitnya penjajahan.
Oleh sebab itu kecil kemungkinan jika mereka akan mengkhianati Sukarno yang hendak berkunjung dan membicarakan perjuangan dua negara di atas menuju negara yang merdeka secara utuh.
Baca Juga: Kisah Raja Thailand Sambangi Jakarta Tahun 1960, Disambut Ribuan Rakyat Indonesia
Peristiwa pengamanan yang cenderung santai dan menegangkan ini diceritakan oleh Kepala pengamanan Presiden sekaligus Menteri Luar Negeri yang dekat dengan RRT dan Burma yaitu, (Menlu) Dr. Soebandrio.
Pengamanan Sukarno di Burma dan RRT: Dr. Soebandrio Kerja Ringan
Menurut surat kabar “Duta Masjarakat” yang terbit pada Selasa 2 Februari 1965 bertajuk, “Dr. Soebandrio Melaporkan Hasil Perdjalanannja“, Menlu Soebandrio mengaku santai dan kerja ringan saat mengamankan Presiden Sukarno di Burma dan RRT.
Hal ini terjadi karena hubungan Sukarno dengan dua kepala negara tersebut begitu harmonis. Apalagi sebelumnya mereka bertiga saling surat menyurat, terutama kepala negara RRT menyurati Sukarno agar senantiasa berkunjung ke negaranya untuk mendiskusikan kemajuan dan kemerdekaan negara-negara Asia.
Kedekatan dengan RRT nampaknya terjadi begitu kompleks saat Indonesia dikuasai ideologi kiri. Kala itu Partai Komunis Indonesia (PKI) dekat dengan Sukarno dan sering memberi bisikan supaya politik Indonesia dicampuri dengan semangat perjuangan kiri yang berkiblat ke RRT. Situasi ini nampaknya melatarbelakangi keharmonisan hubungannya negara komunis RRT.
Karena pernyataan di atas Dr. Soebandrio mengaku tak perlu kerja keras mempersiapkan standar keamanan untuk Presiden Sukarno di Burma dan RRT.
Secara politis tidak mungkin Burma dan RRT menusuk Sukarno dari belakang. Mereka bersahabat satu dengan lainnya. Hubungan dua negara berikut begitu harmonis dan non konfrontatif.
Baca Juga: Sejarah Halal Bihalal di Indonesia, Cara Sukarno Damaikan Politisi
Sukarno Mempropagandakan Anti Imperialisme di Burma dan RRT
Mengutip Duta Masjarakat (1965), Sukarno mempropagandakan anti imperialisme di Burma dan RRT dengan cara menghimpun kekuatan di dua negara tersebut untuk menentang Barat.
Hal ini bertujuan untuk membuat dua negara tersebut semakin mendukung keamanan Indonesia yang masih dirongrong oleh negara Barat terutama Belanda dan sekutunya.
Menurut surat kabar tersebut, Sukarno mengatakan sebagai berikut: “Jika kita lengah dengan keadaan politik yang lemah, maka sistem imperialis akan menggerogoti kembali negara yang sudah merdeka”.
Pendapat lain Presiden kita di Burma dan RRT juga berpidato anti imperialisme sebagaimana berikut kutipannya:
“Ditegaskan bahwa tiap-tiap bentuk imperialisme di daerah ini akan melemahkan perdjuangan kita. Lebih karena keadaan politik negara yang lengah, mereka ketjolongan. Karena kaum imperialis hendak mengadu dombakan kita dengan kita”.
Tidak hanya di RRT dan Burma, Sukarno juga dengan berani sering mempropagandakan pandangan tersebut di negara-negara Barat. Seperti halnya ketika ia dekat dengan JFK tahun 60-an.
Sukarno sering memberikan padangan pada orang nomor satu di Amerika Serikat itu agar tidak mendukung sistem imperialis Sekutu. Sebab sistem tersebut bagian dari politik penjajahan yang bisa membuat negara-negara di Asia hancur.
Dari Burma dan RRT, Sukarno Agendakan Berkunjung ke Jepang
Setelah berkunjung ke Burma dan RRT, Sukarno agendakan terbang mengunjungi mantan negara penjajahnya yaitu Jepang.
Dengan sedikit khawatir dan tegang, Sukarno berusaha menenangkan diri di pesawat. Sesekali bertanya pada ajudannya tentang respon negara tersebut saat Indonesian akan datang ke sana.
Baca Juga: Sejarah Kabinet Djuanda 1957, ketika Dewan Menteri Berisi Para Ahli
Sebab Dr. Soebandrio mengaku agak kesulitan memberikan pengamanan kunjungan negara ke Jepang yang akan dilakukan oleh Presiden Sukarno. Karena ada beberapa tokoh di negeri Bunga Sakura itu yang masih kontra Sukarno dan kontra Indonesia. Artinya masih ada segelintir pasukan yang tidak berpihak pada Sukarno.
Maka dari itu Soebandrio mengajak beberapa tokoh Nasional lain untuk mengurus sistem pengamanan Sukarno ke Jepang. Antara lain nama-nama yang diajak oleh Soebandrio terdiri dari PM II Dr. Leimena dan Wakil PM III Chaerul Shaleh.
Mereka berunding mengatur strategi bagaimana caranya agar Sukarno tetap aman secara fisik dan politis ketika datang berkunjung ke Jepang.
Setelah dicari jalannya ternyata Jepang sepakat menerima Sukarno berkunjung ke negaranya asal Indonesia menyepakati pula perjanjian dagang dengan Jepang.
Tak nunggu waktu lama Soebandrio dan kawan-kawan lainnya sepakat setelah sehari sebelumnya melaporkan berita tersebut pada Presiden dan jajaran menterinya di Istana Merdeka, Jakarta. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)