Jenderal Sudirman pernah sholat Idul Fitri di Jakarta tahun 1946. Peristiwa ini menarik perhatian banyak orang karena pada saat itu keadaan Indonesia sedang gawat perang. Belanda yang diboncengi oleh Sekutu memiliki ambisi menguasai kembali negeri jajahannya.
Lantas apa yang menyebabkan Jenderal Sudirman melaksanakan sholat Idul Fitri di Jakarta kala itu? Antara lain sang Jenderal melaksanakan sholat Idul Fitri di sana seiring dengan menghadiri perundingan komisi bersama tanggal 1 November 1946.
Menurut beberapa saksi mata yang ikut bersama sholat Idul Fitri dengan Jenderal Sudirman saat itu mengatakan keadaannya begitu menegangkan. Oleh sebab itu saat Jenderal Sudirman melaksanakan sholat Idul Fitri banyak pejuang yang berjaga.
Baca Juga: Jenderal Sudirman dan Sepak Bola, Pencetak Gol yang Handal
Jajaran prajurit revolusi berjaga ketat di area lapangan Ikada. Jenderal Sudirman melaksanakan sholat Idul Fitri di lapangan Ikada, atau sekarang lapangan Banteng Jakarta. Mereka berjaga di setiap jajar orang yang Sholat dengan senjata lengkap dan siap tembak.
Jenderal Sudirman Sholat Idul Fitri di Jakarta, Tak Takut Merayakan Lebaran pada Masa Perang
Menurut Sardiman A. M. dalam buku berjudul, “Guru Bangsa, Sebuah Biografi Jenderal Sudirman” (2016), Jenderal Sudirman tak takut untuk merayakan Idul Fitri di Jakarta kendati saat itu situasi sedang tegang akibat Agresi Militer Belanda.
Jenderal Sudirman sholat di lapangan Ikada (lapangan Banteng) Jakarta, ia sholat berjejer dengan tokoh intelektual dan jajaran tentara serta pejuang republik. Semua terlihat khusuk tanpa khawatir ada yang terluka.
Kendati Jenderal Sudirman merasa tidak berbahaya sholat Idul Fitri di Jakarta saat itu, para pejuang republik tetap ketat berjaga. Mereka siaga mengamankan panglima besarnya. Jenderal Sudirman harus tetap aman karena ia adalah benteng pertahanan tentara republik.
Adapun alasan Jenderal Sudirman berani melaksanakan sholat di lapangan terbuka Jakarta kala itu karena ia percaya jika kematian hanya ada di tangan Tuhan. Jadi jika belum waktunya dipanggil oleh Tuhan maka kematian tak akan menjemputnya.
Membuat Musuh Jadi Tidak Percaya Diri
Keberanian Jenderal Sudirman sholat Idul Fitri di lapangan terbuka membuat Belanda jadi tidak percaya diri. Belanda semakin khawatir jika tentara di bawah kepemimpinan Sudirman jauh lebih kuat dan berani mati dari pada pasukannya sendiri.
Padahal Sudirman berani melaksanakan sholat Idul Fitri di Jakarta karena sedang ada tugas untuk merundingkan gencatan senjata bersama Belanda.
Kharisma sang Jendral nampak terang, ia mempunyai banyak pendukung yang sewaktu-waktu siap menjadi tumbal perang.
Hal ini membuat Belanda tak percaya diri bisa menaklukan tentara republik. Jenderal Sudirman juga terkenal sebagai panglima perang yang teguh prinsip.
Jenderal Sudirman adalah pejuang bangsa yang berwibawa. Semua pengorbanannya ia perjuangkan untuk kedaulatan negeri dan bangsa.
Baca Juga: Sejarah Jenderal Sudirman, Punya Klub Sepak Bola Sejak Remaja
Apalagi saat Jenderal Sudirman dalam satu pernyataannya tak takut akan kematian. Pernyataan ini membuat Belanda semakin ketar-ketir, ternyata lawan yang ia hadapi bukan “sembarang orang”.
Sudirman adalah pejuang republik dengan tingkat keimanan yang kuat. Dalam perjuangannya Jenderal Sudirman selalu melibatkan keimanan Islam.
Jenderal Sudirman Muslim yang Taat
Kendati beberapa ajudan panglima besar Jenderal Sudirman melarang untuk melaksanakan sholat Idul Fitri di lapangan terbuka, pria bertubuh kurus akibat mengidap penyakit TBC ini tetap kukuh ingin melaksanakan sholat Idul Fitri di lapangan.
Menurut Sardiman A.M. ini merupakan cerminan Sudirman sebagai figur Muslim yang taat. Jenderal Sudirman adalah kader Muhammadiyah dan sejak kecil, remaja, hingga dewasa di didik dengan pengetahuan Islam.
Maka dari itu dalam seluruh kehidupannya ia selalu mengedepankan nilai-nilai Islam. Apapun kondisinya demi menjaga akidah agama yang dianutnya, Sudirman rela jika sewaktu-waktu nyawanya direnggut dalam keadaan perang.
Baca Juga: Iwa Koesoemasoemantri, Menteri Sosial Pertama Kelahiran Ciamis
Sudirman yakin jika Allah SWT akan menolong hambanya yang terus berikhtiar mencari jalan kebenaran. Apalagi perjuangan sang Jenderal tidak berlaku secara individu melainkan juga kolektif.
Perjuangan Jenderal Sudirman adalah perjuangan besar untuk memperoleh kedaulatan negeri. Tujuannya jelas untuk mendapatkan kesejahteraan bersama.
Oleh sebab itu Sudirman percaya jika semakin dalam seseorang menganut Akidah Islam, maka akan semakin kuat pula keamanan untuk dirinya. Dengan kata lain bagi mereka yang memperjuangkan nasib rakyat maka akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.
Fakta ini terjadi pada Sudirman. Beberapa kali ia diteror Belanda untuk dibunuh. Tetapi karena keimanan Islam yang kuat Sudirman tetap lolos dari teror tersebut.
Bahkan sempat sekali ia sudah terkepung, tinggal tangkap. Tapi Belanda tak percaya jika itu adalah Jenderal Sudirman. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)