Sabtu, April 5, 2025
BerandaBerita TerbaruKala Iklan Rokok Tahun 1930 Disusupi Agenda Politik Westernisasi Kolonial

Kala Iklan Rokok Tahun 1930 Disusupi Agenda Politik Westernisasi Kolonial

Sejarah iklan rokok tahun 1930 tampaknya menarik perhatian banyak penggila tembakau di Indonesia. Banyak kisah lampau yang tersembunyi dan tidak diketahui masyarakat awam tentang pentingnya rokok bagi pemerintah kolonial zaman dulu.

Salah satu kisah menarik dari lintingan kretek Nusantara antara lain dapat dilihat dari iklan rokok. Melalui promosi pemasaran produk kretek yang kerap terbit dalam surat kabar ternyata ada politik westernisasi pemerintah kolonial.

Pemerintah Belanda ingin menyebarkan paham-paham Barat pada rakyat pribumi melalui iklan rokok. Selain itu dengan iklan rokok yang menarik dan menggelitik ini orang Belanda juga ingin mengadu produk rokok miliknya dengan milik pribumi.

Artinya selain ada kepentingan politik, dalam iklan rokok juga ada kepentingan ekonomi. Memang pada hakikatnya iklan rokok tersebut dibuat untuk kepentingan pemasaran, atau lebih tepatnya menarik perhatian konsumen agar berlangganan. Namun pada kenyataannya tidak hanya itu, fungsi iklan rokok tahun 1930 beragam kepentingan.

Baca Juga: Sejarah Iklan Rokok, Wanita sebagai Daya Tarik Penjualan

Menurut sejarah kretek Nusantara, adanya iklan rokok yang kreatif pada tahun 1930 menandakan dimulainya modernisasi visual dalam proses produksi. Hal ini terlihat dari penggunaan headline, body copy, harga, identitas, dan signature slogan.

Bagi pemilik usaha kretek, iklan rokok merupakan daya tarik yang menduduki posisi penting dalam pemasaran. Artinya semakin kreatif dan unik pabrik rokok membuat iklan, maka semakin laris dan legendaris pula hasil produksinya.

Iklan Rokok Tahun 1930 Mengandung Unsur Westernisasi Kolonial

Menurut Yuhana Setianingrum dalam Jurnal Lembaran Sejarah, Vol. 9, no. (2) 2012 berjudul, “Kreativitas dalam Desain Iklan Rokok di Jawa, 1930-1970”, iklan rokok tahun 1930 mengandung unsur westernisasi kolonial.

Hal ini terlihat dari adanya figur-figur Barat yang menempel jadi karikatur iklan dan bungkus rokok. Para pengusaha kretek asal Belanda sengaja diperintah kolonial untuk mencantumkan figur Barat agar jadi simbol jika orang Belanda mampu menguasai ekonomi rakyat pribumi.

Menariknya tidak hanya dalam kemasan rokok, figur Barat juga sering dijumpai oleh masyarakat pribumi zaman dulu dalam buku bacaan seperti komik. Dalam komik banyak dijumpai tokoh-tokohnya berasal dari orang Eropa, salah satunya ada tokoh Three MusketeersDrie Musketiers.

Namun belakangan baru ditemukan jika tokoh Drie Musketiers –tiga sekawan yang memiliki rupa orang Eropa juga ada dalam kemasan cerutu. Hal ini menandakan jika produk rokok tahun 1930 tak lepas dari kuatnya pengaruh westernisasi kolonial.

Baca Juga: Pasar Betawi Tahun 1922, Sentral Kopi Robusta Palembang Langganan Kolonial

Membangun Simbol-Simbol Modernisasi

Seiring dengan berkembangnya zaman iklan rokok semakin beragam. Misalnya ketika tahun 1950 iklan rokok mengalami banyak kemajuan. Produksi bungkus rokok menampilkan gambar berbentuk foto. Begitu pun dengan iklan rokok, semua mulai menggunakan hasil potret.

Berbeda dengan tahun 1930, iklan rokok pada tahun 1950 dianggap jadi simbol modernisasi periklanan. Terutama dalam bentuk industri rokok, iklan kretek yang menggunakan foto di koran-koran jadul melambangkan eksistensi produksi rokok yang tak pernah padam.

Sama seperti pada tahun 1930 –iklan rokok yang kreatif sebagai perlambang westernisasi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, maka pada tahun 1950 iklan rokok dengan visualisasi lebih jelas dari hasil potret melambangkan simbol kemajuan zaman.

Pada intinya pabrik atau pengusaha-pengusaha rokok di seluruh Indonesia kala itu ingin menyampaikan kalau industri kretek terus mengimbangi zaman. Produksi kretek terus berjalan dan tidak akan pernah padam.

Pernyataan ini terbukti hingga sekarang, walaupun kemasan rokok menyeramkan, masih banyak konsumen yang tak menghiraukannya.

Baca Juga: Sejarah Kecu, Rampok Sadis di Hutan Purworedjo Tahun 1922

Iklan Rokok Membangun Citra Perempuan Erotis

Setelah tahun 1950 iklan rokok dicerminkan sebagai simbol modernisasi, berbeda halnya ketika iklan rokok diproduksi pada tahun 1970. Menurut Yuhana Setianingrum (2012), iklan rokok pada tahun itu mencerminkan citra perempuan yang erotis.

Iklan rokok tahun 1970 yang mengangkat tema perempuan erotis bertujuan untuk menarik banyak perhatian konsumen.

Saking pentingnya visualisasi iklan ini, rokok kala itu diibaratkan sebagai simbol kejantanan seorang pria, artinya ketika sosok laki-laki merokok maka ia dianggap sudah dewasa dan sudah matang untuk menaklukan hati perempuan.

Iklan rokok dengan model perempuan erotis saat itu dipandang sebagai praktik patriakis yang kental di kalangan laki-laki Indonesia. Hal ini juga tak terlepas dari suasana setelah revolusi, kaum laki-laki lah yang menonjol ketimbang golongan perempuan.

Sampai detik ini teori di atas masih berfungsi, rokok seolah jadi simbol milik laki-laki, maka dari itu jika ada perempuan yang merokok ia akan dianggap menyalahi norma yang berlaku.

Padahal pada hakikatnya rokok tidak baik untuk kesehatan, namun karena norma yang berjalan tidak seimbang maka rokok tetap ada dan laris di pasaran. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Maxime Bouttier Melamar Luna Maya, Cinta Bersemi di Bawah Bunga Sakura

Maxime Bouttier Melamar Luna Maya, Cinta Bersemi di Bawah Bunga Sakura

Maxime Bouttier melamar Luna Maya belum lama ini. Kabar bahagia datang dari pasangan selebriti ternama Tanah Air. Maxime Bouttier resmi melamar kekasihnya, Luna Maya,...
Idul Fitri, Disnaker Ciamis Kembali Buka Pelayanan Selasa 8 April 2025

Idul Fitri, Disnaker Ciamis Kembali Buka Pelayanan Selasa 8 April 2025

harapanrakyat.com,- Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Ciamis, Jawa Barat, memberlakukan penutupan operasional pelayanan. Baik itu pelayanan...
Polres Ciamis Terapkan Rekayasa Lalu Lintas One Way Parsial di Simpang Tiga Sindangkasih

Polres Ciamis Terapkan Rekayasa Lalu Lintas One Way Parsial di Simpang Tiga Sindangkasih

harapanrakyat.com,- Dalam rangka operasi ketupat Lodaya tahun 2025, Polres Ciamis, Jabar, berlakukan sistem one way parsial di Simpang Tiga Sindangkasih Kabupaten Ciamis, pada Jumat...
Puncak Arus Balik, Jumlah Penumpang Bus di Terminal Garut Mulai Alami Peningkatan

Puncak Arus Balik, Jumlah Penumpang Bus di Terminal Garut Mulai Alami Peningkatan

harapanrakyat.com,- Lonjakan penumpang di terminal pemberangkatan bus Guntur Garut, Jawa Barat, mulai terlihat sejak Sabtu (5/4/2025) pagi. Hingga H plus 3. Petugas mencatat sudah...
Mengembalikan Chat Telegram yang Terhapus, Gunakan Fitur Undo

Mengembalikan Chat Telegram yang Terhapus, Gunakan Fitur Undo

Telegram adalah salah satu aplikasi perpesanan instan yang populer dengan berbagai fitur canggih. Namun, terkadang pengguna mengalami masalah kehilangan chat secara tidak sengaja. Jika...
Warga di Kota Banjar Keluhkan Tanah Bekas Galian Pipa Pertamina, Minta Segera Diperbaiki

Warga di Kota Banjar Keluhkan Tanah Bekas Galian Pipa Pertamina, Minta Segera Diperbaiki

harapanrakyat.com,- Warga di Kota Banjar, Jawa Barat, mengeluhkan bekas galian pemasangan pipa Pertamina di wilayah Sukarame, Kelurahan Mekarsari tepatnya di Jalan Kapten Jamhur sebelum...