Kisah Hatim Al Asham patut menjadi contoh bagi umat muslim. Hatim Al Asham memiliki kisah unik yang menyentuh. Berawal dari kisah hidupnya hingga mendapat julukan sebagai si tuli.
Di wilayah Khurasan, terdapat seorang ulama besar dalam bidang tasawuf yang bernama Hatim bin ibn Yusuf. Meski cukup populer dengan sebutan Hatim al-Asham.
Banyak yang mengakui dirinya sebagai ulama terkemuka pada masanya. Namun, uniknya justru memperoleh julukan “si Tuli”. Padahal pendengarannya sebenarnya sangat normal.
Baca Juga: Kisah Imam Bukhari dan Ibunya, Kekuatan Doa yang Luar Biasa
Pemberian julukan tersebut bermula pada saat mendapati kunjungan dari wanita untuk menanyakan perihal perkara. Namun saat tengah bertanya, ternyata wanita tersebut tidak sengaja buang angin.
Kisah Hatim Al Asham yang Berpura-pura Tuli
Abu Abdurrahman Hatim bin Unwan yang cukup populer sebagai sufi masyhur yang berakhlak mulia. Bahkan juga memiliki gelar sebagai Al Asham. Julukan al sham atau “si tuli” tersebut tentu bukan tanpa alasan.
Bahkan mendasari kata al-asham yang menjadikan julukannya, termasuk riwayat Imam Ghazali pada kitab Nashaihul Ibad.
Ada pula yang menyebutnya dengan nama Hatim bin Yusuf. Salah seorang pemuka dari para guru pada Tanah Khurasan serta menjadi murid dari Imam Syaqiq al-Balkhy.
Julukan yang diperoleh tersebut karena puluh tahun lamanya berpura-pura tuli. Ia hanya mencoba menjaga marwah serta perasaan dari seorang wanita.
Sebelumnya yang sempat tidak sengaja kentut di depannya. Kisahnya yang berpura-pura tuli sudah begitu familiar.
Hatim Al Asham Menjaga Aib Seorang Wanita
Sesorang yang mendapat sebutan al-asham atau si tuli akibat suatu kisah yang pernah terjadi pada kehidupannya. Terdapat sebuah kisah Hatim Al Asham yang penuh hikmah mengenai pentingnya menjaga perasaan saudara sesama umatnya.
Suatu hari mendapat kunjungan dari seorang wanita yang ingin menanyakan masalah hukum tertentu padanya. Namun saat sedang bertanya, wanita tersebut tidak sengaja buang angin atau kentut.
Wanita tersebut merasa sangat malu, khawatir jika suara kentutnya akan terdengar oleh Hatim. Oleh karena itu, dengan kelapangan dadanya Hatim memilih berpura-pura Tuli.
Hatim berkata pada wanita tersebut dengan suara lantang seolah olah sulit mendengar suaranya.
Baca Juga: Kisah Hamnah binti Jahsy, Sosok Wanita Mulia dan Pemberani
Ia bertingkah demikian agar wanita tersebut tidak merasa malu. Sebab, tidak mungkin mendengar ada suara kentut dan sebenarnya hanya berpura-pura tuli.
Wanita tersebut menjadi merasa cukup lega, dengan menganggap suara kentutnya yang tidak terdengar. Saat rasa malu yang dirasakan mulai pudar. Kemudian kembali mengulang pertanyaan pada Hatim.
Kisah Hatim Al Asham yang Mendapat Julukan Si Tuli
Hatim terus mencoba berpura-pura tuli. Hal tersebut agar menjaga rasa malu dan aib dari wanita tersebut. Bahkan terjadi selama hidup hingga kurang lebih 15 tahun lamanya.
Sejak saat itu hingga wanita tersebut meninggal, tetap berusaha untuk berbicara dengan suara sedikit lantang. Berita terkait Hatim al-Asham seorang yang tuli menjadi tersebar luas. Ia menjadi terkenal pada kalangan masyarakat.
Sejak kisah tersebut memilih menjadi orang yang berpura-pura tuli untuk menjaga perasaan wanita tersebut. Kisah tersebut yang mendasari Hatim Al Asham mendapat julukan “Al-Asham” atau si tuli.
Kisah yang Patut Diambil Pelajaran
Julukan Al-Asham menjadi identitas yang melekat untuk ulama sufi terkemuka tersebut. Pemberian gelar untuk Hatim selama 15 tahun agar bisa melindungi martabat wanita hingga meninggal dunia. Kisah Hatim Al Asham lebih memilih untuk berpura-pura tuli.
Hatim yang terlahir di Balkh ini menjadi murid Syaqiq al-Balkhi. Imam Al Ghazali juga meriwayatkannya pada salah satu kitabnya. Hingga akhirnya Hatim wafat di Baghdad, Irak, tepatnya pada tahun 852 M atau 237 H.
Baca Juga: Kisah Abu Dujanah dan Pohon Kurma Membuat Rasulullah Menangis
Salah satu kisah yang perlu Anda jadikan sebuah pelajaran untuk menjalani kehidupan sebagai makhluk sosial. Kisahnya mengenai menjaga perasaan. Terkadang tidak sengaja maupun sengaja mengatakan hal yang mungkin menyakiti hati sesama muslim.
Agama Islam yang melarang untuk menyakiti hati saudara seagama dan juga berbeda agama. Islam juga menjaga kehormatan setiap individu umatnya sehingga tidak mendapat intimidasi atau pelecehan oleh orang lain.
Kisah Hatim Al Asham yang berpura-pura tuli agar bisa menjaga aib orang lain. Umat muslim bisa memetik pelajaran berharga dari kisah tersebut. (R10/HR-Online)